Disarikan dari kajian gohijrah.com

Jalan Diponegoro 39 Surabaya dengan pemateri Ustad Carlos Abu Hamzah M.Pd.I

 

Kata murohaqo dalam bahasa Arab disebut seabagi remaja, sedangkan dalam bahasa Inggris disebut teenagers. Menariknya dalam kata murohaqo memiliki makna; dungu, bodoh, jahat, zholim, dan gemar mnelakukan kesalahan.

Dari makna kata ini kita seakan setuju bahwa remaja gemar melakukan kesalahan, remaja itu dungu dan bodoh, remaja melakukan perbuatan zholim. Karena peradaban kita kalah dengan barat, maka kita membebek dengan pemahaman mereka. Jelas saja ini kacau.

Ahli pendidikan, ahli psikologi kalau bicara remaja atau pemuda selalu mengidentikan dengan kekacauan, keguncangan, atau kenakalan. Era ini kita kenal dengan sebutan pubertas.

Kata itu sendiri diambil dari bahasa Latin pubescere  yang berarti rambut kemaluan. Jadi dalam  kajian orang orang barat, yang dinamakan puber adalah yang sudah memiliki rambut kemaluan dan sudah bisa melakukan hubungan seksual. Demikianlah orang-orang barat jika mengjkaji masalah remaja mereka hanya fokus pada fisik.  Seakan dalam pandangan orang barat anak muda di konotasikan dalam hal negatif.

Jadi jika bicara pemuda hari ini; jarang ke masjid, jarang ngaji, jarang belajar agama, langsung datang kata kuncinya, “maklum soalnya mereka masih muda, masih mencari jati diri”. Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga, begitulah semboyan mereka.

Pandangan demikian sungguh kontradiksi dengan padangan Islam. Misal dalam tafsir Ibnu Katsir tentang shabl kahfi.

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk. (Al-Kahfi: 13).

Berkata Ibnu Katsir, bahwa pemuda itu lebih mudah menerima kebenaran. Lebih mudah untuk mendapatkan petunjuk dibandingkan orang tua.  Makanya kata beliau, dakwah Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama menyambut adalah para pemuda, para orang tua justru menolak dan mati dalam kekafiran.

Pun kita bisa melihat dalam sebuah riwayat tetang 10 orang yang dijamin masuk surga.  Dua orang berumur 30-40, dua orang lagi berumur 20-30, dan sisanya di bawah 20. Dalam artian mereka berumur belasan tahun, tapi sudah mendapat jaminan masuk surga. Maka alangkah indahnya masa muda dihabiskan dalam perkara baik bukan menunggu tua.

Allah berfirman:

 

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (Ar-Rum: 54).

Di sini Allah sebutkan dua fase kita menjadi lemah, pertama saat masih kecil, dan kedua saat masa tua, ketika rambut sudah beruban. Di antara dua fase ini, ada fase mempunyai kekuatan, inilah masa muda.

Maka tidaklah tepat semboyan yang menyebutkan masa muda masa untuk foya-foya, justru sebaliknya, masa muda adalah masa penuh potensi. Masa untuk menghafal Qur’an, menghafal hadits, atau hal-hal bermanfaat lainnya. Sayangnya apa yang kita lihat hari ini sangat bertolk belakanga, kita hanya menyaksikan pemuda-pemuda yang jauh dari agama. Hidup dalam kelalaian, kenakalan, bahkan kadang melupakan identitas mereka sebagai seorang Muslim.

Dalam Al-Qur’an, pemuda disebut dengan kata fataasedangkan dalam redaksi hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan lafadz syabab.

Ulama mengklasifikasikan, bahwa syabab berumur puluhan sedangkan fataa belasan tahun.

قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. (Al-Anbiya: 60)

Allah menggunakan lafadz fataa yang berarti ketika Nabi Ibrohim ‘alahissalam menghancurkan patung-patung itu dia masih berumr belasan tahun.

Jika kita telaah lebih lanjut Surah Al-Anbiya dari ayat 59-68, dari kisah ini kita melihat, umur Nabi Ibrahim masih belasan tahun, tapi karakter beliau teguh dengan tauhid. Teguh dengan keimanan,  Beliau berani mengamnil keputusan dahsyat dalam dakwah, berani melawan kebatilan, berani menghancurkan sesembahan selain Allah.

Seharusnya begitulah pemuda hari ini. Berada di garda terdepan dalam meneggakkan dakwah dan menjadi tiang-tiang yang senantiasa menopang eksistensi dakwah di muka bumi ini. Peduli terhadap agamanya, menjaga ketauhidan serta memiliki ruhiyah spiritualitas yang tinggi dan mampu memberi warna pada peradaban dengan semangat juangnya.

Dengan lantang mengatakan: Ha ana dzaa. Isyhad bianni muslim! (Inilah aku. Saksikan bahwa aku seorang Muslim!).

KOMENTAR