Sering kita dengar nasehat “jadi anak jangan malas, nanti hidupmu gak bisa sukses,” hal yang lumrah diucapkan oleh orangtua dan guru, untuk menyemangati anak atau muridnya agar bisa sukses meraih cita-cita. Tetapi hal tersebut tidak berlaku bagi Irham, pria bernama lengkap Irham Hadi Pratama ini malah merasa bahwa masa sekolahnya dihabiskan dengan bermalas-malasan.

            Saat ditemui di tempat kerjanya, Irham mengenakan kemeja kotak-kotak biru dan celana hitam di atas mata kaki bersemangat menceritakan kisah yang menurutnya jarang diketahui oleh sahabat atau bahkan keluarga dekatnya. Perjalanan hidup pria blasteran Banjarmasin dan India ini ternyata punya lika-liku cerita yang sangat pantas dijadikan inspirasi sahabat hijrah.

            “Mempunyai mimpi atau cita-cita adalah modal utama manusia. Mimpi dan cita-citalah yang nantinya membawa kita kepada arah tujuan yang kita inginkan,” ujar bapak satu anak ini kepada tim go.hijrah.com.

            Seseorang membutuhkan mimpi dan cita-cita agar ia bisa fokus untuk menjadi apa di dunia ini, karena bila seseorang hanya menjalani hidup tanpa cita-cita maka sering bertemu dengan titik jenuh yang membuat orang tersebut menjadi pemalas.

            Hal tersebut disampaikan pria dengan jenggot ini karena ia pernah mengalami fase dimana hidupnya sama sekali tak ada arah tujuan, mimpi dan cita-cita. Hidupnya seakan menjadi sesuatu yang tak penting dan hidupnya dijalani dengan mengalir saja.

            “ Saya selama sekolah, tak pernah memikirkan mau jadi apa, yang penting saya senang, butuh uang selalu dikasih,” jelas anak ke lima dari lima bersaudara ini.

            Sejak duduk di sekolah dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA), Irham muda tak pernah punya prestasi akademis yang bagus, bahkan cenderung bermasalah karena seringkali membolos sekolah. Bahkan rekor membolos yang cukup fenomenal adalah saat ia bersekolah di sebuah SMA swasta di Surabaya, masuk sekolahnya hanya tiga hari tetapi membolos selama tiga bulan, hingga akhirnya sang ayah Muhammad Usman harus dipanggil guru Bimbingan Konseling untuk mempertanggungjawabkan kelakuan anaknya tersebut.

            Ayah dan Ummu Irham memang hampir tidak pernah marah kepadanya, bisa jadi karena memang ia anak terakhir, bahkan saat terancam dikeluarkan dari SMA, ayahnya sampai berdiskusi dengannya  mengenai sekolah yang nyaman itu seperti apa, akhirnya pilihan jatuh di SMK PGRI 4 Surabaya, dengan pilihan jurusan teknik elektro.

           “ Saat bersekolah di SMK PGRI 4 Surabaya, saya sempat berdiskusi denga salah satu guru bimbingan konseling, saya beranggapan bahwa seorang bill gates yang malas saja bisa sukses, tukang rombeng sebelah rumah saya saja bisa kaya meski tanpa sekolah, saya harusnya bisa sukses juga seperti mereka,” tambahnya.

            Tak disangka, guru tersebut bukannya marah mendengar alasan tersebut, ia malah tersenyum sambil mengambil perbandingan, kira-kira ada berapa orang yang bisa sukses dengan malas dan berapa banyak yang sukses dengan rajin dan kerja keras. Logika tersebut ternyata cukup ampuh untuk membalik pemahaman Irham sebelumnya, dan sejak saat itu ia mulai rajin masuk sekolah dan sukses hingga lulus SMK.

            Tetapi tak berhenti sampai di tingkat sekolah, saat di bangku kuliah, seakan menjadi sebuah penyakit kambuhan, rasa malas tiba-tiba muncul lagi pada semester tiga perkuliahan, hingga ia harus cuti selama setahun kuliah. Menginjak semester lima pada tahun 2011 ia tak sengaja bertemu dengan teman SMPnya dahulu, pria itu bernama Ahmad Luthfi Amrullah yang akrab disapa Luthfi ini ternyata sedang merintis bisnis yang disebut Gorgir atau Gorengan Girang.

            “Saat kembali mengidap kemalasan di bangku kuliah, saya tak sengaja ketemu Luthfi setelah shalat di masjid, dari pertemuan itu kami menjadi sering ngobrol khususnya terkait bisnis, saat itu dia (luthfi) sudah mulai bisnis gorgir, jualan gorengan tapi dengan konsep modern,”  tukas pria yang pernah kuliah di jurusan teknik elektro di Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya.

            Irham yang mewarisi keahlian membuat spiku kukus dari umminya, merasa bahwa berbisnis spiku kukus adalah sebuah pilihan yang patut diperhitungkan. Sempat muncul keraguan apakah bisa sukses dari berbisnis ini, kemudian pria yang juga pernah tergabung dalam pecinta alam ini bertemu dengan sebuah buku berjudul the power of kepepet karya Jaya Setia Budi atau yang akrab disapa bang Jay. Semakin ia membaca buku tersebut, akhirnya menemukan sebuah pemahaman bahwa untuk sukses kita harus memiliki kekuatan penekan, ibarat orang bila dipinggir jurang dan sedang dikejar singa maka mau tidak mau akan melakukan lompatan yang luar biasa untuk bisa merubah nasibnya.

            Terlintas sebuah ide gila dari pikiran Irham untuk keluar dari kuliah, agar ia mampu memunculkan kekuatan agar kepepet dan bisa jadi pengusaha, akhirnya keputusan keluar kuliah diambil, hal ini sempat membuat khawatir umminya, tetapi dengan berbagai cara komunikasi yang baik, akhirnya orangtua bisa menerima keputusan yang dirasa tidak masuk akal tersebut.

            “Ayah sampai mendudukkan saya di ruang tamu, tanpa memberi jeda saya berbicara sedikitpun, keputusan keluar kuliah saya cukup membuat kecewa ayah, tetapi ia tak membatasi anaknya untuk memilih jalan hidup asalkan bisa mempertanggungjawabkannya.“ tambahnya.

            Untuk mulai membuktikan niatnya menjadi pengusaha, suami dari Nur Aini Madjid ini mulai menghubungi sahabatnya Lutfhi untuk bisa belajar mengawali bisnis, setelah berdiskusi dengan Lutfhi cukup lama, akhirnya mereka berdua sepakat bahwa dalam berbisnis harus memiliki coach atau pendamping bisnis, agar dalam praktik bisnis yang cenderung dinamis, semangat untuk terus mempertahankan bisnis tetap berkobar.

             Akhirnya dipilihlah Sigit Hendrawan atau yang akrab dipanggil Hendy sebagai pendamping bisnis, pria yang merupakan pemilik rumah makan bebek Pak Joss ini tak disangka dengan senang hati membantu Irham dan Luthfi yang ingin belajar, dimulai dari pengenalan produk hingga diskusi terkait pemasaran hingga penguatan brand, Irham merasa bahwa promosi dalam berbisnis tak kalah penting selain menjaga kualitas produk.

            “Mas Hendy saat itu mengajarkan banyak hal kepada saya terkait bisnis, terutama juga bagaimana menjaga bisnis agar bisa terus melejit, salah satunya memperkuat promosi serta menjaga kualitas produk menjadi yang utama.” Tambahnya.

            Tepat pada tahun 2012, bermodal uang sekitar dua puluh tiga ribu rupiah, mulailah Irham yakin memulai bisnis spiku kukusnya, pemilihan nama SPIKUS menjadi merk dagang juga didasari dari kakaknya dahulu yang pernah mau berbisnis serupa tetapi mengurungkan niatnya karena diterima kerja. Sekitar sebelas spiku kukus yang telah dibuat saat itu, tidak langsung dijual, tetapi ditawarkan kepada para tester saat itu.

            Mulai sejak berbisnis SPIKUS pula, akhirnya Irham mau tidak mau harus berhubungan dengan media sosial, awalnya membuat twitter, facebook, dan media sosial lainya, Irham diajari oleh kakaknya, tetapi tanpa waktu lama ia bisa menguasai media sosial tersebut.

            “Sejak saya mulai memilih berbisnis, saya sengaja menstop uang saku dari ayah, saya ingin mandiri dengan modal dalam diri saya, dan nyatanya dua puluh tiga ribu yang terkumpul dari recehan uang kembalian jajan saya dulu, berbuah SPIKUS yang enak,” jelas pria yang gemar memelihara kucing ini.

Perjalanan memperkenalkan SPIKUS tak henti sampai disitu, pertemuan dengan mas Hendy yang juga aktif pada organisasi anak yatim di Surabaya ini, suatu saat mengajak Irham dalam sebuah kegiatan nonton bareng film negeri lima menara bersama anak yatim di Surabaya, dari sanalah mulai disebar tester semakin banyak dan hampir semua yang mencicipi spiku kukus milik Irham memberi testimoni positif.

            Kemudian pada awal 2013, salah seorang presenter TV swasta nasional yang pernah ditawari SPIKUS oleh Irham bernama Vivit Kafi, menawarkan SPIKUS bisa diliput untuk ditayangkan di televisi. Sempat ragu karena merasa masih pemain baru, tetapi dalam hati muncul keinginan kuat untuk mengambil kesempatan yang langka itu, akhirnya setelah diliput dan ditayangkan pemesanan SPIKUS naik hampir lima kali lipat.

            “Memang dahsyat kekuatan Allah Subhanahu wata’ala saat kita mau peduli terhadap anak yatim, ternyata kita sebagai hamba juga diperhatikan luar biasa. Bisnis yang saya rasa sempat lesu, ternyata bisa melejit lewat arah yang tidak diduga-duga.” Tambahnya.

            Akhirnya Irham yang saat itu masih single fighter dalam menjalankan bisnisnya, terpaksa hanya tidur selama 3 jam setiap harinya, memproduksi spiku, menjawab orderan, melakukan promosi, hingga packing pengiriman ia lakukan sendiri tanpa ada bantuan. Merasa sudah mendapat omzet cukup besar, mulailah ia berani merekrut beberapa orang untuk menjalankan bisnisnya, karena para penggemar SPIKUS tidak hanya dari Surabaya saja, tetapi hingga Jakarta dan Kalimantan.

            Dalam perjalanan berbisnis pula, Irham menemukan banyak percerahan hidup, dahulu ia merasa bahwa kajian di masjid-masjid hanyalah sebuah cemilan untuk ajang kumpul dan berdagang, tetapi seiring berjalan mengenal fiqih muamalah, ia merasa bahwa sangat penting mengetahui cara berdagang yang diridhoi oleh Allah subhanahu wata’ala. Mulailah ia bergabung dengan komunitas pengusaha muslim yang diharapkan bisa membantu dirinya menemukan sesama sahabat pengusaha yang semakin mendalami ilmu agama.

            “Jadi hijrah saya dimulai dari muamalah dulu, kemudian barulah saya tersadar bahwa bermuamalah dalam Islam tidak hanya sekedar jual beli saja, tetapi ada unsur dakwah di dalamnya, sehingga mau tidak mau kita harus belajar mendalami agama juga supaya muamalahnya bisa bernilai dakwah,” jelas pria yang saat ini aktif dalam grup My Sohib ini.

            Perjalanan hijrah Irham tentu juga tak lepas dari dukungan Nur Aini Madjid atau yang dikenal sebagai Nungky yang juga memiliki usaha baju pengantin muslim Laksmi, sejak menikah pada tahun 2014 pasangan yang dikaruniai satu orang putri ini terus belajar menjalani syariat Islam yang benar, khususnya dalam hal bermuamalah.

            Saat ini Irham dan Istrinya mempunyai total pegawai 50 orang yang terbagi dalam bisnis SPIKUS dan Baju Pengantin Laksmi, keduanya sepakat untuk bisa saling mengembangkan bisnis sesuai denga syari’at Islam, seperti Laksmi yang sejak dinahkodai oleh Irham, mulai fokus hanya menerima pesanan baju muslim saja, hingga mulai mengadakan kajian rutin di tempat usahanya.

            “Istri saya Nungky juga selalu memberikan dukungan untuk terus berbisnis sesuai dengan syariat Islam, jadi tidak hanya kami yang harus ikut kajian, tetapi juga seluruh pegawai Laksmi dan SPIKUS harus tau ke arah mana bisnis ini akan dikembangkan.” Tambahnya.

            Bagi sahabat gohijrah.com Irham juga berpesan bahwa saat kita ingin memulai bisnis, alangkah baiknya juga diimbangi dengan pengetahuan agama yang baik, sehingga tidak terjebak dengan dosa-dosa besar dalam muamalah seperti riba, ghoror, dan dzalim dalam bermuamalah.

            Yakinlah bahwa rejeki setiap manusia sudah dijamin oleh Allah subhanahu wata’ala, yang belum dijamin adalah bagaimana cara kita meraihnya, manusia diberi pilihan mau mengambil rejeki dengan cara yang baik atau cara yang batil, dan pastinya kita baru bisa mengetahui dan membedakan mana yang baik dan batil bila belajar ilmu agama.

            “Semoga dengan ikhtiar saya belajar agama ini, Allah subhanahu wata’ala akan membimbing saya untuk berbisnis sesuai dengan syariat Islam, dan pastinya yang dikejar bukan hanya banyaknya omzet tetapi juga keberkahannya,” tutupnya.

KOMENTAR