Apa yang ada di benak kita saat mendengar kata Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)? Pasti segala yang mengerikan tiba-tiba muncul dalam pikiran kita. Tidak salah memang, mengingat para penghuni lapas biasanya memang narapidana dengan kejahatan serius yang hukumannya minimal 5 tahun keatas. Perampokan, pembunuhan, bandar narkoba dan kejahatan kelas berat lainnya.

Tetapi kesan tersebut mulai menghilang ketika kami mulai memasuki aula Lapas Kelas I Surabaya di Porong. Sekitar 30an napi serentak menyambut kami dengan salam ramah dan kemudian menyanyikan lagu bertema kebangsaan. Saat dijelaskan mengenai program hapus tato, para napi yang rata-rata bertato itupun sumringah. Hal itu membuat kami semakin lupa bahwa kami sedang berada di lapas kelas I, lapas dengan pengamanan yang cukup ketat. Program hapus tato ini berbarengan dengan bakti sosial hasil kerjasama Gohijrah, Yayasan Sekar Mentari, Sahabat al Furqon dan Lapas Kelas I Surabaya, Senin 4 Juni 2018.

Kedatang kami ke Lapas Surabaya di Porong ini bukanlah kali yang pertama. Di tahun 2004 saat kami masih menjadi jurnalis media umum, kami pernah melakukan peliputan mengenai napi GAM dan kaburnya 7 orang napi dari lapas. Sebagai pengganti lapas kalisosok, saat itu kondisi di sekitar lapas masih sangat sepi. Masih penuh dengan sawah dan kebun tebu. Apalagi saat itu wilayah tersebut masih belum dilalui jalan tol seperti sekarang. Makanya kami cukup “pangling” ketika menuju ke lapas Surabaya ini. Kini, di depan lapas kini sudah banyak toko dan warung nasi untuk menyediakan makanan bagi pembesuk. Karena masih di bulan ramadhan, deretan warung nasi dan toko tersebut dalam kondisi tutup.

Tim gohijrah tidak datang sendirian. Kami sudah membuat janji sebelumnya dengan Yayasan Sekar Mentari dan al Furqon. Setelah menunggu sekitar 15 menit, akhirnya bertemulah kami dengan rombongan yang lain.

Dengan membawa mesin hapus tato, kami pun menuju gerbang masuk lapas. Waktu saat itu menunjukkan pukul 09.00 WIB. Pas dengan jam berkunjung lapas. “Nanti kita hanya dikasih waktu hingga duhur. Sekitar pukul 11.30, kata Mas Fariz dari sahabat al Furqon.

Begitu memasuki gerbang seorang penjaga menanyakan tujuan dan barang bawaan kami. “ini untuk apa pak” tanyanya sambil menunjuk mesin hapus tato yang kami bawa. Setelah dijelaskan, kami pun disilahkan untuk masuk. Ternyata pintu tersebut gerbang pertama lapas. Di gerbang selanjutnya, 3 orang penjaga lapas kembali menanyakan maksud dan tujuan kami. Tidak hanya itu, para penjaga tersebut meminta identitas resmi kami dan meminta seluruh alat komunikasi untuk dinonaktifkan dan disimpan di locker yang sudah disediakan. “semua hanphone harap diserahkan pak,” ujarnya tegas. Cukup ketat memang, mengingat ini adalah lapas kelas I.

Bagi yang belum pernah memasuki lapas, tentu saja pemeriksaan demi pemeriksaan tersebut membuat grogi. Apalagi bangunan lapas yang kaku nyaris tanpa ornamen dan hanya terdiri dari gerbang dan pagar besi membuat situasi sedikit dingin dan mencekam. Selesai melalui pemeriksaan kedua, kami pun dikawal dua petugas lapas laki-laki dan perempuan menuju aula dimana acara baksos dan hapus tato dilaksanakan.

Di dalam aula, ternyata para napi sudah menunggu kedatangan kami. Ada sekitar 30 sampai 50 narapidana di sana. Para napi tersebut merupakan napi binaan Yayasan Sekar Mentar. Yayasan ini ternyata sudah 16 tahun concern terhadap dakwah napi di lapas Surabaya. Untuk yayasan ini, insya Allah akan kami tulis terpisah.

Setelah masuk, pembawa acara kemudian mengenalkan kami ke para napi. Dengan ramah mereka mengucapkan salam dan kemudian menyanyikan lagu bertema kebangsaan. Suasana kaku yang tadi kami alami menjadi cair ketika wajah para napi sumringah saat kami menjelaskan program hapus tato.

“siapa yang punya tato dan mau jadi model percobaan” tanya pembawa acara berseloroh. Sambil tertawa, hampir seluruh napi mengacungkan jarinya. Kemudian dipilihkan pria bernama Syaiful, napi narkoba asal Jakarta. “sebelum dilakukan tindakan, dianastesi dulu ya,” ucap kami. Syaiful pun mengangguk setuju.

Sambil menunggu reaksi anastesi, salah satu dari kami, Mas Isfanz, memperkenalkan metode ruqyah mandiri kepada para napi. “Sebetulnya kami ingin mengadakan ruqyah masal, tetapi karena masih puasa, takut batal,” ujar Mas Isfanz. Kekhawatiran itu memang beralasan mengingat salah satu efek dari ruqyah adalah muntah.

Dalam penyampaiannya Mas Isfanz mengatakan, ruqyah bertujuan untuk membersihkan hati dan melembutkannya. Diharapkan setelah ruqyah peserta bisa lebih mudah menjalankan sunnah dan bertaubat kepada Allah. “Sambil meruqyah diri sendiri, kita juga harus mengingat-ingat dosa yang pernah kita lakukan,” kata Mas Isfanz.

Para napi kemudian diajarkan tata cara ruqyah secara singkat dengan membaca al fatihah, al-ikhlas dan surat muawidzatain, yaitu alfalaq dan annas. “Setelah membaca semua surat lalu ditiupkan ke tangan dan diusapkan ke seluruh badan,” tutur pria yang juga praktisi bekam tersebut. Di akhir penyampaiannya, Mas Isfanz membagikan buku saku dzikir pagi-petang bagi para napi yang bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan.

Anastesi untuk hapus tato di tangan Syaiful akhirnya bereaksi. Syaiful sudah merasa baal tangannya. Tato yang berada di tangan kirinyapun kini mulai dilakukan penindakan dengan mesin laser.

Sebagai informasi, mesin hapus tato ini adalah kerjasama gerak bareng community pimpinan Bang Zaki dengan gohijrah. “Weh langsung ilang e,” ujar salah satu napi takjub. Napi yang lain pun menimpali dengan semangat. Sekitar 10 menit akhirnya proses penghilangan tato milik Syaiful selesai. “Tetapi ini tidak langsung hilang,” ujar salah satu eksekutor mesin hapus tato. Memang, proses hapus tato tidak bisa satu kali. Untuk bersih dari tato secara total, dibutuhkan 5 hingga 8 kali tindakan, tergantung dari jenis tinta dan kepekatan tinta.

Begitu Syaiful selesai, para napi lainnya juga minta tatonya dihapus. “Tapi perlu dianastesi biar tidak sakit,” ujar tim eksekutor. Dengan tertawa mereka bilang,” ga usah, kuat kok.” Akhirnya setelah Syaiful, 3 orang napi pun dieksekusi tanpa menggunakan anastesi. “sakit, tapi lebih sakit kalau disiksa di neraka,” ujar salah satu dari mereka.

Kedatangan kami rupanya memberikan hiburan dan kebahagian tersendiri. Maklum rata-rata mereka merupakan narapidana dengan durasi panjang. Ada yang 7 tahun hingga seumur hidup. Apalagi dengan “atraksi” hapus tato. Menjadi sebuah keajaiban tersendiri bagi mereka. Karena setahu mereka, hapus tato hanya bisa menggunakan obat keras seperti soda api atau seterika. Maka tak heran penghapusan tato dengan laser membuat mereka takjub. Masya Allah.

Kedatangan kami juga dijadikan ajang curhat dan konsultasi masalah kehidupan dari sisi agama. Kepada mereka kami hanya bisa mengatakan untuk bersabar. Mengingat apa yang terjadi sekarang merupakan takdir dan resiko dari apa yang sudah mereka perbuat.

Tidak terasa adzan dhuhur pun berkumandang. Tanda bagi kami untuk kembali pulang. Para napi pun mengantarkan kami hingga pintu aula. Melihat kami keluar, mereka hanya bisa terdiam dan berdiri memandang. Entah apa yang dalam benak mereka.

Seandainya bisa, mungkin saja mereka berharap untuk ikut bersama kami. Meninggalkan lapas, meninggalkan kungkungan dinding setinggi lebih dari 7 meter yang membatasi gerak mereka dengan dunia luar. Seandainya bisa, mungkin saja mereka berharap bisa memutar waktu dan menyesali apa yang sudah terjadi selama ini. Tapi takdir sudah ditetapkan dan kebebasan mereka mungkin baru bisa didapat bertahun tahun lagi. Kami pun juga hanya bisa berdoa, semoga Allah menetapkan hati mereka untuk bertaubat, hijrah dan istiqomah di dalam agama yang mulia ini.

KOMENTAR