Perbanyaklah mengingat sesuatu yang melenyapkan semua kelezatan, yaitukematian! (HR. Tirmidzi)

Dengan mengingat kematian itu, kita sebagai manusia akan mendedikasikan seluruh kehidupan kita untuk kebaikan. Bahkan ketika manusia mengingat kematian, manusia pasti akan menggunakan potensi yang ada dalam dirinya hanya untuk. Manusia yang selalu mengingat kematian juga akan akan memutus dan menarik garis pembatas dengan segala perbuatan dosa, serta tidak akan pernah berkompromi dengan perbuatan durhaka.

Kematian adalah saat yang menakutkan dan pasti akan dialami oleh siapapun. Tidak peduli itu raja, hamba, kaya, miskin, atasan maupun bawahan. Tidak ada mahluk yang bernyawa satu pun yang lolos dari perstiwa ini.

Sepanjang apapun usia manusia, seindah apapun masa muda, sehat dan kuat, pasti akan mengalaminya. Meskipun ia tinggal di rumah megah ataupun benteng yang kokoh, kematian pasti akan mendatanginya. Kematian lah yang akan memutus dirinya dari segala macam kelezatan dunia. Mobil mewah, pakain sutera yang halus dan indah, ataupun makanan yang tiada taranya

Tetapi terkadang manusia lupa, bahwa kematian akan menjumpainya. Mengapa manusia lupa akan pertanggung-jawaban yang pasti akan diminta oleh Sang Pencipta itu? Mengapa manusia berkhianat terhadap dzat yang menciptakan dirinya? Mengapa manusia hanya menghabiskan waktunya untuk bersenda gurau dan main-main? Mengapa manusia memilih bergaul dan bercengkerama dengan para ahlul maksiat dan ahlul bathil?

Tidak ada tempat yang bisa didiami seseorang setelah mati, kecuali yang telah ia kerjakan sebelum mati. Jika ia mengerjakan kebajikan, maka tempatnya pun baik, tapi bila ia mengerjakan kejahatan, maka akan celakalah pembuatnya. Buat ahli waris yang sibuk megumpulkan harta benda dunia, pasti tak ada gunanya bagi mereka yang sudah mati.

Suatu saat, tatkala ajalnya sudah mendekat Amr Ibn Ash menangis lama. Kapan lagi seseorang menangis bila tidak pada saat seperti ini? Dan ketika ia sedang menangis, datanglah anaknya yang sangat zuhud yaitu Abdullah. Ia mengingatkan ayahnya agar berbaik sangka kepada Allah Taala, dan selalu menaruh harapan kepada-Nya.

Bukankah engkau telah masuk Islam, ayah?, tukas Abdullah. Engkau telah ikut hijrah bersama Rasulullah Saw?, tambahnya. Bukankah Rasulullah Saw telah mengangkat engkau menjadi panglima perang?, lanjut Abdullah. Bukankah ayah telah menaklukan Mesir?, tegas Abdullah. Tapi, justru Amru Ibn Ash memalingkan mukanya ke dinding, sambil menangis panjang. Lalu, menghadapkan wajahnya ke orang-orang yang di sekelilingnya. Amru Ibn Ash menangis panjang, ketika ia mengingat kembali sebelum masuk Islam. Adakah dosa-dosaku akan dihapuskan, ketika kelak aku menghadap Rabb?, gumam Amru Hanya satu kalimat yang masih tersisa padaku, yang akan kujadikan hujjah dihadapan Allah Taala yaitu: Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.

Tentu, kalau ada orang yang dapat lolos dari kematian adalah Nabi Muhammad. Tapi, kenyataannya tidak, dan Rasulullah melewati saat yang juga dilewati manusa biasa. Padahal Rasulullah Saw adalah manusia yang paling mulia, dan kekasih Allah. Hanya bedanya dengan manusia biasa, beliau menerima kematian dengan lapang dada, karena telah banyak melakukan amal kebajikan.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw, ketika menghadapi sakaratul maut, mengambil khamishah (kain kecil), dan menaruhnya di wajah beliau, karena beratnya kondisi yang beliau hadapi. Lalu, beliau berdoa: Laa ilahaa illallahlaa ilaaha illallah laa ilaaha illallah. Sungguh, kematian itu amat pedih. Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakaratul maut. Ya Allah, ringankanlah sakaratul maut ini buat ku.

Aisyah menuturkan: Demi Allah, beliau mencelupkan kain itu ke air, lalu meletakkannya di atas wajahnya. Lalu, beliau berdoa: Ya Allah, bantulah aku menghadapi sakaratul maut. Mengapa Rasulullah Saw berdoa seperti itu? Para Sahabat menafsirkan, beliau berdoa demikian, karena diberi dua pilihan. Diperpanjang usianya atau bertemu Tuhannya. Tetapi, beliau, justru memilih teman Tertingginya (Rabbnya). Aku ingin segera meninggalkan dunia ini aku ingin meninggal saat ini, ujar Rasulullah Saw.

Beliau tahu, betapapun panjangnya usia dan jauhnya ajal, beliau tetap akan mengalami kematian. Wallahu alam.

sumber: eramuslim.com

KOMENTAR