ya Allah sadarkanlah anak hamba. Kalau tidak, ambil saja. Saya ikhlas. Itu doa umi saat naik haji karena tidak tahan dengan kelakuan saya Saya masih inget betul., ujar Abyan Azzam.

 

Assalamualaikum, ucap Abyan Azzam saat pertama kali masuk kantor gohijrah di Jl Dipenegoro 39. Setelah membalas salam dan berjabat tangan, kami pun mempersilahkan Abyan untuk duduk. Datang bersama istrinya, Abyan terlihat segar dengan senyum yang mengembang. Sekilas tidak ada yang terlihat aneh dari perilakunya, kecuali tato disekujur tubuhnya. Tapi siapa sangka, pria kelahiran tahun 1992 itu sudah memakai narkoba sejak SD dan sudah tiga kali keluar masuk penjara. Kepada gohijrah, Abyan kemudian menceritakan pengalamannya hingga Allah akhirnya menurunkan hidayah.

Saat masih duduk dibangku sekolah dasar, Abyan terkenal sebagai murid yang berprestasi. Hampir setiap kenaikan kelas, dirinya berhasil menjadi juara kelas. Hingga akhirnya ia ditunjuk mengikuti olimpade oleh sekolahannya. Prestasinya juga yang membuat Abyan sering bergaul dengan kakak kelasnya untuk pelajaran intensif olimpiade. karena itu saya dipanggil tuwek (tua, -bahasa jawa), ujarnya. Karena sering dibully itulah Abyan merasa tertekan.

Suatu ketika dirinya mengikuti perjalanan wisata ke Yogyakarta yang diadakan oleh sekolah. Di sana, ia ditawari minuman keras oleh salah satu temannya. Tanpa pikir panjang, ia konsumsi minuman haram tersebut. Bukannya berhenti, Abyan malah keterusan melakukan perbuatan maksiat tersebut. Semakin meningkat, Ia kemudian mencoba yang lebih berat. kelas 2 SMP saya OD (over dosis, red), ujarnya sambil menarik nafas panjang.

Mengetahui hal tersebut, orang tua Abyan hingga menangis dan menyesal mengetahui perilaku anaknya. Bahkan SMP tempatnya bersekolah sampai harus mengeluarkan Abyan setelah mengetahui dirinya OD. Sempat tiga kali pindah sekolah, Abyan akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikan SMP nya. Meskpun sering menggunakan narkoba, tapi prestasi akademiknya masih terbilang bagus. Seandainya saya masuk SMA 1 Sidoarjo, nilai saya masih mencukupi, katanya.

Menginjak bangku SMA, kenakalannya bukan mereda, malah menjadi. Puncaknya ia OD lagi dan harus berurusan dengan aparat kepolisian. Itulah kesan pertamanya mencicipi sel tahanan.Akibat ulahnya tersebut, pihak sekolah mengeluarkan Abyan. Orang tuanya kemudian berusaha mencarikan sekolah pengganti. Tetapi melihat catatan buruk Abyan, banyak sekolah yang menolak. semua SMA di Sidoarjo dan Surabaya, kenangnya.

Abyan saat menjalani terapi ruqyah bersama Ust Isfanz Rozyn di gohijrah.com Jl Diponegoro no 39 Surabaya

Akhirnya oleh orang tuanya, ia dipindah ke Makasar. Lepas dari pengawasan orang tua, sikap Abyan semakin menjadi. Party malah sering ia lakukan. Bahkan uang untuk sekolah dan biaya hidup ia habiskan untuk mengkonsumsi barang haram tersebut. disana saya tertangkap lagi, ujar anakpertama dari tiga bersaudara ini.

Tidak hanya mengkonsusmi barang haram, Abyan yang saat itu menggeluti musik punk mulai memenuhi badannya dengan tato. Mulai dari leher hingga ke ujung kaki. Bahkan saat orang tuanya menunaikan ibadah haji, ia mentato lehernya dengan nama ibunya. saat itu saya sudah dilarang, tapi tetap aja nekat., kata Abyan. Bahkan karena kenekatan itulah, ibunya berdoa agar Allah memberikan hidayah. Tetapi jika dirinya masih melakukan yang sama, ibunya ikhlas jika Allah memanggilnya.

Bahkan setelah ditangkap, Abyan sudah tidak mau lagi bersekolah dan memilih untuk bekerja di Bali sebagai bartender. Kehidupan malam yang dekat dengan kemaksiatan membuat tingkah laku Abiyan semakin menjadi hingga akhirnya ia OD yang ketiga kali. kalau menurut medis, saya seharusnya sudah meninggal, kata Abyan.

Koma, Masuk Penjara, dan Akhirnya Hijrah

Suatu ketika karena sudah tidak tahan dengan tingkahnya, ibu Abyan mengajaknya untuk menghadiri pengajian salah seorang Kyai di Krian. Tujuannya agar Kyai tersebut bisa memberikan nasihat kepada Abyan. Bukannya malah memperhatikan nasihat Kyai, Abyan malah memakai narkoba di tempat kyai tersebut. jadi ketika kyai mulai kasih nasihat. Saya izin ke kamar mandi untuk makai barang mas, kenangnya.

 

Dalam kondisi on ia mengantar orang tuanya pulang. Di tengah jalan ia menabrak tong hingga menyebabkan dirinya koma dan dirawat di rumah sakit selama 6 bulan. Selepas dari rumah sakit, Abyan bukannya bertobat, ia malah mengundang temannya untuk pesta narkoba. Temen saya malah bawa barang saat menjenguk, ujarnya.

Perbuatan itu terus dilakukan hingga tahun 2015 saat dirinya masuk penjara untuk yang ketiga kali. Saat itu ia merayakan iedul fitri di dalam penjara. ketika tahanan berkumpul di lapangan untuk shalat ied, hidayah Allah turun. waktu sujud saya tiba-tiba menangis. Inget dosa, inget orang tua, tuturnya mengenang. Begitu orang tuanya menjenguk di penjara ia langsung memeluk dan mencium kaki keduanya. dalam hati saya menyesal telah menyakiti orang yang paling sayang sama saya. Meski nakal, tetap aja sayang dan mendoakan saya, akunya.

Melihat perubahan perilakunya, orang tua Abyan mengajukan permohonan untuk rehabilitasi narkoba. Selama sekitar 1 tahun di rehabilitasi, dokter di tempat rehab malah menawari Abyan untuk menjadi konselor bagi para pecandu. Awalnya ia ragu, akan tetapi ia berfikir, barang kali ini adalah jalan Allah untuk menebus dosa-dosanya selama ini. mudah-mudahan Allah menurunkan hidayah kepada mereka melalui saya. Semoga itu juga bisa menjadi penggugur dosa yang kemarin, ujarnya menutup pembicaraan. Kini Abyan sudah setahun lebih menjadi konselor. Tidak hanya di wilayah Surabaya, ia juga melayani konseling diseluruh wilayah Jawa Timur. Yuk doakan Abyan tetap istiqamah berhijrah.

 

KOMENTAR