Oleh : Ustadz Budi Ashari, LC

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kalau begitu, bergembiralah dan berharaplah memperoleh sesuatu yang melapangkan diri kalian. Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku kahwatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (Hadits riwayat Muslim (2961) dan al-Bukhari (6425), dan Ibnu Abi ad-Dunya dalam kitab tentang Zuhud hal. 73).

Prinsip yang perlu dipahami diawal kajian ini, bahwa kekayaan itu bukanlah semata-mata sebagai suatu kemuliaan yang harus dikejar oleh setiap muslim, karena beratnya beban yang akan ditanggung atas kekayaan tersebut.

Untuk menjadi kaya, kita perlu bercermin kepada generasi terbaik umat, yaitu generasi para sahabat radhiallahu'anhum.

Sebagai referensi, berikut gambaran kekayaan 3 orang Sahabat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dan itu menjadi alasan bagi kita untuk meneladani kemuliaan mereka (dalam kurs rupiah) :

1. Utsman Bin 'Affan : 1.95 triliun rupiah, (shadaqah 440 miliar)
2. Abdurrahman Bin 'Auf : 66.4 triliun rupiah
3. Zubair Bin Awwam : 3.2 triliun rupiah

Ketiga sahabat mulia tersebut, termasuk generasi terbaik dan sangat memahami makna dan seluk beluk tijarah (berdagang) dan bai' (jual beli) sesuai dengan yang disyariatkan dalam islam.

Tijarah dan bai' bukan hanya sekedar urusan materi dan dunia, lebih dari itu, keduanya sangat erat terkait dengan urusan ukhrawi (akhirat).

Prinsip yang ketiga sahabat radhiallahu'anhum tersebut pergunakan adalah :

# Utsman Bin 'Affan
1. Langsung turun tangan » Tidak diwakilkan kepada orang lain, diawal bisnisnya. Manfaat yang didapatkan : interaksi dengan banyak orang, jaringan luas dan pengalaman semakin kuat.
2. ‎Mengembangkan » Keuntungan yang didapatkan disisihkan sebagian untuk modal usaha berikutnya. Hasil panen terbagi 3 : dinikmati, dijadikan modal lagi, dishadaqahkan.
3. ‎Tidak meremehkan keuntungan » Berapapun keuntungan yang akan didapatkan tetap harus diupayakan dan disyukuri. Keuntungan sedikit, tapi perputaran cepat.
4. ‎Tidak membeli yang tua » Tidak membeli barang stok lama.
5. ‎Menjadikan modal 1 menjadi 2 » Misal ada modal 1000 Dinar, maka akan lebih baik dibagikan ke dalam 2 jenis usaha, bukan semuanya ditumpukan kepada hanya 1 jenis usaha.

# Abdurrahman Bin 'Auf :
1. Tunjukkan padaku dimana pasar ? » Dengan ketrampilan yang dimiliki, di awal kedatangannya berhijrah di Madinah, beliau langsung masuk ke pasar, berjualan minyak samin & susu beku, sampai beberapa saat mampu membeli emas, mampu menikah dan hingga mencapai kejayaannya.
2. ‎Membeli dengan tunai, bukan berhutang » Prinsip ini menjadikan beliau mampu : membayarkan hutang banyak orang, menghutangi banyak orang dan menyantuni banyak orang.
3. ‎Tidak pernah menganggap remeh, berapapun keuntungan yang diterima. »  Menghargai jerih payah dan pandai bersyukur.
4. ‎Tidak membeli barang yang cacat » Jika harus terjadi, maka harus dijelaskan kondisi cacat barang yang diperjualbelikan.
5. ‎Allah memberkahi siapa yang dikehendakiNya.

# Zubair Bin Awwam
1. Meninggal dunia saat masih memiliki hutang 2.200.000 dirham » Beliau meninggal dunia tanpa meninggalkan dinar & dirham. Beliau hanya meninggalkan 2 bidang tanah dan belasan rumah di beberapa kota & negara. Harta tersebutlah yang kemudian dipergunakan untuk membayar semua hutangnya. Sang anak, Abdullah Bin Zubair, mengumumkan hutang ayahnya kepada khalayak umum selama 4 tahun, sebagai bentuk kehati-hatian.
2. ‎Dipercaya banyak orang untuk menitipkan uang kepadanya. Prinsip dalam menerima titipan, beliau menjadikan akadnya bukan sebagai titipan, melainkan sebagai hutang piutang, yang bisa dimanfaatkan dan harus dikembalikan pada saat jatuh tempo. Karena itulah diakhir hayatnya beliau menyisakan sejumlah hutang.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, bersabda : "Allah merahmati kepada orang yang ringan jika menjual atau membeli dan jika menagih hutang." (HR. Bukhari).

Dari Abu Umamah radhiallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda : "Sesungguhnya seorang pedagang apabila mempunyai empat sifat pedagang, maka rezekinya akan lancar : Apabila ia membeli barang ia tidak mencela, apabila menjual ia tidak memujinya dengan berlebihan, apabila menjual ia tidak menipu dan apabila menjual atau membeli tidak bersumpah" (Ashbahani).

Wallahu Ta'ala A'lam.

(Diringkas oleh : Isfanz Rozyn)

KOMENTAR