Gaji besar dan kemewahan hidup yang didapat dari Jabatan Kepala Cabang sempat membuat Arifianto Kusuma terlena. Tetapi begitu tahu betapa besar dosa dan hukuman pelaku riba, ia langsung memutuskan mengundurkan diri. "Karena saya yakin dengan janji Allah. barang siapa meninggalkan barang haram, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, ujarnya. Masya Allah.

Karir Arifianto Kusuma di dunia perbankan tidak bisa dibilang sebentar. Nyaris 20 tahun. Memulai karir sejak tahun 1996, Arifianto pertama kali bekerja menjadi karyawan Bank Niaga. Awalnya ia sama sekali tidak pernah ber

pikir untuk menjadi karyawan bank. Tetapi oleh seorang teman ia diajak untuk melawar kejar di bank tersebut. bisa dibilang jalur prestasi sih. Di cabang olah raga tenis lapangan, ujarnya.

Rupanya tidak lama ia bertahan di bank niaga. Berbekal pengalaman di bank niaga dan iming-iminggaji yang lebih baik, Arifianto akhirnya pun berpindah dari bank satu ke lainnya. Mulai Citibank, Bank BRI, hingga akhirnya di Bank Mega Syariah sebagai Kepala Cabang.

Dalam perjalanan karirnya, tidak pernah terbesit dalam pikirannya mengenai pekerjaan yang digeluti. Saat itu ia beripikir pekerjaan yang digeluti sebagai karyawan bank halal dan sah saja. Hingga akhirnya di tahun 2016 ia bersinggungan dengan komunitas Masyarakat Anti Riba (MTR). Alhamdulillah, dari sana saya mengerti apa dan bagaimana riba tersebut, ujarnya.

Arifianto pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari bank yang menaunginya. Padahal jabatannya saat itu sudah menjadi Kepala Cabang. Tetapi karena menyadari betapa berat dan besar dosa riba, ia pun berazzam(tekad, red) untuk segera keluar dari tempat kerjanya. Ketika gohijrah bertanya bukankah saat itu ia sudah bekerja di bank syariah? Arifianto menjawab, meski saat itu ia bekerja di bank syariah, tetapi dalam prakteknya tidak berbeda jauh dengan yang konvensional. Melalu pertimbangan matang dan diskusi bersama keluarga, Arifianto memutuskan untuk berhenti dan menekuni bisnis percetakan yang memang sudah lama dirintis sejak ia menjadi karyawan bank.

Kepada gohijrah Arifianto menuturkan, meskipun ia sudah menjadi Kepala Cabang, tetapi kehidupan ekonomi dan rumah tangganya tidak bisa dibilang luar biasa. Memang dengan gaji dan fasilitas yang ia peroleh, ia bisa berpergian ke luar negeri, membeli perabotan yang mewah, rumah mewah dan mobil mewah. Tetapi pada dasarnya, apa yang ia dapatkan bukan menjadi miliknya. belinya kan utang mas. Pakai leasing, pakai kpr, pakai kartu kredit, tuturnya tertawa.

Selain itu, gaji dan tunjangan yang ia dapatkan seperti tidak berbekas sama sekali. Hutang menumpuk hingga miliaran rupiah. Belum lagi kondisi kesehatan istri dan anak yang sering terganggu. ada asuransi memang. Tapi kalau keluarga sakit-sakitan buat apa. Lebih baik ga punya asuransi tapi sehat, tuturnya.

Setelah memutuskan keluar dari bank, kehidupan Arifianto tidak berjalan mulus. Dengan hutang yang mencapai miliaran tersebut ia harus berpikir keras memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan kehidupannya pun sempat goyah. Salah satu caranya untuk bisa survive adalah menjual aset-aset yang ia miliki. "saya jadi tambah pinter berjualan.

Menjual barang-barang berharga yang ada di rumah dan di percetakan. Mulai jam tangan, sepeda motor, tas bermerk punya istri semua dijual demi memenuhi kebutuhan keluarga. Dulu mesin percetakan saya 4, lalu saya jual 1. Itulah kepintaran saya dalam berjualan," ujar Arifianto dengan tertawa lepas.

Meskipun ujian berat dalam hidupnya, namun tetap dijalani dengan ketabahan. Buah kesabaran dan doa itu akhirnya dijawab Allah Jalla Jalaluhu. Suatu ketika ia sangat membutuhkan uang. Sudah berbagai cara ia pikirkan tapi tidak berhasil. Tiba-tiba dengan izin Allah, ada seorang temannya dari Jakarta datang ke Surabaya memberikan pekerjaan halal pada dirinya. Yaitu mencari kru kapal untuk PT. PAL Surabaya. Mulai nahkoda, kru mesin, dek dan sebagainya. Alhamdulillah semua berhasil. Juga ketika dia membutuhkan uang, dengan izin Allah tiba-tiba ia diberi temannya sesuai dengan yang ia butuhkan. seperti butuh uang 500.000, besok diberi temannya juga 500.000, katanya.

Alhamdulillah keberhasilan itu berdampak terus dengan usaha pribadi di advertising maupun dipercetakan. Bahkan usahanya kini menjadi sehat dan berkembang. Untuk melunasi hutang yang mencapai miliaran pun, Arifianto rela menjual berbagai asetnya termasuk rumah yang ia tempati. "karena saya yakin dengan janji Allah. barang siapa meninggalkan barang haram, Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik." ucapnya dengan santai.

Dengan pengalaman panjang, sedih dan bahagia membuatnya semakin tegar. Bahwa semua itu membutuhkan proses berliku. Dengan harapan agar semua teman-temannya yang belum hijrah segeralah berhijrah. Karena Allah menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Persepsi rejeki itu tidak hanya uang, namun kesehatan keluarga juga salah satu rejeki dari Allah. Dan kita harus percaya itu semua. Yang galau, risau dan gamang, cepat ditinggalkan pikiran itu semua. Ambil keputusan yang pas dan cepat. Karena Allah Maha Kaya. Kepada siapa lagi kalau bukan minta pertolongan kepada Allah.

Semoga hijrah Mas Arifianto istiqomah hingga ia bertemu dengan Rabbnya

KOMENTAR