Sebesar apapun masalah saya, saya masih punya Allah yang Maha Besar, Mochamad Shobiq, owner kafe Mbok Kom.

 

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, jalla jalaluhu yang telah memberikan kami kesempatan untuk berkunjung ke kafe Mbok Kom. Sebuah kafe yang sempat viral di media sosial karena hampir 90 persen karyawannya adalah penyandang disabilitas (dulu disebut penyandang cacat, red). Bahkan karena keunikannya itu, Mochamad Shobiq sempat diundang di acara TV nasional. Masya Allah.

Cukup mudah ternyata menemukan kafe Mbok Kom. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Telkom Ketintang. Tepatnya di Ketintang Madya 50 Surabaya. Memasuki lokasi kafe, tulisan Mbok Kom berukuran besar dengan warna merah langsung terlihat.

suasana kafe mbok kom

Dominasi furniture dari kayu jati belanda dan perpaduan siku dan rangka besi, membuat kafe bernuansa industrial ini terlihat keren. Tempat kasir dan kitchen yang didesain seperti container box, makin menambah kesan maskulin tempat tersebut.

Ada dua cara duduk di kafe Mbok Kom. Duduk di kursi seperti kafe biasanya atau memilih lesehan. Ketika kami datang, ternyata banyak yang memilih untuk lesehan sambil ngopi di waktu sore. Di dalam kafe juga terdapat sebuah panggung yang digunakan penyandang tuna netra untuk menghibur pengunjung kafe.

komunikasi dilakukan dengan bahasa isyarat

Sambil menunggu pemilik kafe, kami pun memesan menu yang disodorkan pelayan. Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut pelayan. Wajar, karena semua pelayan di kafe Mbok Kom adalah penyandang tuna rungu dan wicara. Jadi sahabat jangan kaget jika mampir ke Mbok Kom. Semua dilakukan dengan bahasa isyarat. Satu-satunya yang bukan penyandang disabilitas hanyalah kasir. Masya Allah.

Sekitar sepuluh menit pemilik kafe pun tiba. assalamulaikum. Maaf mas tadi lagi istirahat, ujar pria yang merantau ke Surabaya tahun 2005 tersebut. Sambil menikmati teh tarik, tahu goreng dan kentang goreng, Mochamad Shobiq atau yang biasa dipanggil Obiq dengan terbata menceritakan jatuh bangunnya merintis usaha kuliner sejak 12 tahun lalu.

Kisah Obiq, panggilan akrabnya, dimulai ketika ia memutuskan merantau dari Gresik ke Surabaya. Saat itu ia hanya bermodal doa dan niat. tidak ada keluarga di Surabaya, ujarnya. Karena itu Obiq akhirnya harus berpindah-pindah dari mushola dan masjid untuk sholat dan istirahat.

Iseng-iseng Obiq mencoba mendaftar kuliah di Unesa. alhamdulillah keterima, ujarnya. Setelah berkonsultasi dengan keluarga, alhamdulillah ada salah seorang kerabatnya yang mau membantu biaya kuliahnya. beliau saat itu sedang menjadi TKI di Malaysia, tutur Obit mengenang.

Tetapi bantuan kerabatnya hanya sebatas uang kuliah. Berkali-kali ia mencoba melamar kerja, tetapi karena fisiknya (Obiq adalah penyandang tuna daksa, red), tidak ada pihak yang mau menerimanya. padahal saya ga mikir uang. dapat makan saja sudah cukup, kata Obiq.

Dengan seizin Allah, Obiq kemudian mendapat inspirasi dari seorang kakek tua penjual es kacang hijau di kampus. Meskipun Obiq berhutang setiap hari, Mbah Man, nama kakek tersebut, tidak pernah menagih dan marah kepada dirinya. Bahkan ketika dirinya tidak berniat belipun, Mbah Man masih menawarkan untuk menikmati kacang hijaunya.

Tiba-tiba dalam hati Obiq muncul pertanyaan, bagaimana bisa seorang kakek yang hanya berjualan kacang hijau tapi bisa memiliki rumah dan menyekolahkan anaknya. Obiq pun akhirnya mulai mendekati Mbah Man agar diajari cara membuat es kacang hijau. Untuk itu ia rela membantu Mbah Man dengan membersihkan lokasi tempat berjualan dan mencuci gelas dan peralatan memasak yang kotor. Mbah man saya mbok diajari bikin kacang ijo. Ah sampean ini aneh-aneh aja, kata Obiq menirukan percakapan dirinya dengan Mbah Man.

Karena terus memaksa, Mbah Man pun mengajarinya. Dari membeli bahan hingga cara memasaknya. masak kacang ijo harus sabar. Harus betul-betul matang, tiru Obiq. Tetapi karena terbatasnya modal, Obiq terpaksa menunda rencana berjualan kacang hijau.

Cobaan Obiq ternyata tidak hanya sampai disitu, ia terpaksa harus pergi dari tempat kos lantaran tidak memiliki biaya lagi. Alhamdulillah dibantu seseorang teman, Deni, ia diperkenankan untuk tinggal di gudang dekat kuburan yang terletak di komplek PU Injoko. lokasinya sepi dan seram. Tapi saya tidak peduli. Yang penting bisa tinggal gratis, ujar Obiq.

Kebutuhan sehari-hari ia dapatkan dari temannya. Bagi Obiq, bisa makan sekali sehari saja sudah cukup. Apalagi kalau bisa makan dua kali. senangnya luar biasa mas. waktu itu tiap hari saya ketakutan, besok saya makan apa. semoga ada teman yang datang kesini, ujar Obiq terbata. Meskipun serba terbatas, hati Obiq tetap berusaha berontak ingin mewujudkan keinginannya berjualan es kacang hijau.

Kebetulan di sekitar tempat tinggalnya terdapat banyak sisa kayu bekas proyek yang sudah selesai. Melihat banyak kayu, Obiq mulai berpikir untuk membuat rombong. pokoknya pingin buat, tuturnya. Dengan pisau seadanya, Obiq mulai memotong kayu-kayu bekas itu dan menggabungkannya dengan paku sisa. Karena keterbatasan alat, rombong yang dibuat Obiq jauh dari kata cukup. Bahkan kata temannya: alah rek, gerombak kok kaya gini. Ga ada rodanya, tuturnya.

Tiap hari Obiq berimajinasi agar ia bisa mulai berjualan dan bisa membeli roda untuk rombongnya. Sambil berkhayal ia berdoa dan memandangi rombong. Ternyata Allah kemudian memberikan kemudahan. Tiba-tiba Deni mengajak Obiq ke daerah Demak Surabaya. Di sana ia dibelikan roda rombong bekas seharga 125 ribu. saya waktu itu senangnya luar biasa mas. Allahu Akbar, ujar Obiq berkaca-kaca.

Selesai satu masalah, muncul masalah lain. Kini Obiq bingung bagaimana mulai memasak. Kompor dan panci ia tidak punya. Uang untuk membeli bahan juga tidak ada. Lagi-lagi Deni menawari untuk mengambil kompor dan peralatan masak lainnya di rumahnya. Sedangkan untuk membeli bahan kacang hijau Obiq memutar otak dengan mencoba membantu orang berjualan es kelapa muda. bersih-bersih mas. Untuk uang saya tidak minta, tapi kalau dikasih diterima, tutur Obiq. Ternyata hasil kerja kerasnya masih belum cukup untuk membeli bahan es kacang hijau.

Kamu kok belum mulai jualan? tanya temannya. Merasa sudah banyak merepotkan, Obiq tidak menjawab sejujurnya. tiba-tiba saat tidur saya dikasih uang di bantal. Saat itu saya nangis mas, ujar Obiq mengenang. Berbekal uang dari Deni, Obiq diantar temannya yang lain berangkat ke daerah Bungurasih untuk berbelanja kacang hijau, gula, pandan, dan susu.

Keesokan harinya Obiq mulai berjualan keliling. Ternyata hingga sore dagangan Obiq tidak laku sama sekali. Dalam hati ia marah. Kacang hijau yang belum laku itu kemudian ia buang ke sungai. Kok begini ya. Orang lalu lalang kok ga ada yang lihat. Allah kok begini. Saya sudah berdoa. Saya tidak ngemis, tidak minta-minta, tutur Obiq sambil meneteskan air mata. Cukup lama Obiq terdiam. Menghela nafas panjang. Kami tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya sekarang. Tapi dari raut wajahnya, kami bisa merasakan begitu banyak beban yang sudah ia tanggung.

Semalaman Obiq tidak bisa tidur. Ia gelisah mau berjualan lagi apa tidak. Uang tinggal 17 ribu. Nekat, Obiq pun berjualan lagi. Di hari kedua ia dapat 7 ribu. Dengan harga 3.500 per porsi. senangnya luar biasa mas, ujar Obiq. Sayang di hari ketiga Obiq tidak berjualan. Uang yang dikumpulkan belum cukup untuk diputar

Lagi-lagi Deni yang datang. Kenapa tidak jualan lagi? tanya Deni saat itu. Setelah tahu permasalahannya, Obiq pun diajak kepasar. Membeli kacang ijo yang bagus dan bahan-bahan lainnya. kalau tidak salah hingga habis 200 ribu. Saya semangat luar biasa, kata Obiq. Obiq pun kini bisa berjualan lagi. Perlahan es kacang hijaunya mulai ada perkembangan dan mulai punya pelanggan.

Melihat Obiq berjualan, banyak orang yang tanpa membeli kemudian memberikan sejumlah uang. 500 rupiah. Kadang juga 1000 rupiah. Hal itu membuat Obiq marah. Karena ia merasa berjualan dan bukan mengemis. saya masih kuat kok. Sebesar apapun masalah saya, saya masih punya Allah yang Maha Besar," tuturnya.

Salah seorang pelanggan kemudian mengusulkan untuk berjualan di trotoar. Obiq pun menurutinya. Ia mulai membersihkan trotoar tersebut dan mulai berjualan di satu lokasi. Setelah itu Obiq pulang, rombong kacang hijau ia tinggal di trotoar. Nah besok mau berjualan lagi, ternyata rombong sudah tidak ada, ujarnya dengan nada tinggi. Marah bercampur kesal, Obiq pun mencari rombong tersebut. Ternyata rombong miliknya dibawa oleh kemananan setempat ke balai RW. Teman-temannya yang mengetahui kondisi itu ikut-ikutan tidak terima. Mereka mendatangi balai RW beramai-ramai. Mendapatkan tekanan, pihak RW memperbolehkan Obiq berjualan kembali. tapi gangguannya masih ada mas. Dianggap kemproh lah, merusak pemandangan lah, ujarnya. Dalam hati ia cuma bisa menangis. kok tega ya sama saya, tuturnya.

Lambat laun jualan Obiq mulai ramai. Kacang hijau tambah gorengan, ditambah teh, dan kopi. Pelan-pelan Obiq juga memasang atap dari banner. Semakin ramai akhirnya Obiq bisa mempunyai beberapa warung, mampu membeli motor, mobil dan rumah

Hingga suatu hari Obiq teringat kerasnya perjuangan di masa lalu. Betapa tidak enaknya menjadi orang dengan kebutuhan khusus. Karena itu Obiq pun mulai bertekad membantu teman-temannya penyandang disabilitas. Dengan bermodal doa dan harta yang ia miliki, ia mulai membangun kafe Mbok Kom. Nama tersebut diambil dari kata mbok yang artinya ibu dan Kom dari kata Komsah, nama kandung ibunya.

Untuk membangun Mbok Kom, Obiq rela mengeluarkan uang sebesar 900 juta hasil penjualan rumah dan mobil yang ia miliki. Ini adalah wujud rasa syukur saya. Memberikan kesempatan kepada mereka (penyandang disabilitas, red). Allah aja ngasih saya kesempatan, masa saya tidak mau ngasih kesempatan buat mereka. Kini selama hampir 3 bulan berdiri, penghasilan bersih kafe Mbok Kom tembus hingga 45 juta perbulan dengan 37 karyawan yang berasal dari penyandang disabilitas dan narapidana. Masya Allah

Semoga Allah memberikan ketetapan hati bagi kang Obiq dan menjaganya untuk tetap istiqomah.

KOMENTAR