Jika sesuatu tidak mendekatkan diri ke pada Allah, maka tinggalkan. Prinsip itulah yang dipegang Novaldy Arief Pradika, pemilik Majelis Mie (dulu Mie Akhirat, red). Prinsip itu juga yang membuat ia menolak penawaran pinjaman dari bank senilai 2,5 miliar.

 

Menggunakan kaos hitam dan celana warna khaki, Novaldy Arief Pradika, terlihat casual saat berkunjung ke kantor gohijrah.com di Jalan Diponegoro 39. Dipadukan dengan tas ransel dan sneaker, tampilannya lebih mirip mahasiswa. Sekilas tidak akan ada yang menyangka jika pria tersebut adalah pemilik usaha kuliner yang cukup terkenal di Surabaya. Masya Allah, ucap gohijrah setelah mengucap salam.

Setelah menanyakan keadaan dan kondisi bisnis mie nya, kepada gohijrah, Aldy - panggilan akrabnya - mengisahkan suka duka merintis bisnis mie yang dimulai tahun 2012 itu. Mie akhirat pada awalnya dibuka di halaman rumah keluarga Aldy di Jl Progo. Halaman rumah tersebut memang disewakan kepada penjaja kuliner di seputaran Taman Bungkul.

Suatu ketika,salah satu penyewa stan tersebut ada yang keluar. Akhirnya ia berinisiatif menggunakan stan yang kosong untuk berjualan mie. mie saya pilih karena kebetulan saya juga penyuka mie, ujarnya sambil tersenyum.

Awal berjualan mie, Aldy menyuguhkan dua macam mie sebagai menu andalan. Mie putih dinamakan mie surga, sedang yang hitam disebut mie neraka. Karena itu dinamakan mie akhirat, ujar pria 31 tahun ini. Lambat laun, bisnis mie Aldy berkembang semakin pesat hingga lokasi mie di Jl Progo ia pindahkan ke Jl Citarum, samping masjid Al-Falah. Parkir yang srategis dan menu yang makin beragam - termasuk menu mie super pedas yang lagi digandrungi anak muda sekarang - membuat mie akhirat semakin ramai. Aldy pun kemudian membuka cabang mie akhirat di sekitar kampus UPN. Ekspansi bisnis mie rupanya tidak berhenti. Ia kemudian berencana membuka cabang lagi di Sidoarjo.

Saat mulai mencari tempat untuk berjualan mie, Aldy menemukan ruko yang lokasinya strategis dan kondisi bangunannya cukup bagus. Sayang, uang yang dimilikinya belum cukup untuk membeli ruko tersebut. harganya saat itu 2,5 miliar, tutur penyuka futsal ini. Sebaga pebisnis, ia terpacu untuk mencari cara agar bisa membeli ruko tersebut. Satu-satunya cara yang saat itu dianggap memungkinkan adalah meminjam uang di bank. Sebenarnya Aldy tahu haramnya riba dan ancamana dosa bagi pelakunya. Akan tetapi keluarganya tetap menyarankan Aldy untuk meminjam uang dari bank. Hanya saja bukan bank konvensional tapi bank syariah. alasannya sudah ada embel-embel syariah, tuturnya.

Saran tersebut awalnya masuk akal bagi Aldy. Karena itu ia kemudian bergegas mendatangi kantor bank syariah yang disarankan tadi. Melihat track record Aldy, kredit pinjaman senilai 2,5 miliar itupun dengan mudah disetujui oleh pihak bank. Tetapi ketika pilihan itu dikonsultasikan kepada ustad pemateri kajian di komunitas tanpa riba, Aldy mendapat jawaban yang sama dengan yang ia yakini selama ini. Bahwa pinjaman di bank syariah sama hukumnya dengan bank konvensional. Karena meski memiliki kata syariah tetapi dalam prakteknya tidak berbeda dengan bank konvensional. Ia pun segera membatalkan rencana pengajuan pinjaman di bank. padahal sudah tinggal tanda tangan, tutur pria yang berdomisili di daerah Karah ini.

]

suarasurabaya.net

Sehari setelah pembatalan pengajuan tersebut, Allah menakdirkan warung mie akhirat di sekitar kampus UPN terbakar. Kebakaran rupanya tidak hanya menghanguskan warung mienya saja, dua warung makan yang bersebelahan juga ikut habis terbakar. Yang lebih parah, pemiliknya pun meminta Aldy untuk mengganti warung mereka. Meski Aldy menyebut itu sebagai musibah, tapi pemilik warung tetap meminta ganti rugi. bahkan salah satunya malah mengancam proses hukum jika tidak diganti, kenangnya sambil menyebut total kerugian yang harus ia tanggung sekitar 300 juta.

Ditengah kebingungannya, sempat terbesit dalam hatinya untuk kembali mengajukan pinjaman ke bank. Tetapi nurani Aldy berusaha kuat. Ia bahkan pasrah seandainya memang tidak mampu bayar dan bisnis mie nya harus berhenti demi melunasi kerugian tersebut. Saya ga bisa tidur tiga hari mas. Yang saya coba hanya terus tawakal kepada Allah, ujarnya. Karena ia sudah memutuskan tidak akan menggunakan pinjaman bank, Aldy mencari cara untuk melunasi kerugian akibat kebakaran tersebut. Saat itulah ia menemukan istilah syirkah (kerjasama, red) dalam Islam. Bahwa modal tidak harus selalu dari bank, tetapi penambahan modal bisa dilakukan dengan mengajak kerjasama pihak lain. konsepnya bagi hasil, kata Aldy menjelaskan.

Rupanya Allah menjawab doa Aldy. Empat hari setelah kejadian tersebut, Aldy bertemu dengan investor yang tertarik untuk bekerjasama. Padahal proses presentasinya menurut Aldy hanya sekitar 15 menit. Dengan datangnya pertolongan Allah melalui perantara investor tersebut, Aldy akhirnya bisa bernafas lega dan kembali melanjutkkan bisnis mie miliknya. Aldy juga akhirnya merubah nama mie akhirat menjadi majelis mie setelah menerima nasihat dari beberapa ustad yang kajiannya sering ia ikuti. Kenapa majelis mie? majelis kan artinya tempat berkumpul. Kita ingin warung ini menjadi tempat berkumpulnya kebaikan, ujar Aldy menjelaskan. Dalam menjalankan bisnisnya, Aldy juga berupaya menegakkan aturan Islam kepada kurang lebih 100 orang karyawannya. Seperti kewajiban memakai hijab dan kewajiban menegakkan sholat.

Kini Aldy yang memulai bisnis mie dari rumahan itu sudah memiliki tujuh cabang majelis mie. Tidak hanya di Surabaya, bisnis mie nya sudah merambah hingga ke Gresik dan Solo. insya Allah kita juga mau buka di Jember, ujar Aldy menutup pembicaraan.

KOMENTAR