(Merujuk pada Kitab "Nur As-Sunnah Wa Dzulumat Al-Bidah", terangnya sunnah dan gelapnya bid'ah, karya Dr. Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani).

Kajian Islam Rutin - Gohijrah
Rabu, 27 Jumadil Awal 1441 / 22 Januari 2020
Jl. Diponegoro No. 39, Surabaya

Oleh : Ustadz Umar Baladraf, M.Pdi ﺣَﻔِﻈَﻪُ ﺍﻟﻠﻪ

أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللهِ الّرحْمنِ الّرحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

رَِبِّيْ زِدْنِي عِلْماً وَارْزُقْنِي فَهْمًا

 

※ Membahas perkara bid'ah adalah bagian dari manhaj salaf, yaitu dalam rangka untuk meluruskan dan memperingatkan kaum muslimin dari kesesatan yang bisa terjadi karenanya.

Sangat banyak dalil dalam al-Qur'an & as-Sunnah yang menjelaskan tentang tercelanya perkara bid'ah.

 

※ Sebab-sebab munculnya bid'ah.

Benih-benih bid'ah muncul dipermukaan, disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut : (poin 1-4 telah dibahas pada pertemuan sebelumnya)

1. Ketidaktahuan (kebodohan),
2. Memperturutkan hawa nafsu,
3. Kegandrungan terhadap perkara syubhat,
4. Bersandar pada akal semata,

5. Taklid dan fanatisme.

Kebanyakan ahli bid'ah itu selalu bertaklid kepada nenek moyang dan guru-guru mereka. Mereka juga bersikap fanatik terhadap madzhab-madzhab mereka.

Allah ﷻ berfirman:

وَاِ ذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّبِعُوْا مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ قَا لُوْا بَلْ نَـتَّبِعُ مَاۤ اَلْفَيْنَا عَلَيْهِ اٰبَآءَنَا ۗ اَوَلَوْ كَا نَ اٰبَآ ؤُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ شَيْئًـا وَّلَا يَهْتَدُوْنَ
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab, (Tidak!) Kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya). Padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 170).

Ahli bid'ah itu menjadikan amalan mereka terlihat bagus dalam pandangan mereka.

Allah ﷻ berfirman:

اَفَمَنْ زُيِّنَ لَهٗ سُوْٓءُ عَمَلِهٖ فَرَاٰ هُ حَسَنًا ۗ فَاِ نَّ اللّٰهَ يُضِلُّ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ ۖ فَلَا تَذْهَبْ نَـفْسُكَ عَلَيْهِمْ حَسَرٰتٍ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ بِۢمَا يَصْنَـعُوْنَ
"Maka apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya, lalu menganggap baik perbuatannya itu? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka jangan engkau (Muhammad) biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS. Fatir 35: Ayat 8).

Allah ﷻ menjelaskan kondisi para ahli bid'ah dan para pengekor hawa nafsu,

Allah ﷻ berfirman:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوْهُهُمْ فِى النَّا رِ يَقُوْلُوْنَ يٰلَيْتَـنَاۤ اَطَعْنَا اللّٰهَ وَاَ طَعْنَا الرَّسُوْلَاۡ
"Pada hari (ketika) wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, Wahai, kiranya dahulu kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul."

وَقَا لُوْا رَبَّنَاۤ اِنَّاۤ اَطَعْنَا سَا دَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَاَ ضَلُّوْنَا السَّبِيْلَاۡ
"Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati para pemimpin dan para pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)."

رَبَّنَاۤ اٰتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ الْعَذَا بِ وَا لْعَنْهُمْ لَعْنًا كَبِيْرًا
"Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar." (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 66-68).

6. Bergaul dengan orang-orang yang jahat dan duduk-duduk dengan mereka.

Ini adalah di antara sebab yang menyebabkan seorang terjerumus ke dalam bid'ah dan menyebabkan bid'ah itu tersebar di kalangan orang banyak.

Allah ﷻ telah menjelaskan bahwa orang yang duduk-duduk bersama orang jahat pasti akan menyesal.

Allah ﷻ berfirman,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّا لِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا
"Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama rasul."

يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَا نًا خَلِيْلًا
"Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku),"

لَقَدْ اَضَلَّنِيْ عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ اِذْ جَآءَنِيْ ۗ وَكَا نَ الشَّيْطٰنُ لِلْاِ نْسَا نِ خَذُوْلًا
"sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur'an) ketika (Al-Qur'an) itu telah datang kepadaku. Dan setan memang pengkhianat manusia." (QS. Al-Furqan 25: Ayat 27-29).

» Surat Al-Furqan ayat 27-29 ini turun berkaitan dengan kisah seorang pemuda Quraisy di jaman Rasulullah ﷺ yang bernama Uqbah bin Abi Mu'aith, yang awalnya dia bersikap baik kepada Rasulullah ﷺ, yang karena tidak punya keteguhan hati dan terkena hasutan Ubay bin khalaf kemudian berubah sikap menjadi memusuhi Rasulullah ﷺ, yang kemudian digambarkan dalam ayat di atas, kelak dia akan menyesali sikapnya tersebut di neraka.
 
Allah ﷻ berfirman:

وَاِ ذَا رَاَ يْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْۤ اٰيٰتِنَا فَاَ عْرِضْ عَنْهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖ ۗ وَاِ مَّا يُنْسِيَنَّكَ الشَّيْطٰنُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرٰى مَعَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
"Apabila engkau (Muhammad) melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka hingga mereka beralih ke pembicaraan lain. Dan jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa (akan larangan ini), setelah ingat kembali janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim." (QS. Al-An'am 6: Ayat 68).

Allah ﷻ berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْـكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۤ ‏ ۖ اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ جَا مِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَا لْكٰفِرِيْنَ فِيْ جَهَـنَّمَ جَمِيْعَا ۙ
"Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur'an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir) maka janganlah kamu duduk bersama mereka sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di Neraka Jahanam," (QS. An-Nisa' 4: Ayat 140).

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy رضي الله عنه berkata, Rasulullah ﷻ bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628).

7. Sikap Diamnya Para Ulama Dan Kebiasaan Menyembunyikan Ilmu.

Ini adalah di antara sebab lain tersebarnya bid'ah dan kerusakan di kalangan umat manusia.

Allah ﷻ berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْتُمُوْنَ مَاۤ اَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَا لْهُدٰى مِنْۢ بَعْدِ مَا بَيَّنّٰهُ لِلنَّا سِ فِى الْكِتٰبِ ۙ اُولٰٓئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللّٰهُ وَ يَلْعَنُهُمُ اللّٰعِنُوْنَ ۙ
"Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al-Qur'an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat,"

اِلَّا الَّذِيْنَ تَا بُوْا وَاَ صْلَحُوْا وَبَيَّـنُوْا فَاُ ولٰٓئِكَ اَ تُوْبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَاَ نَا التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ
"kecuali mereka yang telah bertobat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya), mereka itulah yang Aku terima tobatnya dan Akulah Yang Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 159-160).

Allah ﷻ berfirman:

اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْکُمُ الْمَيْتَةَ وَا لدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ وَمَاۤ اُهِلَّ بِهٖ لِغَيْرِ اللّٰهِ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَا غٍ وَّلَا عَا دٍ فَلَاۤ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya), bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 173).

Allah ﷻ berfirman:

وَاِ ذْ اَخَذَ اللّٰهُ مِيْثَا قَ الَّذِيْنَ اُوْتُوْا الْكِتٰبَ لَتُبَيِّنُنَّهٗ لِلنَّا سِ وَلَا تَكْتُمُوْنَهٗ ۖ فَنَبَذُوْهُ وَرَآءَ ظُهُوْرِهِمْ وَ اشْتَرَوْا بِهٖ ثَمَنًا قَلِيْلًا ۗ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُوْنَ
"Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu), Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi Kitab itu) kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya, lalu mereka melemparkan (janji itu) ke belakang punggung mereka dan menjualnya dengan harga murah. Maka itu seburuk-buruk jual-beli yang mereka lakukan." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 187).

Allah telah mewajibkan kepada segolongan umat ini untuk berda'wah mengajak kepada ajaran Allah ﷻ dan mengatakan amar ma'ruf nahi mungkar.

Allah ﷻ berfirman:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Ali 'Imran 3: Ayat 104).

Diriwayatkan dari Abu Sa'id al-Khudri, dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda, "Barang siapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Kalau ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan kalau tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa amar ma'ruf nahi mungkar adalah kewajiban bagi setiao muslim sesuai dengan kadar kemampuan masing-masing.

Dari Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak ada seorang nabipun yang diutus kepada suatu umat sebelumku, kecuali ia memiliki para pengikut dan sahabat yang setia, yang mengikuti ajarannya dan mematuhi perintahnya. Kemudian datang setelah mereka itu suatu generasi yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan, dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa memerangi mereka dengan tangannya, maka dia itu orang yang beriman, dan barangsiapa memerangi mereka dengan lisannya maka dia itu orang yang beriman, dan barangsiapa memerangi mereka dengan hatinya maka dia itu orang yang beriman. Setelah itu, tidak ada keimanan walau hanya sebesar biji sawipun. [HR Muslim].

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu yang dia ketahui, lalu dia menyembunyikannya, maka dia akan dikekang pada hari kiamat nanti dengan tali kekang dari api neraka. (HR. Tirmidzi).

Pernah Muhammad Bin Bundar As-Sabbak Al-Jurjani berkata kepada Imam Ahmad bin Hambal, “Berat bagiku untuk mengatakan si fulan lemah, si fulan pendusta.” Maka berkata Al-Imam, “Jika kamu diam dan saya pun diam, bagaimana si jahil mengetahui yang benar dari yang salah.”


إِنْ شَاءَ اللّهُ bersambung...


والله أعلمُ بالـصـواب
بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْْ

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

(Diringkas oleh : Isfanz Rozyn - Gohijrah)

KOMENTAR