(Merujuk ke Kitab 'Sepuluh Kaidah Penting Tentang Istiqomah' yang ditulis oleh Prof. D. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr)

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

رَِبِّيْ زِدْنِي عِلْماً وَارْزُقْنِي فَهْمًا


※ Buku ini membahas berbagai hal yang berkaitan dengan istiqomah, dan pembahasan ini sangatlah penting dan memiliki kedudukan yang besar.

Oleh karenanya, kita semua harus selalu memperhatikannya dan memberikan porsi yang besar dan kesungguhan serta penjagaan.

Istiqomah merupakan kunci agar kita terhindar dari kemaksiatan di kala iman sedang turun (futur).


※ Kaidah Kelima

Istiqomah itu selalu terkait dengan perkataan, perbuatan, dan niat.

Istiqomah berkaitan erat dengan keimanan. Dimana iman itu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

Istiqomah yang dituntut dari seorang muslim adalah istiqomah dalam perkataan, perbuatan dan dalam setiap keinginan dan kemauannya. Dengan artian lain bahwa 
perkataannya seorang muslim, demikian pula amal perbuatan dan juga hatinya hendaknya seluruhnya dikerjakan di atas keistiqomahan.

Imam Ibnu Qoyim mengatakan dalam kitabnya Madaariju Saalikin 2/105 : "Istiqomah erat kaitannya dengan perkataan, perbuatan, keadaan dan juga maksud dan keinginannya".

Diriwayatkan dalam Musnadnya Imam Ahmad dari haditsnya Anas bin Malik رضي الله عنه bahwasannya Nabi ﷺ bersabda, "Tidak akan bisa lurus (istiqomah) imannya seorang hamba sampai hatinya lurus, dan tidak akan bisa lurus hatinya seorang hamba sampai lisannya lurus". Dan telah 
lewat tahrij haditsnya.

Al-Hafidhz Ibnu Rajab mengatakan: "Dan perhatian yang terbesar yang harus di perhatikan oleh seorang muslim dalam masalah istiqomah setelah hati dan amalan badannya adalah lisan, sesungguhnya lisan adalah penerjemah dan pengungkap apa yang ada dalam hatinya".

Yang perlu diberi perhatian di sini adalah bagaimana bahayanya hati dan lisan bagi seorang hamba di dalam masalah istiqomah bahkan bisa dikatakan keduanya adalah seperti sayap bagi istiqomah.

Dalam masalah ini sebagian ulama mengatakan: "Seseorang itu berada dalam besar dan kecilnya apa yang ada dalam hati dan yang dikeluarkan oleh lisannya". Maka hati dan lisan keduanya adalah segumpal daging yang sangat kecil namun seluruh anggota badan seseorang itu mengikuti apa yang dalam kata hati dan ucapan lisan. Oleh karena itu jika hati seseorang itu bisa istiqomah (lurus) demikian pula lisannya maka anggota badan tentu akan mengikutinya dalam beristiqomah. 

Adapun dalil pertama yang menunjukan 
istiqomahnya hati adalah haditsnya Nu'man bin Basyir رضي الله عنه yang telah lewat penjelasannya. Bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Ketahuilah sesungguhnya di dalam jasad manusia ada segumpal daging, jika dia baik maka baik pula seluruh 
anggota badannya namun jika segumpal daging tersebut rusak maka akan rusak pula seluruh anggota badannya, maka ketahuilah bahwa segumpal daging tersebut adalah hati". 

Adapun dalil yang menjelaskan istiqomahnya lisan adalah apa yang telah diriwayatkan oleh Tirmidzi dari haditsnya Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه bahwasannya Nabi ﷺ bersabda: "Jika anak cucu adam berada di pagi hari, sesungguhnya semua anggota badan mengingkari lisan seraya mengatakan padanya: "Takutlah kepada Allah atas kami semua, sesungguhnya kami adalah bagian dirimu, jika kamu istiqomah (lurus) maka kami pun akan istiqomah namun jika kamu bengkok (menyeleweng) maka kami pun akan terseret ikut (denganmu)". HR Tirmidzi no: 2407. Dihasankan oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib no: 2871.

Maka jika hati seseorang sudah istiqomah maka amalan anggota badan pun akan ikut serta di dalamnya, begitu juga lisan jika ia istiqomah maka anggota badan pun ikut serta di dalam istiqomah. Karena lisan adalah penerjemah apa yang ada di dalam hati seseorang bahkan dia adalah pemimpin bagi amalan dhohir.

Jika hati telah memerintahkan kepada lisan untuk mengucapkan sesuatu maka lisan pun patuh mengucapkan apa yang menjadi kemauan hati, karena pada hakekatnya lisan adalah pengekor hati sedangkan amal perbuatan maka mereka mengikuti kemauan serta tunduk patuh kepada hati dan lisannya.

Oleh karenanya menjadi suatu kewajiban bagi setiap muslim untuk selalu memperhatikan hatinya dan selalu 
berusaha untuk memperbaikinya, dengan memohon kepada Allah Ta'ala supaya di luruskan hatinya dan dijauhkan dari segala macam penyakit hati dari iri, dengki, hasad dan lainnya. Sehingga pada akhirnya akan melahirkan ucapan dan perkataan yang baik sambil diiringi dengan amalan-amalan sholeh.


Bersambung, إِنْ شَاءَ اللّهُ...

والله أعلمُ بالـصـواب

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

Kajian Islam Rutin Gohijrah
Gohijrah - Jl. Diponegoro No. 39 Surabaya
Oleh : Ustadz Gemma Ilhamy, MPdI
Selasa, 17 Jumadil Akhir 1441 H (11 Februari 2020)

(Diringkas oleh : Isfanz Rozyn - Gohijrah)

KOMENTAR