Oleh: Wafi Marzuqi Ammar, Ph.D

 

Assalamu ‘alaikum Ustadz,  mau tanya ini dari teman:

Klo surat yasiin dibaca pas malam jumat itu hukumnya apa? Soalnya saya masih suka melakukan. pesan dari Mama kirimin buat bapak yg meninggal.

 

Jawab:

Alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh,

Segala puji hanya milik Allah, dan shalawat beriring salam semoga senantiasa tersampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Amma ba’du:

Pertama: Untuk membaca surat Yasin pada malam Jumat. Ada sebuah Hadis yang berbunyi:

((مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ (يس) فِيْ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ؛ غُفِرَ لَهُ))

“Barangsiapa membaca surat Yasin pada malam Jumat niscaya diampuni dosanya.”

Sayangnya Hadis ini dhaif jiddan atau sangat lemah. Karena terdapat cacat pada dua perawinya. Perawi pertama adalah Aghlab bin Tamim, menurut Ibnu Hibban dia seorang munkarul Hadis menurut Ibnu Hibban. Perawi kedua adalah Zaid bin Al-Huraisy, dia seorang yang Majhulul Hal menurut Ibnul Qaththan. Yakni seseorang yang tidak diketahui identitasnya.[1]

Karena Hadisnya dhaif, berarti penisbatannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak benar. Jika tidak benar maka tidak patut diamalkan. Sebab apa pun amalan yang bukan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah ditolak. Beliau bersabda:

((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ))

“Barangsiapa melakukan amalan yang tidak berdasar perintah kami maka amalan itu ditolak.”[2]

Berdasarkan Hadis ini para ulama’ mengatakan:

(اَلْأَصْلُ فِي الْعِبَادَاتِ الْحَظْرُ إِلَّا مَا وَرَدَ عَنِ الشَّارِعِ تَشْرِيْعُهُ)

“Ibadah pada dasarnya haram dilakukan, kecuali ada syariat (perintah) dari sang pemberi syariat.”[3]

Kedua: Yang disyariatkan untuk dibaca pada malam Jumat adalah surat Al-Kahfi. Dalam hal ini terdapat Hadis dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

((إِنَّ مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ)).

“Sesungguhnya siapa pun yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat maka ada cahaya yang bersinar untuknya di antara dua Jumat.”[4]

            Juga dalam Hadis lain:

((مَنْ قَرَأَ سُوْرَةَ اْلكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّوْرِ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيْقِ))

“Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada malam Jumat, maka ada cahaya yang bersinar untuknya antara dirinya dengan Al-Bait Al-Atiq (Ka’bah).”[5]

Ketiga: Hal mengirimkan pahala amal shalih untuk mayit, para ulama’ sepakat bahwa hal itu sampai kepadanya. Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang jenis amal shalih yang bisa dihadiahkan pahalanya kepada si mayit.[6] Adapun pendapat Imam Ahmad dan imam Abu Hanifah maka seluruh amal shalih bisa dihadiahkan pahalanya kepada si mayit, selama meninggal dalam kondisi muslim. Sedangkan pendapat imam Asy-Syafii dan imam Malik, amal shalih yang bisa dihadiahkan pahalanya hanyalah sadaqah dan haji saja.[7]

Namun menurut kami, yang benar adalah pendapat imam Ahmad dan imam Abu Hanifah. Yaitu seluruh amal shalih bisa dihadiahkan pahalanya kepada si mayit, meski berupa bacaan Al-Quran, dzikir, shalat, maupun puasa.

Dalil hal ini adalah Hadis Abu Qatadah yang membayarkan hutang si mayit.  Padahal Abu Qatadah bukan apa-apa si mayit. Ketika Abu Qatadah sudah melunasi hutangnya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun bersabda:

((الْآنَ بَرَدَتْ عَلَيْهِ جِلْدُهُ))

“Sekarang kulit si mayit ini telah menjadi dingin (tenang).”[8]

Ini adalah dalil qiyas. Karena pahala amal shalih adalah murni milik pelaku. Jika dia memberikan pahalanya kepada saudara muslim maka hal itu tidak dilarang. Sebagaimana tidak dilarangnya Abu Qatadah dalam melunasi hutang si mayit. Jika pahala yang maknawi dikatakan “tidak sampai kepada si mayit” tentu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan bahwa hutang si mayit tidak lunas, karena uangnya bukan dari si mayit sendiri, tapi dari Abu Qatadah.[9]

Di sisi lain, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga menegaskan bahwa bacaan Al-Quran, juga ibadah-ibadah badan lainnya, bisa sampai kepada si mayit, melalui sampainya pahala puasa yang dilakukan orang hidup untuk orang mati. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

((مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ))

“Barangsiapa meninggal dan memiliki kewajiban puasa, maka ahli warisnya berpuasa untuknya.”[10]

            Hadis ini sangat jelas menyatakan, bahwa puasa yang menjadi tanggungan mayit, bisa dilunasi ketika ahli waris berpuasa untuknya.

Adapun penjelasan bahwa Hadis ini menjadi dalil bisa dihadiahkannya ibadah badan kepada mayit, seperti shalat, puasa, dan bacaan Al-Quran adalah sebagai berikut:

Sesungguhnya puasa adalah menahan diri dari pembatal-pembatal puasa, disertai dengan niat. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyatakan, puasa bisa sampai pahalanya kepada si mayit. Maka bagaimana dengan bacaan Al-Quran, atau shalat, atau dzikir, yang itu berupa perbuatan yang disertai niat?!

Maksudnya: Jika puasa yang berupa meninggalkan perbuatan disertai niat saja diterima oleh Allah, maka bagaimana dengan amal perbuatan yang juga disertai niat?! Tentu lebih diterima lagi.[11]

Dan sebetulnya tidak ada perbedaan antara ibadah badaniyah (berupa alaman badan) dengan ibadah maaliyah (berupa harta). Mari kita lihat pada ibadah haji. Haji adalah ibadah badan. Harta bukan rukun pada haji ini, tapi sekedar sarana. Tidakkah anda melihat penduduk Makkah, jika dia mampu berjalan menuju Arafah, maka ia tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Inilah pendapat yang rajih insya Allah. Bahwa haji adalah ibadah badan murni, bukan ibadah harta dan badan. Karena harta hanya bersifat sarana.

Juga lihat perbuatan yang sifatnya fardhu kifayah. Mana mungkin sebagian kaum muslimin yang mengerjakan suatu amal, bisa mewakili kaum  muslimin yang lain. Seperti shalat jenazah. Bukankah shalat adalah ibadah yang sifatnya badan. Jika dikatakan shalat tidak sampai pahalanya, tentu shalat jenazah tidak bisa mewakili kaum muslimin lainnya yang tidak ikut shalat jenazah.[12]

Keempat: Orang-orang yang menolak sampainya pahala amal shalih kepada mayit, biasa berdalil dengan surat berikut:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39)

            Ayat ini tidak menolak jika mayit bisa mengambil manfaat dari orang lain. Ayat ini hanya menolak jika suatu amal shalih dimiliki selain pelakunya. Tentunya di antara dua perkara ini sangat jelas perbedaannya.

Allah menjelaskan bahwa seseorang tidak  memiliki kecuali apa yang dia kerjakan. Adapun amal shalih yang dikerjakan orang lain maka menjadi milik orang lain dan bukan menjadi milik kita. Tapi jika pahala yang sudah menjadi milik kita, jika kita hendak memberikannya kepada orang lain maka bisa sampai. Atau kita tidak memberikannya kepada siapa karena kita mengerjakannya untuk diri kita sendiri.

Firman Allah ta’ala berikut:

(أَلَّا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى (38) وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى (39

“Bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 38-39)

Ini adalah dua ayat yang muhkam. Keduanya menunjukkan betapa Maha adil Allah ta’ala itu. Yang pertama menetapkan bahwa seseorang tidak akan disiksa karena dosa orang lain. Sedangkan yang kedua: Menjelaskan bahwa seseorang tidak akan beruntung kecuali dengan amal shalihnya sendiri. Ini untuk memutus ketamakan siapapun yang mengharap selamat dengan amal shalih bapak dan nenek moyangnya. Dan pada ayat ini Allah tidak berfirman: “Seseorang tidak mengambil manfaat kecuali dari apa yang dia kerjakan.”[13]

Kelima: Dengan demikian maka membaca surat Yasin, dengan niat pahalanya untuk si mayit, adalah sampai kepadanya. Selama si mayit seorang Muslim. Adapun jika si mayit meninggal dalam kondisi kafir atau musyrik maka amal itu tidak bisa sampai kepadanya.

Amru bin Al-Ash radhiyallahu anhu pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, apakah jika dia menunaikan nadzar bapaknya, yaitu Ash bin Wa’il yang pernah bernadzar menyembelih seratus ekor onta, tapi baru menyembelih lima puluh. Apakah jika Amru melanjutkan sisa yang lima puluh ekor bisa berguna untuk Ash bin Wa’il ini? Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam menjawab:

((أَمَّا أَبُوكَ، فَلَوْ كَانَ أَقَرَّ بِالتَّوْحِيدِ، فَصُمْتَ، وَتَصَدَّقْتَ عَنْهُ، نَفَعَهُ ذَلِكَ))

“Adapun bapak kamu, jika dia mengakui agama tauhid (Islam) kemudian engkau berpuasa dan bersadaqah untuknya, maka itu sangat bermanfaat baginya.”[14]

Keenam: Jika bacaan Al-Quran pahalanya bisa dihadiahkan kepada si mayit maka ketahuilah, bahwa itu tidak harus surat Yasin. Dan tidak harus malam Jumat. Tapi bisa kapan pun dan bisa surat apa pun. Karena tidak ada dalil sahih yang menyatakan bahwa yang sampai hanyalah surat Yasin.

Juga tidak ada perintah untuk mengirimkan pahala secara khusus, hanya pada malam Jumat. Karena tidak ada penjelasan maka pelaksanannya tetap umum. Yaitu bisa dengan membaca surat apa pun dan tidak harus malam Jumat. Wallaahu a’lam.

Ketujuh: Ini adalah pendapat yang mu’tabar di antara pendapat ulama’ yang ada. Setiap pendapat memiliki dalilnya masing-masing. Ketika dalilnya sudah sangat jelas seperti ini, maka kesimpulannya kembali kepada para pembaca. Antara memilih pendapat imam Syafii yang menolak sampainya pahala apa pun kepada mayit kecuali pahala sadaqah dan haji (umrah) saja. Atau memilih pendapat imam Ahmad yang menyatakan segala amal shaih bisa disampaikan kepada si mayit dalam bentuk apa pun meski bukan sadaqah dan haji, dengan dalil yang sudah kami kemukakan.

Ketika orang memiliki dalil maka jangan begitu mudah mengatakan bahwa ini adalah bid’ah, hanya karena pendapatnya menyelisihi pendapat anda. Apalagi dalilnya sangat jelas sahih, baik secara naql maupun akal.

Dan perlu anda ketahui wahai para pembaca yarhamukumullah, ini adalah pendapat ulama’ besar setingkat imam Ahmad dan riwayat dari imam Abu Hanifah. Siapakah kita dibandingkan imam Ahmad dan imam Abu Hanifah. Tentunya ketika beliau memilih pendapat ini, ini bukan berdasar omong kosong dan kebodohan. Tapi pendapat yang penuh dengan istinbath.

Sementara kita dibandingkan mereka, mereka ibarat gunung yang sangat menjulang tinggi, sementara kita hanyalah lumut-lumut yang mengotori batu-batu besar di bawah gunung itu.

Dan sekiranya pendapat imam Ahmad adalah pendapat yang salah –tapi insya Allah tidak, karena dalilnya jelas- itu tetap hasil ijtihad. Sementara orang yang berijithad dan salah, tidak dikatakan salah. Tapi mendapat satu pahala. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda:

((إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ))

“Jika seorang penguasa berijtihad dalam keputusannya kemudian benar maka mendapat dua pahala. Dan jika memberi keputusan hukum berdasar ijtihadnya kemudian salah maka baginya satu pahala.” (Sahih Al-Bukhari, no. 7352)

Kedelapan: Jika sudah jelas duduk perkaranya maka kita juga harus memahami bahwa dalam Islam ini ada dalil-dalil yang umum dan khusus. Jika dalilnya umum maka jangan dikhususkan. Dan jika terdapat dalil umum juga dalil khusus, maka yang diamalkan adalah dalil yang khusus. Misalnya seperti ini: Ketika ada perintah berdzikir secara umum seperti dalam perintah Allah berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً ﴿٤١﴾ وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (QS. Al-Ahzab: 42)

Ini adalah perintah untuk berdzikir secara umum dari Allah ta’ala. Jika ada seseorang yang melakukan dzikir dengan mengkhususkan jumlah tertentu, tata cara tertentu, atau hari tertentu maka tidak boleh dan ini termasuk amalan yang tidak diperintahkan. Karena tidak ada dalil tentang itu. Sementara amalan yang tidak diperintahkan, adalah ditolak oleh Allah ta’ala. Sebagaimana Hadis berikut:

((مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ))

“Barangsiapa melakukan amalan yang tidak berdasar perintah kami maka amalan itu ditolak.”[15]

Seperti itu pula bagi siapa pun yang memilih pendapat imam Ahmad, bahwa pahala amal shalih apa pun bisa dihadiahkan kepada si mayit. Ini juga umum. Kita tidak boleh mengkhususkan mengirim pahala pada malam Jumat saja. Atau harus khusus surat Yasin saja, tanpa yang lain.

Sehingga kita boleh melakukannya kapan pun dan dimana pun. Juga boleh dengan surat-surat yang lain meski tidak Yasin. Baik Al-Fatihah, Al-Baqarah, atau surat lainnya. Caranya juga tidak harus dengan cara khusus. Karena untuk mengkhususkan harus ada dalil.

Semisal kita hendak mengirimkan pahala bacaan Al-Fatihah kepada seseorang, itu cukup niat dalam hati bahwa ini ya Allah pahalanya untuk si fulan.

Dan tidak harus dengan jumlah tertentu juga cara tertentu. Ini bisa dilakukan kapan pun dan dimana pun. Tidak harus menunggu malam Jumat. Semoga hal ini bisa dipahami secara jelas. Wallaahu ta’ala A’lam bish shawaab.

 

[1] Lihat: Al-Albani, Silsilah Ahadits Dhaifah, 11/191, dan Ibnu Adi, Al-Kamil fi Dhu’afa’ Ar-Rijal,  2/119, no. 229.

[2] Sahih Muslim, no. 4590 dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha.

[3] Abdurrahman As-Sa’di, Risalah Jami’ah lathifah fi Ushul Al-Fiqh, hlm. 105-106

[4]  HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, 2/368, no. 3392. Al-Hakim berkata: “Ini adalah Hadis yang sahih sanadnya.” Dan Sahih At-Targhib, no. 736

[5]  HR. Ad-Darimi dalam As-Sunan, 2/546, no. 3407 dan Sahih At-Targhib, no. 736

[6]  Lihat: Ibnu Abil Izz Al-Hanafi, Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hlm. 452 cetakan Al-Maktab Al-Islamy.

[7]  Ibnu Abil Izz Al-Hanafi, Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hlm. 452, cetakan Al-Maktab Al-Islamy.

[8]  Musnad Ahmad, 22/406, no. 14536. Syuaib Al-Arna’uth berkata: “Ini Hadis hasan.”

[9]  Lihat: Ibnu Abil Izz Al-Hanafi, Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hlm. 455 cetakan Al-Maktab Al-Islamy.

[10]  Sahih Al-Bukhari, no. 1952 dari Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu anha.

[11]  Ibnu Abil Izz Al-Hanafi, Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hlm. 455 cetakan Al-Maktab Al-Islamy.

[12] Ibnu Abil Izz Al-Hanafi, Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hlm. 456-457

[13] Ibnu Abil Izz Al-Hanafi, Syarah Al-Aqidah Ath-Thahawiyah, hlm. 455-456

[14] Musnad Ahmad, 11/307, no. 6704. Syuaib al-Arna’uth berkata: “Ini Hadis hasan.”

[15] Sahih Muslim, no. 4590 dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha.

KOMENTAR