Menjadi salah satu karyawan Bank Muamalat adalah salah satu keinginan M. Ruslianor Maika setelah lulus dari Fakultas Kehutanan. “kan IPB singkatannya institut perbankan banget,” ujarnya tertawa lepas ketika ditanya kenapa memilih jadi karyawan bank padahal lulusan IPB. Singkatan itu muncul mengingat banyaknya alumni IPB yang menjadi pegawai bank.

 

Kami pertama bertemu dengan Rusli ketika mengikuti kajian Ustadz Budi Ashari di Masjid Al-Ikhlas Delta Sari. Dari situlah kami mengetahui ternyata beliau adalah mantan sekretaris direksi Bank Muamalat. Tapi karena kesibukannya menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), kami saat itu belum berhasil mewawancarainya. Hingga akhirnya Allah menakdirkan kami bertemu dan mewawancarai pria kelahiran Kalimantan tersebut ba’da sholat Jumat di awal bulan Desember.

Memasuki halaman parkir UMSIDA, dengan pede nya kami langsung menuju ke fakultas ekonomi yang berada di sebelah timur kampus. “beliau kan dosen ekonomi syariah. Pasti ada di fakultas ekonomi,” gumam kami dalam hati. Ternyata kami salah.

Setelah bertanya ke salah satu staf fakultas, jurusan ekonomi syariah ternyata berada di bawah fakultas agama Islam. Alhamdulillah lokasinya tidak terlalu jauh dari fakultas ekonomi. Akhirnya setelah melewati resepsionis, bertemulah kami dengan Rusli. “kalau Jumat saya memang tidak ada jadwal mengajar, jadi agak santai,” ujar Rusli setelah menjawab salam kami. Ruslipun kemudian mengajak kami ke salah satu ruangan untuk wawancara agar lebih fokus.

Kepada gohijrah.com Rusli menceritakan pengalamannya menjadi pegawai bank hingga akhirnya memutuskan untuk resign. Tahun 2009 ia mengawali karir menjadi karyawan Bank Muamalat. “saat itu jabatan pertama adalah customer service,” ujarnya. Saat menjadi CS itulah, Rusli kemudian iseng-iseng mengambil kuliah S2 di ITB. Di sanalah ia bertemu dengan banyak pejabat bank senior hingga memiliki banyak akses dan kemampuan untuk menganalisa.

Hingga akhirnya setelah bekerja menjadi CS selama satu tahun setengah, Rusli diangkat menjadi sekretaris direksi Bank Muamalat. “tepatnya sekretaris direktur corporate,” imbuhnya. Rusli mengungkapkan, dirinya tidak tahu kenapa tiba-tiba diangkat menjadi sekretaris direksi. Tetapi ia menduga beberapa alasannya adalah akses dan kenalan dengan banyak pejabat bank senior yang ia dapat saat menimba ilmu di pasca sarjana ITB.

Saat menjadi sekretarsi direksi, Rusli baru memahami bagaimana sebuah bank yang membawa nama syariah itu dioperasikan. Ia mendapat data lebih banyak, akses kemana-mana, termasuk bisa belajar dan berdiskusi dengan banyak orang. Karena banyak tahu, ia akhirnya paham dengan “jeroan” tempatnya bernaung.

Hingga suatu ketika saat rapat direksi, arah kebijakan Bank Muamalat diubah dari meningkatkan laba menjadi meningkatkan aset. “maksudnya bagaiamana?” tanya kami penasaran. “kalau meningkatkan aset berarti meningkatkan jumlah penabung dan pembiayaan,” jawab Rusli. Menurut Rusli, peningkatan aset belum tentu produktif, karena tidak semua pembiayaan itu akan berlangsung lancar.

Selain soal peningkatan aset, yang dicermati oleh Rusli saat itu adalah program mudharabah bertingkat. Sebagai informasi, mudharabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih. Dalam kerjasama tersebut, pemilik modal (shahibul amal) mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola (mudharib) dengan suatu perjanjian di awal). Nah dalam skema tersebut menurut Rusli, jika seorang nasabah menabung sebesar 10 juta, maka nisbahnya (bagi hasilnya) 30 persen. Tetapi jika saldo orang tersebut di bawah 10 juta, maka bagi hasilnya berubah menjadi 15 persen. “padahal dalam Islam, akad itu satu dan di awal, “ ujarnya. Karena itu Rusli merasa ada yang kurang cocok dengan skema tersebut.

Hal lain yang dicermati Rusli adalah budaya kerja di Bank Muamalat yang sudah mulai berubah. Yang dulunya ketika masuk waktu sholat semua karyawan wajib berjamaah, sekarang mulai ditinggalkan. “kalau dulu waktu saya masuk, kalau adzan semua langsung sholat. Terserah itu nasabah mau nunggu atau ikut sholat. Pokoknya pas sholat, pekerjaan ditinggal,” ujarnya. Meski banyak pihak yang menyayangkan keputusan Rusli mengundurkan diri, tetapi ia tetap bergeming untuk resign dan memilih untuk menjadi dosen di UMSIDA.

Bagi Rusli sebenarnya, bank syariah adalah aset yang bernilai tinggi bagi umat Islam. Sayangnya bank syariah banyak diisi oleh orang-orang yang tidak memahami syariah secara benar. “orang konvensional diimpor ke syariah. Jadinya produknya ya konven dengan nama syariah,” ujarnya. Rusli pun menyitir perkataan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ أَكْلَ الرِّبَا .

“Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba,”

Karena itu ia berharap dengan profesinya sekarang, ia mampu memberikan kontribusi kepada kemajuan dan peradaban Islam. “saya berharap mahasiswa saya setelah paham tentang ekonomi syariah, bisa mengisi pos-pos penting di perbankan syariah,” ujarnya menutup pembicaraan.

KOMENTAR