Kapok Mas, ujar Andi Agus Wahono pemilik Swalayan Reny di Jalan Bratang Gede saat menceritakan pengalamannya terjerat hutang riba 750 juta.

Di dalam al-Quran Allah berfirman:

?????? ???? ?????????? ?????????? ???????? ???? ??????? ??????????? ?????? ???????? ???????? ??????? ????????????? ??? ??????????? ????? ???????????

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS. Al-Baqarah: 279)

Meskipun demikian, entah itu karena ketidaktahuan atau cenderung nekad, masih ada saja orang-orang yang bergelut dengan riba. Jika yang dilawan manusia, bisa jadi kita masih ada harapan menang. Tapi bagaimana jika musuhnya Allah dan Rasul, pasti kalah. Waiyyaudzubillah.

Kondisi itulah yang terjadi kepada Andi Agus Wahono. Keinginannya memperbaiki usaha retailnya yang nyaris bangkrut tersebut malah berbuah petaka. Bukan keuntungan yang didapat, malah perbuatannya dengan meminjam hutang 750 juta di bank itu berujung kepada stres dan kepanikan luar biasa setiap menjelang jatuh tempo pembayaran. tidur tidak bisa. Kalau bisa pun tidak nyenyak, ujarnya kepada gohijrah.com

Andi menambahkan, perbuatannya tersebut (hutang bank, red) awalnya dipicu keinginan untuk merenovasi swalayan milik keluarganya itu. Kenapa? Karena sebelumnya, swalayan yang berlokasi di Jl Bratang Gede 132 tersebut masih dikelola secara tradisional. Manajemen keuangan tradisional, penataan dan fisik bangunan pun juga masih belum modern.

Nah untuk memperbaiki itu semua dibutuhkan dana kurang lebih 750 juta rupiah. Karena uang yang dibutuhkan cukup besar, solusi yang paling mudah bagi Andi saat itu adalah meminjam uang dari bank. saat itu kami masih belum mengenal riba mas, ujarnya.

Usulan itupun juga didukung oleh seseorang yang selama ini menjadi perencana keuangan keluarganya. memang orangnya non muslim. Jadi tidak paham apa itu riba, imbuhnya.

Memang setelah pinjaman bank cair, pihaknya kemudian melakukan renovasi besar-besarn terhadap manajemen swalayan. Seperti berhasil memang pada awalnya, tapi ketika menghadapi cicilan pembayaran, Andi merasa kehidupannya kemrungsung (susah atau sumpek, red) setiap harinya. Dirinya seolah-olah dikejar-kejar oleh omzet hingga membuat makan tidak enak dan tidurpun tidak nyenyak.

Setelah melalui perjuangan panjang selama 3 tahun hutang yang di bank pun Alhamdulillah lunas. Allah pun kemudian mengenalkan Andi dengan komunitas Masyarakat Tanpa Riba (MTR). nah dari situ wawasan saya tentang agama mulai terbuka, ujarnya.

Harapan Andi ke depan, swalayan Reny yang berdiri sejak tahun 1975 itu bisa menerapkan manajemen toko secara Islami, dimana ketika adzan toko tutup dan karyawan yang saat ini berjumlah 85 orang tersebut bisa sholat berjamaah. Karena Andi berharap yang berhijrah tidak hanya pemiliknya saja, tetapi karyawan juga bisa berhijrah kepada agama Islam yang mulia ini. semoga saja bisa terlaksana mas, ujar Andi menutup pembicaraan.

KOMENTAR