Dari situ saya buka al-Maidah ayat 3. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Saya langsung deg-degan. Kok gini ya. Saya mikir terus. Sedangkan di kitab injil tidak ada penegasan seperti ini. Tidak ada. Jangan-jangan saya keliru, ujar Antonius Andik Andrianto saat menceritakan kisah nya menjadi mualaf.

Dengan izin Allah, ahad pagi Andika akhirnya bersilaturahmi ke kantor gohijrah.com di Jalan Diponegoro 39 Surabaya. Mengenakan baju polo shirt bermotif belang, ia didampingi Mami Tesa, Humas Rumah Singgah Mualaf Surabaya. Selain membalas silaturahmi kami tempo hari, Andika juga menghantarkan mualaf yang hendak dihapus tatonya. Kebetulan saat itu di gohijrah memang ada program penghapusan tato khusus bagi mualaf perempuan. Engga susah kan carinya, kata kami setelah menjawab salam Andika. alhamdulillah mudah kok, jawab Andika.

Setelah berbicara soal kegiatan dan kesibukan masing-masing, kami pun mulai bertanya bagaimana awalnya ia mengenal Islam hingga memutuskan menjadi mualaf. Saya masuk Islam tanggal 14 February 2007. Waktu itu masih kelas 2 SMK, ujarnya.

Sebenarnya keluarga Andika berasal dari keturunan muslim. Sayangnya, saat masih duduk dibangku SMP, ibunya, diasuh oleh kerabat yang menganut katolik. Karena dasar agama yang kurang, ibunya pun terpengaruh mengikuti agama kerabatnya tersebut. Menginjak usia dewasa ibunya Andika menikah dengan bapaknya. bapak islamnya kurang. Abangan. Karena itu setelah menikah terpengaruh ibu, kata Andika. Dengan begitu keluarga Andika akhirnya seluruhnya menganut katolik.

Ketika duduk di bangku SMP kelas dua Andika dibaptis. Andika pun berkeinginan untuk menjadi pastur. Maklum sejak SD dan SMP Andika menjadi misdinar (asisten misa, dari Bahasa Belanda misdienaar, adalah mereka yang membantu Imam saat mengadakan Perayaan Ekaristi).

Andika pun mengutarakan rencana tersebut ke gurunya. Oleh gurunya Andika dipertemukan dengan paroki (semacam takmir dalam Islam, red). Dalam pertemuan itu Andika diberikan rekomendasi untuk mendalami katolik melalui kesusteran. ya semacam les lah, ujar Andika.

Dari kesusteran itulah Andika akhirnya bersinggungan dengan Islam. Oleh susternya kala itu, Andika dikenalkan dengan pelajaran Islamologi. Susternya saat itu mengatakan, kalau mau tahu tentang Islam, ia diminta untuk melihat bagaimana perilaku seorang muslim. coba lihat sandal kalau di Masjid hilang, ujar Andika menirukan susternya sambil tertawa. saat itu sih saya iya aja. benar juga, imbuh Andika.

Nah suatu ketika suster tersebut libur. Otomatis tidak ada pelajaran. Ia bersama teman-temannya hanya disuruh belajar membaca di perpustakaan. Dengan izin Allah Andika ternyata memilih membaca buku di lorong islamologi. Di lorong tersebut memang banyak buku-buku tentang Islam. Mulai dari Quran, Hadis, hingga buku karangan para ulama. Saat di lorong itulah Andika membaca Quran. Dari situ saya buka al-Maidah ayat 3. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Langsung deg-degan. Kok gini ya. Saya mikir terus. Sedangkan di kitab injil tidak ada penegasan seperti ini. Tidak ada. Jangan-jangan saya keliru, ujar Andika. Dari pengalamannya membuka Quran itulah Andika pelan-pelan mulai mundur dari pendalaman alkitab untuk persiapan seminari.

Begitu lulus SMP suster yang mendampingi Andika menanyakan niatnya untuk ke seminari. engga jadi suster. Susah hafalin doa, ujar Andika beralasan. ah kamu kurang berani, kata Andika menirukan jawaba susternya saat itu.

Karena tidak jadi ke seminari, Andika berencana masuk ke SMA Favorit di Madiun, Qadarallah ia gagal dan masuk di SMK Kimia Madiun. Di sanalah ia bertemu dengan seorang teman bernama Hendra. Suatu ketika Hendra membawa buku berjudul al Quran berbicara tentang kristen. Iseng-iseng Andika pun meminjam buku tersebut. ngapain pinjam buku begini, ujar Andika menirukan keheranan Hendra. Kerena terus memaksa akhirnya Hendra pun meminjamkan buku tersebut.

Dalam buku tersebut dijelaskan mengenai argumentasi tentang kesalahan-kesalahan injil. Awalnya Andika tidak percaya tetapi setelah dicek di dalam injil, ternyata semua kutipan sesuai dengan injil. Salah satu kutipan yang menjadi perhatian Andika saat itu adalah tentang seseorang yang akan datang setelah yesus dibunuh. dalam injil markus, matius, lukas, dan yohanes beda semua. Injil kan dari tuhan, masa berbeda-beda, ujarnya kala itu.

Seusai membaca buku tersebut Andika mulai meragukan ajaran katolik. Satu semester ia tidak mengikuti pelajaran. Andika juga sudah tidak pernah ke gereja. Itu juga yang membuat Andika berdoa kepada tuhan agar diberikan petunjuk. Dalam hatinya ia bertanya, masa sih saya harus masuk Islam?

Karena sudah tidak mengikuti pelajaran nasrani, Andika sering memperhatikan teman-temannya yang sedang mengikuti pelajaran agama di Masjid. Bahkan ia sering duduk di serambi masjid sambil mendengarkan pelajaran agama Islam. karena itu benar, orang bilang sering mainlah ke masjid. Siapa tau dapat hidayah. Ya contohnya saya ini, ujarnya tertawa.

Hingga akhirnya hari Rabu jam pelajaran pertama, Andika mengutarakan keinginannya untuk masuk Islam kepada Hendra. Tentu saja Hendra kaget luar biasa. Andika pun kemudian diajak ke guru agama Islam untun berikrar syahadat. Oleh gurunya Andika diminta untuk belajar wudhu. karena malu wudhu di masjid, saya akhirnya minta diajari wudhu di kamar mandi, kenang Andika sambil tertawa.

Setelah menjadi mualaf, Andika masih tetap merahasiakan keIslamannya. Untuk sholat ia lakukan secara sembunyi-sembunyi. Bahkan saat itu Andika pun masih datang ke gereja, ikut misa natal bersama hingga makan roti dan minum anggur saat misa. kalau doa saya ya ikut berdiri. Kalau waktu nyanyi saya diam aja. Baru kalau ibu ngelirik, saya pura-pura menyanyi, kata Andika tertawa lepas. Selepas SMA Andika mendapatkan kerja di Surabaya. Baru setelah berpisah dari orang tua, Andika pun jujur mengakui ke Islamannya. saya tau ibu kecewa. Tapi Alhamdulillah masih bisa menerima saya, ujarnya.

Kebanyakan cobaan seorang mualaf berasal dari keluarganya. Entah itu diusir, tidak dianggap anak, hingga mengalami kekerasan fisik dan metal. Tetapi cobaan Andika menjadi muslim malah datang dari luar. Di tempat kerjanya Andika di non job kan oleh atasannya. Merasa tertekan Andika dalam hati bertanya, apakah ia bersalah karena masuk Islam? Kondisi non job membuat Andika stress dan mengalami titik terendah keimanannya. Bahkan kondisi itu hampir membuatnya kembali lagi ke gereja. Alhamdulillah ia memiliki teman yang memberi semangat kepada Andika. Teman itu mengatakan kepada Andika bahwa orang yang beriman pasti akan mendapat ujian. Karena itu Andika harus bersabar saat diuji. Setelah bersabar, pertolongan Allah itupun akhirnya datang kepada Andika. Pimpinan kerja Andika memberi tugas untuk memperbaiki salah satu mesin pabrik. semua orang sudah gagal. Dalam hati saya ragu. Tapi saya berusaha terus dan berdoa kepada Allah dan Alhamdulillah saya berhasil, kata Andika.

Ujian lain yang dialami Andika adalah mimpi yang terus menerus datang saat tidur. Ia menuturkan sering kali bermimpi tentang yesus dan bunda maria. Bahkan bunda maria sering kali datang memeluknya. Alhamdulillah setelah mengikuti ruqyah syariah dan dibimbing terus oleh Ustad Bangun Samudera, mimpi tersebut hilang. Masya Allah. karena itu saya tidak habis pikir ada orang muslim mimpi yesus terus murtad. Itu bukan yesus, tapi setan, terangnya.

Setelah kejadian itu Andika pun semakin mantap untuk berIslam. Alhamdulillah setelah 10 tahun memeluk Islam, keluarga Andika pun satu persatu juga menjadi mualaf. Hingga yang terakhir adalah kakaknya pada Oktober 2017 yang lalu. Semoga Allah memberikan keistiqomahan terhadap Andika hingga ia bertemu dengan Rabb-nya.

KOMENTAR