Benarlah kata pepatah arab العِلْمُ فيِ الصِّغَرِ كَالنَّقْشِ عَلىَ الحَجَرِ  yang artinya ilmu pengetahuan di waktu kecil itu bagaikan ukiran di atas batu. Membekas dan tidak akan hilang. Di saat titik terendah dalam hidupnya, sekelebat bayangan masa kecil saat bermain di masjid dan belajar sholat kembali muncul. Membuat Fentje Sumihe, 47, akhirnya memutuskan bersyahadat di dalam penjara setelah terkena kasus narkoba. Masya Allah

 

Di dalam kitab al-Mu’jamul Kabir, karang ath-Thabarani disebutkan, Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan hadis yang berbunyi

كُلُّ إِنْسَانٍ تَلِدُهُ أُمُّهُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

“Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

 

Hadis tersebut menunjukkan kepada kita bahwa setiap anak lahir dalam kondisi bersih. Tidak ada bayi yang terlahir secara otomatis menjadi Kristen, Hindu ataupun Budha. Orang tua mereka lah yang kemudian memilihkan agama bagi mereka. Karena itu, sebab hidayah dan pendidikan di usia dinilah yang kelak mentukan agama dan nasib seseorang.

Fentje pun mengalami hal demikian. Setelah mengalami kejatuhan di dalam hidupnya, ia akhirnya merenung. “Di penjara saya merasa kehilangan. Wah hancur semua ini. Kerjaan hancur, rumah tangga hancur. Dua minggu saya tidak ada pendirian. Goyah,” ujar pria berdarah Manado ini saat berkunjung ke gohijrah.

Kedatangan Fentje ke gohijrah dalam rangka hapus tato. Pria yang  memiliki beberapa tato di lengan dan punggung ini menyebutkan, dirinya mendapat informasi hapus tato dari Rumah Singgah Mualaf (RSM) Surabaya. Memang gohijrah saat ini sudah bekerjasama dengan RSM. Biasanya layanan hapus tato kami harus disertai dengan syarat hafalan surat Arrahman, tetapi khusus bagi para mualaf, tidak perlu dengan hafalan surat. Cukup menunjukkan sertifikat mualaf atau rekomendasi dari RMS.

Perkenalan Fentje dengan agama yang mulia ini sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Tetapi karena kesibukan pekerjaannya di bidang EO (event organizer, red) membuat ia tidak sempat memikirkan kembali tentang Islam. “ya tahu sendiri lah kehidupan orang eo. Senang-senang thok,” ujarnya.

Kepada kami Fentje kemudian menceritakan pengalaman masa kecilnya saat masih tinggal di daerah Perak, Surabaya. Ternyata rumah Fentje berdekatan dengan Masjid Mujahidin. Otomatis setiap hari ia mendengar suara adzan dan pengajian yang disiarkan dari loud speaker masjid.

Tinggal di lingkungan mayoritas muslim membuat Fentje kecil memiliki banyak teman-teman muslim. Bahkan sejak di bangku SD kelas 6, ia sering diajak bermain di pelataran masjid oleh teman-temannya. “sering lihat orang ngaji dan sholat di masjid,” ujarnya.

Kebiasaan bermain di masjid membuat Fentje akrab dengan takmir dan remaja Masjid Mujahidin. Bahkan Fentje tak segan membantu kegiatan masjid. Seperti membagi brosur zakat saat ramadhan dan mempersiapkan tempat untuk sholat ied. “malah pernah ikutan sholat juga. Padahal masih Kristen,” kata Fentje sambil tertawa. Hal itu ia lakukan hingga duduk di bangku SMP kelas 2.

Orang tua Fentje akhirnya mengetahui kebiasaan anaknya tersebut. Ia pun dipanggil dan diajak ngobrol oleh mendiang ibunya. Kepada ibunya, Fentje hanya mengatakan aktivitasnya itu hanya main-main saja. “Ya sudah kalau cocok jangan main-main,” jawab mendiang ibunya kala itu.

Reaksi ibunya ternyata di luar dugaan Fentje. Saat itu ia berpikir bahwa ibunya akan marah. Karena selain dikenal sebagai penganut Kristen yang taat, ibunya juga merupakan pengurus majelis gereja. “hampir semua jemaat gereja tau saya anaknya,” ujar Fentje. Tetapi mengetahui reaksi ibunya yang biasa saja, Fentje semakin tertarik belajar Islam. Mulai bertanya kepada teman-teman muslimnya hingga membaca buku-buku agama Islam pun ia lakukan.

“Apa tidak ingin masuk Islam saat itu,” tanya kami kepada Fentje. Ia menjawab sebenarnya keinginan masuk Islam sudah ada sejak saat itu. Tetapi karena takut, ia memutuskan untuk menunda keislamannya. “Ya saya kan masih ikut orang tua. Takut nanti diusir dan sebagainya,” jawab Fentje.

Sayangnya keinginannya masuk Islam terlupakan seiring Fentje beranjak dewasa. Apalagi ketika sudah bekerja di salah satu EO besar di Jakarta. Kehidupan yang hedonis membuat Fentje makin jauh dari Islam. Kehidupan itu pula yang mengenalkan dirinya dengan narkoba. ““ya tahu sendiri lah kehidupan orang eo. Senang-senang thok,” ujarnya.

Kehidupan malam pun menjadi bagian dari Fentje. Semakin jauh dan semakin dalam Fenjte bergelut dengan dunia tersebut hingga akhirnya ia terpaksa berhenti karena tertangkap polisi. “kena 5 tahun, kasus narkoba,” ujarnya lirih.

Di tahanan polsek Fenjte panik. Hatinya resah. Ia merasa hidupnya hancur. Kerjaan hancur, keluarga hancur. Ia berpikir istri dan anak-anaknya pasti kecewa melihat ia dipenjara.

Di titik terendah dalam hidupnya itulah hidayah Allah mulai turun. Kelebatan bayangan saat ia kecil muncul. Bayangan ketika ia bermain di masjid dan ikutan sholat. Dari bayangan itulah akhirnya ia memutuskan untuk bangkit. “ini ga ada yang bisa nyelametin saya kecuali agama,” ujarnya dalam hati.

Berbekal dari hasil perenungannya, ia akhirnya mencoba menghubungi teman akrabnya di luar tahanan untuk membawakan buku-buku agama ketika besuk. “minta dibawakan tuntunan sholat dan buku iqra,” ujar Fentje.

Selama sebulan di tahanan Polsek, Fentje belajar sholat dan wudhu. Setelah di pindah ke rutah Salemba, dengan izin Allah, tahun 2011, Fentje pun mengikrarkan dua kalimat syahadat di dalam rutan. Masya Allah.

“Kenapa kok memilih Islam pak? Kenapa bukan kembali ke agama Pak Fentje,” tanya kami. Ia pun menjawab, baginya Islam itu agama yang sempurna. Karena semua kegiatan diatur di dalam Islam. Mulai cara beribadah hingga cara buang air dan makan pun diatur. “kalau di agama asli saya, hanya secara global saja. jadi orang harus baik. Begitu saja,” jawab Fentje.

Di rutan Salemba Fenjte mendekam selama tiga bulan, hingga akhirnya putusan pengadilan menyebutkan Fentje dihukum 5 tahun penjara dan dipindah ke LP Pekalongan. Alhamdulillah sekarang Fentje telah bebas. Meskipun masih bergelut di event organizer, tapi Fentje kini berusaha untuk menjaga adab dan batasan dirinya sebagai seorang muslim. Semoga tetap istiqomah Pak Fenjte.

KOMENTAR