Di Surabaya siapa yang tak kenal Lele? Hampir di setiap sudut kota, ada saja warung yang membuka hindangan dengan bahan dasar lele. Ikan bernama latin clarias batrachus ini begitu akrab di lidah warga Surabaya. Apalagi musim hujan seperti sekarang, bisa dipastikan warung yang menjual hidangan ini makin ramai diserbu penikmat kuliner. Hawa dingin dan makan pecel lele. Hmmmm, nikmat.

Lalu apa jadinya jika lele yang biasanya hanya digoreng dan dipenyet diatas sambal kini diolah dengan aneka rasa seperti lada hitam dan disajikan di atas hot plate? Naik kelas.

Hari menjelang senja saat gohijrah.com mengunjungi salah satu gerai Lele Hot Plate milik Koko Hari Wibowo di daerah Nginden. Awan mendung hitam sudah bergelayut dan anginpun mulai berasa sejuk menandakan hujan sebentar lagi turun. Alhamdulillah perjalanan kami dari kantor gohijrah.com di jalan Diponegoro no 39 hingga tiba di lokasi berjalan lancar. ini jam-jam macet, ucap kami dalam hati sebelum berangkat.

Tidak sulit mencari lokasi gerai Lele Hot Platehttps://www.instagram.com/lelehotplate/ milik Koko. Gerai dengan dominasi warna kuning tersebut terlihat mencolok dibanding bangunan lain disekitarnya. Saat tiba, Koko bersama seorang pegawainya terlihat sedang memperbaiki sesuatu. assalamualaikum, sapa kami pertama kali. Setelah menjawab salam, ia kemudian meminta maaf jika kondisi gerainya masih sedikit berantakan. maklum baru buka cabang yang di Nginden, ujarnya.

Setelah mempersilahkan kami duduk, Koko pun menawarkan untuk mencoba beberapa menu lele miliknya. ayo dicoba, mumpung kesini, ujar pria yang pernah menjadi fotografer pernikahan tersebut. Setelah melihat menu, pilihan kami jatuh pada lele lada hitam dan lele rica-rica. mas tolong buatkan ini ya, kata Koko kepada kokinya. Selain lada hitam dan rica-rica, Lele Hot Plate juga menyediakan menu lele kremes, asam manis, dan sambal ijo.

Sambil menunggu hindangan disajikan kami berbincang mengenai usaha barunya tersebut. Kepada gohijrah.com Koko mengatakan, Lele Hot Plate itu didirikan bersama temannya sekitar bulan Agustus tahun ini. Kebetulan temannya itu juga pemilik dimsum choie, sehingga urusan masak dan bumbu ia serahkan kepada temannya itu.

Dengan modal awal hanya 5 juta, lokasi pertama yang diplih Koko terletak di wisata kuliner deles bersebelahan dengan Universitas WR. Supratman. sewanya murah dan lokasinya ramai, ujar Koko. Modal tersebut ia gunakan untuk membeli rombong dan peralatan masak. yang paling mahal hot platenya mas, imbuh Koko sambil menyebut angka 100 ribu per biji.

Dengan harga jual 15 ribu tiap porsi, gerai Lele Hot Plate milik Koko tiap hari melayani pesanan hingga 50 porsi lebih. Pada awalnya Koko hanya fokus ke hidangan berbahan dasar lele, akan tetapi karena permintaan banyak, ia kemudian melengkapi gerainya dengan hidangan ayam. kalau cara masaknya dan bumbunya disamakan dengan menu lele biar mudah, ujar pria dengan nama alias Koko Isomoto tersebut.

Ketika ditanya alasan kenapa memilih lele dan harus menggunakan hot plate? Koko menjawab, lele bagi masyarakat Surabaya itu sudah familiar sehingga dirinya tidak perlu mengenalkan terlalu jauh. Sedangkan hot plate dipilih selain karena membuat makanan tetap hangat, juga memberikan efek pembeda dengan hidangan lele lainnya. biar terasa lebih mahal kayak steak tapi harga tetap murah, ujarnya tertawa.

Ditengan obrolan kami, hujan pun turun dengan deras. Alhamdulillah, allahuma shoyyiban nafian. Tidak selang berapa lama, pesanan kami pun siap dihidangkan. Cantik memang plating makananya. Satu ekor lele ukurang sedang diletakkan memanjang, disiram dengan saus lada hitam yang berisi bawang bombay, tomat dan potongan cabai dipotong kasar. Sedangkan nasi diletakkan disampingnya dan ditambahi dengan lalapan mentimun dan kol.

Saat dicoba rasanya, hmmmmm. Rasa gurih berpadu dengan pedas yang samar dari cabai dan aroma lada. Meski lebih dominan lada, tetapi ketika dimakan rasa lada tidak terlalu tajam atau nyegrak kalau orang jawa bilang. Apalagi dimakan saat panas dan dengan turunnya hujan, terasa lebih nikmat. Sambil ngobrol tak terasa satu porsi lele lada hitam ludes dengan cepat. Sedangkan saat mencoba lele rica-rica rasanya, wuuzzzz, pedas cabai terasa menggigit di lidah sampai ke kerongkongan. Meskipun demikian, rasa gurih masih bisa dirasakan. ini menu yang paling pedas, kata Koko.

Tak terasa hanya beberapa menit, dua menu lele yang disajikan pun ludes. Sayang untuk lele bumbu rica-rica kami tidak mampu menghabiskan hingga seluruh sambalnya. Sudah tidak kuat pedasnya. Mengakhiri percakapan dengan Koko, kedepan ia berharap bisa bekerjasama dengan muslim lain untuk membuat gerai-gerai Lele Hot Plate di banyak tempat. tidak perlu beli nama. Cukup kerjasamakalau beli bumbu dan bahan ke kita, kata Koko menutup pembicaraan.

KOMENTAR