Cantik itu relatif. Tapi merubah ciptaan Allah dengan operasi karena ingin lebih terlihat cantik, itu melanggar ketentuan Islam, ujar Runiar Satriya pemilik HAYYU syari skin clinic.

Tidak sulit menemukan klinik kecantikan HAYYU. Bangunan berlantai tiga dengan warna dominan hijau tua tersebut cukup mencolok dibandingkan sekitarnya. Ditambah kanopi berwarna sama dengan logo besar HAYYU.

Saat gohijrah memasuki klinik seorang security menyambut dengan ucapan salam. Assalamualaikum. Ada yang bisa dibantu pak? ujarnya. Wajar pertanyaan itu muncul, karena klinik kencantikan ini hanya diperuntukkan untuk muslimah. Ketika gohijrah menyampaikan maksud hendak bertemu dengan pemilik klinik, petugas tersebut langsung mempersilahkan gohijrah untuk naik ke lantai tiga.

Begitu memasuki klinik yang beralamat di JL Bung Tomo ini, terlihat dekorasi yang minimalis. Hanya terdapat meja resepsionis berwarna hijau tua dan kursi tunggu di lantai dasar. Penataan yang apik membuat ruangan yang aslinya kecil tersebut berasa luas.

Untuk menuju ke lantai tiga, satu satunya cara adalah melewati beberapa anak tangga. Tidak ada pilihan lift di sini. Dalam hati saya berkata, lumayan sekalian olah raga. Di lantai tiga, terdapat taman kecil dan beberapa meja beserta kursinya. Rupanya tempat tersebut biasa digunakan untuk makan siang, karena saat itu beberapa karyawan masih terlihat duduk menikmati makan siangnya. Setelah menyapa dan mengutarakan maksud, gohijrah kemudian diarahkan menuju ke ruangan pemilik klinik tersebut.

Gohijrah saat pertama bertemu pemilik klinik HAYYU cukup terkejut. Mengusung konsep syarI untuk muslimah, tetapi ternyata pemiliknya adalah laki-laki. Masih cukup muda dan terlihat gaul. Dengan kemeja kotak warna biru dan celana warna biru tua, Runiar lebih mirip pengusaha di industri kreatif daripada pemilik klinik kecantikan. Klinik ini awalnya yang menjalankan istri saya, ujar Runiar seakan menjawab rasa penasaran saya.

Lebih lanjut ia mengatakan, sebenarnya kliniknya sudah beroperasi sejak empat tahun lalu dengan nama Royal Skin Care. Saat itu konsep yang digunakan masih belum islami dan tidak berbeda dengan klinik kecantikan lainnya. masih jahiliyah lah, ujarnya tertawa.

Sebelum berubah menjadi HAYYU, Runiar lebih disibukkan berbisnis di dunia EO (event organizer) dengan nama Explore. Meskipun saat itu ia merasa sukses dengan EO nya, tetapi hatinya merasa kering karena jauh dari agama. Karena itu ia akhirnya memutuskan untuk menutup EO dan memperdalam ilmu agama dengan mengikuti kajian-kajian yang ada.

Dari kajian yang ia ikuti tersebut, ia sadar apa yang selama ini dilakukan di EO nya sangat bertolak belakang dengan Islam. EO akhirnya saya shutdown, tuturnya. Runiar melanjutkan, semakin banyak ia mengikuti kajian agama, semakin paham juga bahwa bisnis kecantikan yang dilakukan istrinya banyak bertentangan dengan syariat agama. Seperti obat dan kosmetik kecantikan yang tidak halal, serta paket pelayanan kecantikan yang dilakukan bertentangan dengan syariat islam. misal sulam alis atau bedah plastik, tuturnya. Karena itu, sejak Februari 2017, Runiar melakukan rebranding terhadap klinik yang dikelola istrinya tersebut dengan mengganti nama Royal menjadi HAYYU. Nama HAYYU diambil dari bahasa arab, yang berarti hidup. Sedangkan dari bahasa jawa, hayyu lebih dekat dengan makna ayu. Harapannya dengan menggunakan kata tersebut, pasien yang dilayani kliniknya akan memiliki kecantikan yang terus hidup.

Selain nama, Runiar juga memberlakukan konsep islam kepada klinik dan karyawannya. Seperti penggunaan hijab bagi yang perempuan dan mengadakan kajian rutin setiap bulan. Penggunaan obat dan kosmetik pun ia pilihkan hanya kepada obat dan kosmetik yang telah tersertifikasi halal MUI.

Tolak Operasi Plastik, Omzet Menurun Drastis

Dalam dunia medis terutama di bidang kecantikan, produk halal sangatlah terbatas. Karena itu menurut Runiar pihaknya sangatlah selektif memilih obat dan kosmetik untuk pasiennya. Terbatasnya produk kecantikan menjadikan terbatas pulalah pelayanan yang bisa ia lakukan. Untuk itu Runiar lebih fokus kepada perawatan kecantikan saja dan belum fokus ke tindakan medis. Salah satunya layanan utama kami adalah penghilangan jerawat, kata pria yang pernah jadi PNS tersebut.

Selain penggunaan produk halal, klinik milik Runiar juga menghilangkan beberapa tindakan medis yang bertentangan dengan syariat Islam, seperti operasi bedah plastik dan suntik botox. Padahal menurut Runiar, layanan-layanan tersebut adalah layanan yang favorit dan bisa menghasilkan banyak uang. biayanya mahal dan biasanya pasien butuh pelayanan berkali-kali, ujarnya. Dengan hiilangnya layanan tersebut, tentu saja berpengaruh terhadap omzet kliniknya. Akan tetapi Runiar percaya bahwa apa yang dilarang oleh Allah adalah yang terbaik untuk manusia. Itu yang saya yakin, terangnya.

Meskipun sasaran produknya lebih tersegmentasi, tetapi menurut Runiar kliniknya merupakan pemain tunggal di Surabaya. Karena itu ia yakin klinik yang dikelola bersama istrinya akan tetap berkembang. Terlebih lagi menurut Runiar saat ini semangat beragama seseorang lebih meningkat dan kebutuhan layanan halal juga lebih besar. Selama niat kita untuk mengharap berkah Allah, pasti Allah akan memberikan jalan, ujarnya menutup pembicaraan.

Semoga lebih banyak lagi pengusaha muslim yang memperhatikan halal dan haram dalam bermuamalah. Yuk sahabat Hijrah, kita dukung pengusaha muslim untuk lebih berkembang.

KOMENTAR