Kajian Rutin Ahad Malam - Masjid Mujahidin


Pembahasan Kitab Al Bahr Ar Raaiq Fii Az Zuhd Wa Ar Raqaaiq, disusun oleh : Syaikh Ahmad Farid

Bab : Mengingat Mati

Oleh : Al-Ustadz Mochammad Maman Rosdiawan, Lc

Masjid Mujahidin - Perak Barat
Ahad,  15 Jumadil Akhir 1441 H / 9 Februari 2020 (ba'da maghrib)


أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللهِ الّرحْمنِ الّرحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ


Mengingat kematian merupakan amalan yang mampu melembutkan hati.

Orang-orang yang hatinya selalu melarikan diri dari mengingat kematian, dan orang-orang yang bertakwa, keduanya sama-sama tidak bisa melarikan diri dari kematian.

Yang membedakan antara keduanya, bahwa orang yang angkuh, orang yang berlebihan mencintai dunia, kelak mereka akan merasakan kebinasaan, kegelapan, kehinaan dan siksaan yang pedih di alam kubur.

Sungguh Allah ﷻ Maha Kuasa untuk membinasakan orang-orang yang angkuh dengan kematian, mereka tidak akan mampu menemukan kemuliaan, penutup dan pelindung dari kematian.

Sedangkan orang yang bertakwa, orang yang mengharapkan keridhoan dan pemenuhan janji dari Allah ﷻ, kelak mereka akan merasakan kenikmatan, penerangan dan kemuliaan di alam kuburnya.

Maka bagi orang yang kematian menjadi akhir dari hidupnya, tanah menjadi tempat tidurnya kelak, belatung menjadi rekannya, Munkar Nakir sebagai teman duduknya, kuburan sebagai tempat tinggalnya, perut bumi sebagai rumahnya, kiamat sebagai waktu yang dijanjikan baginya, dan surga atau neraka kelak sebagai tempat tujuannya, hendaknya dia tidak memiliki pikiran lain kecuali mempersiapkan dirinya untuk menghadapi itu semua.


※ Motivasi Untuk Mengingat Mati

Orang yang terpikat oleh tipuan dunia beserta kesenangan-kesenangannya, pasti hatinya lupa dari mengingat kematian. Ketika diingatkan, dia enggan dan menjauh darinya.

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِ نَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَا لشَّهَا دَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
"Katakanlah, Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Al-Jumu'ah 62: Ayat 8).

Dalam mengingat kematian, manusia terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu : Orang yang terpikat (oleh dunia); Orang yang baru bertaubat; dan Orang yang arif (mengetahui pemberian Robb-Nya).

Orang-orang yang terpikat dan tenggelam oleh dunia, tidak akan teringat dengan kematian. Dan ketika diingatkan, mereka akan mengingat dan menyesal karena kecewa jumlah harta dunia yang dia dapatkan terasa masih sedikit, mereka akan berputus asa karena dunia tidak menghampirinya.

Mengingat mati, bagi mereka, hanya semakin menjauhkan diri mereka dari Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Orang-orang yang bertaubat, mereka banyak mengingat kematian agar timbul rasa khawatir dan takut dalam hatinya, sehingga mereka mencapai taubat yang sempurna. Terkadang mereka benci kematian, karena khawatir bekalnya belum cukup ketika nyawanya dicabut.

Hal ini dimaklumi, seperti halnya seseorang menunda pertemuan dengan kekasihnya sampai dirinya benar-benar siap untuk dipertemukan.

Orang yang bertaubat selalu bersiap-siap untuk pertemuan tersebut dan tidak memiliki kesibukan di luar hal itu.

Sedangkan orang-orang yang arif, mereka selalu mengingat kematian, mereka sama sekali tidak takut akan kematian. Bagi mereka, kematian adalah seperti waktu perjanjian untuk bertemu kekasih. Mereka berharap untuk disegerakan datangnya kematian, agar dapat terbebas dari dunia tempat orang-orang yang durhaka (kepada kekasihnya) dan berpindah ke sisi kekasihnya, Robb penguasa alam semesta.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda, "Banyak-banyaklah mengingat pemutus kenikmatan." (HR. Tirmidzi). Teruslah ganggu kenikmatan dunia dengan mengingat mati, sampai rasa tenang bersama dunia terhapus dari dalam hati, digantikan dengan rasa tenang menghadap kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Hiduplah sederhana selama berada di dunia, jangan bermewah-mewah, sedekahkanlah kelebihan harta di luar kebutuhan hidup kita.

Dari Ibnu Umar رضي الله عنهم, ia berkata, "Saya mendatangi Rasulullah ﷺ dan beliau bersama sepuluh sahabat, lalu salah seorang dari kaum anshar bertanya, 'Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling cerdas dan mulia ?' Beliau menjawab, 'Mereka adalah orang-orang yang paling banyak mengingat mati dan paling bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan bekal untuk menghadapi kematian, mereka itulah orang-orang yang cerdas. Mereka pergi membawa kemuliaan dunia dan akhirat." (HR. Ibnu Majah).

Allah عزّ وجلّ mengkategorikan kematian sebagai sebuah musibah, bahkan diantara musibah yang paling besar.

Allah ﷻ berfirman:

...فَاَ صَا بَتْكُمْ مُّصِيْبَةُ الْمَوْتِ ۗ ...
"...lalu kamu ditimpa bahaya kematian, ..."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 106).

Hal ini dikarenakan kematian selalu berganti dari satu keadaan ke keadaan yang lain, dan berpindah dari satu rumah ke rumah yang lain.

Maka kematian bisa dikatakan sebagai musibah dan petaka yang besar. Sedangkan yang lebih besar dari itu adalah lalai dari kematian, berpaling dari mengingatnya, sedikit berpikir tentangnya dan meninggalkan amal untuk menghadapinya.

Para ulama mengatakan bahwa, hanya kematian saja yang dapat menjadi pelajaran bagi orang yang mengambil pelajaran, dan pemikiran bagi orang yang mau berpikir.

Al-Qurthubi berkata dalam kitabnya Mukhtasharut Tadzkirah, "Dan ketahuilah wahai saudara-saudaraku! Sesungguhnya hati yang keras dapat menjadi lunak, bi'idznillah, dengan beberapa hal. Diantaranya adalah berziarah kubur, menghadiri majelis para penasihat dan orang shalih, mendengarkan cerita mengenai para ahli ibadah dan orang zuhud terdahulu. Diantaranya lagi adalah mengingat kematian, yang merupakan pemutus kenikmatan, pemisah kelompok setelah makmurnya kehidupan mereka, dan yang membuat anak-anak menjadi yatim setelah dipanggilnya kedua orang tua mereka."

Al-Qurthubi juga berkata, "Diantara faedah dari mengingat kematian juga adalah mencegah manusia dari melakukan kemaksiatan, meninggalkan berbangga diri dengan dunia, dan menganggap ringan terhadap musibah yang ada di dunia. Renungkanlah wahai saudaraku! Bahwa orang yang telah mantap hatinya untuk memimpin dan keluar menuju medan perang, tidak akan terpengaruh oleh dorongan apapun untuk melakukan maksiat, tidak akan memandang terhadap perhiasan dunia sedikit pun serta akan menganggap mudah setiap musibah yang ada di dunia. Berbeda dengan orang yang memiliki angan-angan panjang, karena dia pasti berbanding terbalik dengan hal-hal yang telah disebutkan. Kemudian diantara hal yang dapat menghilangkan kerasnya hati adalah menyaksikan orang yang sedang dalam keadaan sakaratul maut. Melihat kondisi naza' (dicabutnya ruh) merupakan pelajaran yang sangat berharga, dengan mengetahui besarnya kesusahan dan apa yang dihadapi ketika keluarnya ruh. Karena setiap manusia, dalam waktu yang tidak lama lagi, pasti akan mengalami hal yang sama. Dan orang yang tidak mengambil pelajaran darinya, maka nasihat apapun tidak akan berguna baginya."


Bersambung, إِنْ شَاءَ اللّهُ...

والله أعلمُ بالـصـواب
بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْْ


سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

(Diringkas oleh : Isfanz - Gohijrah)

KOMENTAR