Berbisnis itu seperti naik motor. Kadang melewati jalan berlubang, kadang ke kanan dan kadang ke kiri. Bahkan kadang terjatuh. Yang penting sebelum perjalanan kita harus melakukan persiapan terlebih dahulu. Berdoa, tawakal kepada Allah dan berusaha sebaik mungkin. Agar dlm mencapai tempat tujuan dimudahkan, Hermawan Herjuno Sugondho, owner Kampoeng Steak dan Milkmoe.

Sudah beberapa kali sebenarnya kami, gohijrah.com hendak mewawancarai Jonet, panggilan akrab Hermawan Herjuno Sugondho. Tapi qadarullah beberapa janjian yang kami sepakati tidak berhasil dengan mulus. Alhamdulillah Rabu, 27 Desember 2017, waktu kami men-share info kajian yang kami selenggarakan, Jonet menyanggupi untuk sesi wawancara. Dipilihlah tempat untuk bertemu, Kampoeng Steak cabang Nginden Semolo.

Begitu kami tiba di lokasi, kami baru sadar hari itu ternyata bertepatan dengan hari jadi Kampoeng Steak yang ke 15, Masya Allah. Sudah 15 tahun rupanya. makanya kok banyak balon, gumam kami dalam hati. Ditemani jus avocado yang segar, kami menunggu Jonet kurang lebih 10 menit.

Kampoeng Steak yang berlokasi di Nginden ini cukup nyaman. Di desain seperti kafe dengan beberapa furniture meja dan kursi kayu barbalut anyaman bambu. Klasik dan nyaman meski tanpa pendingin ruangan. Setelah sesi wawancara, kami baru tahu ternyata bangunan berlantai empat itu memiliki lapangan badminton dan hall untuk pengajian rutin karyawan.

assalamualaikum, sapa Jonet saat pertama kali bertemu. Jujur ini baru pertemuan kami yang kedua. Tetapi rasanya seperti bertemu dengan kawan lama. Akrab. Mengenakan kaos bertulis Kampoeng Steak 15th, dengan tulisan go spiritual company di lengan kanan dan topi flat cap berpadu dengan sepatu pantofel dan celana hitam, membuat Jonet terlihat segar dan casual.

Sambil menikmati jus avocado, Jonet menceritakan pengalamannya mengelola bisnis steak. Ternyata membuka bisnis kuliner bukanlah cita-cita Jonet. Cita-citanya saat itu adalah menjadi pegawai bank! Karena itu ia memilih kuliah D3 jurusan perbankan. Begitu lulus, Jonet kemudian mencoba melamar ke institusi perbankan. alhamdulillah gagal, kata Jonet tertawa. Akhirnya ia bekerja di sebuah kafe di Solo. Lepas dari pekerjaannya di kafe, Jonet bekerja menjadi bartender di salah satu diskotik di Solo. waktu itu dunia saya terbalik. Kalau malam bangun, kalau siang tidur, ujarnya. Dunia malam dan keburukannya pun menjadi kebiasaan Jonet hingga akhirnya ia memutuskan keluar dan bekerja di restoran steak.

Dari restoran tersebut Jonet mengetahui cara memasak dan memahami seluk-beluk bisnis steak. selain masak, saya kebetulan kebagian belanja daging dan bumbunya. Jadi saya tahu persis berapa harga dasar seporsi steak, katanya. Jonet pun sadar, margin keuntungan bisnis steak ala resto terlalu besar. Karena itulah ia melihat peluang untuk membuat kuliner steak yang murah dan terjangkau bagi semua.

Bisnis kuliner steak Jonet dimulai dari emperan sebuah bangunan di kota Solo. kalau siang dipakai bengkel. Malam saya buka dasar untuk jualan, ujar pria penghobi motor besar ini. Dengan nama Obonk Steak, Jonet dibantu oleh keluarganya memulai usaha kuliner steak kampung berharga murah. alhamdulillah ternyata laris dan bisa diterima, kata Jonet. Selain harga yang murah, salah satu kelebihan steak Jonet saat itu adalah rasa yang disesuaikan dengan lidah orang jawa. Sedikit manis dan gurih.

Melihat bisnis kulinernya yang mulai tumbuh, tahun 2001 Jonet pun diajak temannya untuk membuka usaha kuliner serupa di Surabaya. Rencanapun mulai diatur. Pemilihan lokasi, konsep bisnis, hingga masalah pembagian modal pun sudah direncanakan. Temannya yang bertugas untuk menyewa tempat dan Jonet yang mengisi peralatan dan perabotan. Tapi qodarallah tiba-tiba temannya tersebut menghilang. saya ga tau alasannya. Padahal modal saya sudah habis buat beli semuanya, ujar pria berkacamata ini.

Tidak ingin menyerah, Jonet pun berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan rencananya. Rumah digadaikan, motor dijual, bahkan barang-barang kecil yang bisa dijual ia jual untuk menutup biaya sewa restoran. Alhamdulilah, dengan izin Allah kini Jonet memiliki 15 cabang Kampoeng Steak di Jakarta, Bandung dan Surabaya dan 3 kuliner berbahan dasar susu, Milkme dengan omzet miliaran rupiah.

Berbisnis itu seperti naik motor. Kadang melewati jalan berlubang, kadang ke kanan dan kadang ke kiri. Bahkan kadang terjatuh. Yang penting sebelum perjalanan kita harus melakukan persiapan terlebih dahulu. Berdoa, tawakal kepada Allah dan berusaha sebaik mungkin, ujar Jonet.

Kedepan, selain mengembangkan bisnis ke luar Jawa, Jonet juga berharap perusahaan miliknya semakin profesional di sisi manajemen dan semakin religius di sisi karyawan. mereka tanggung jawab saya. Jamaah saya. Sebagai muslim saya berdosa jika tidak bisa mengarahkan karyawan mendekat kepada Islam, ujarnya menutup pembicaran.

Barakallahu fiik mas Jonet. Semoga dengan mendekatnya Jonet ke religiusitas Islam, Allah juga semakin memperbesar bisnis dan usaha Jonet.

KOMENTAR