"Sebab-sebab Terjadinya Bid'ah"

(Merujuk pada Kitab "Nur As-Sunnah Wa Dzulumat Al-Bidah", terangnya sunnah dan gelapnya bid'ah, karya Dr. Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani).

Kajian Islam Rutin - Gohijrah
Rabu, 18 Jumadil Akhir 1441 / 12 Februari 2020
Jl. Diponegoro No. 39, Surabaya

Oleh : Ustadz Umar Baladraf, M.Pdi ﺣَﻔِﻈَﻪُ ﺍﻟﻠﻪ

أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللهِ الّرحْمنِ الّرحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

رَِبِّيْ زِدْنِي عِلْماً وَارْزُقْنِي فَهْمًا

 

※ Membahas perkara bid'ah adalah bagian dari manhaj salaf, yaitu dalam rangka untuk meluruskan dan memperingatkan kaum muslimin dari kesesatan yang bisa terjadi karenanya.

Sangat banyak dalil dalam al-Qur'an & as-Sunnah yang menjelaskan tentang tercelanya perkara bid'ah.

 

※ Sebab-sebab munculnya bid'ah.

Benih-benih bid'ah muncul dipermukaan, disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut : (poin 1-7 telah dibahas pada pertemuan sebelumnya)

1. Ketidaktahuan (kebodohan),
2. Memperturutkan hawa nafsu,
3. Kegandrungan terhadap perkara syubhat,
4. Bersandar pada akal semata,
5. Taklid dan fanatisme,
6. Bergaul dengan orang-orang yang jahat dan duduk-duduk dengan mereka,
7. Sikap Diamnya Para Ulama Dan Kebiasaan Menyembunyikan Ilmu,

8. Meniru dan Mengekor Kepada Orang-orang Kafir

Mengagumi bahkan merasa iri dengan adat dan budaya orang kafir yang berkaitan dengan ajaran agama atau ibadah mereka, adalah termasuk sebab terjadinya bid'ah di kalangan muslimin.

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits dari Abu Waqid al-Laitsi رضي الله عنه, dia menceritakan: Dahulu kami berangkat bersama Rasulullah ﷺ menuju Hunain. Sedangkan pada saat itu kami masih baru saja keluar dari kekafiran (baru masuk Islam, pent). Ketika itu orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka beri’tikaf di sisinya dan mereka jadikan sebagai tempat untuk menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu disebut dengan Dzatu Anwath. Tatkala kami melewati pohon itu kami berkata, “Wahai Rasulullah! Buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath (tempat menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” Rasulullah ﷺ menjawab, “Allahu Akbar! Inilah kebiasaan itu! Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian telah mengatakan sesuatu sebagaimana yang dikatakan oleh Bani Isra’il kepada Musa: Jadikanlah untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan-sesembahan. Musa berkata: Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bertindak bodoh.” (QS. al-A’raaf: 138). Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian.” (HR. Tirmidzi dan beliau mensahihkannya, disahihkan juga oleh Syaikh al-Albani dalam takhrij as-Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim, lihat al-Qaul al-Mufid [1/126]).

Hadits ini mengindikasikan secara jelas bahwa meniru orang-orang kafir itulah yang mendorong Bani Israil untuk mengemukakan permintaan yang buruk itu. Begitu pula yang terjadi dengan para sahabat Nabi ﷺ ketika meminta dibuatkan Dzatu Anwath untuk meminta keberkahan kepada selain Allah ﷻ.

Kebid'ahan yang terjadi di kaum muslimin yang meniru orang-orang kafir adalah seperti peringatan hari ulang tahun, bid'ah seputar pengurusan jenazah, dan mendirikan bangunan di atas kuburan, dan lain sebagainya.

(Perayaan hari lahir Nabi Isa عليه السلام di kalangan kaum nasrani adalah yang menjadi dasar umat muslimin di masa selepas para sahabat dan tabi'in mengadakan perayaan maulid Nabi ﷺ, padahal para Sahabat / Khulafaur Rasyidin dan para tabi'in, mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan Nabi ﷺ, namun tidak ada satupun dari mereka yang mencontohkan hal itu).

Mengikuti kebiasaan orang kafir termasuk dalam memperturutkan hawa nafsu dan kebid'ahan.

Dari Abu Sa’id Al Khudri رضي الله عنه, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ , قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ : فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob (yang sempit sekalipun, -pen), pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nashrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim no. 2669).

Imam an-Nawawi رحمه الله‎ berkata, "Kata (سَنَنَ)  artinya adalah jalan. Sedangkan yang dimaksud dengan kata sejengkal, sehasta dan lubang biawak adalah bahasa perumpamaan karena sedemikian miripnya mereka dalam kemaksiatan dan pelanggaran hukum, namun bukan dalam kekufuran. Dalam hal ini terkandung mukjizat yang jelas bagi Rasulullah ﷺ , karena apa yang beliau beritakan itu sudah benar-benar terjadi."

Jadi jelas, bahwa sejengkal, sehasta , jalan dan masuk lubang biawak adalah bahasa perumpamaan bahwa kaum muslimin akan mengikuti mereka dalam segala hal yang dilarang dan dicela oleh syariat.

Nabi ﷺ telah memperingatkan agar kita tidak menyerupai orang-orang non muslim, Beliau bersabda, "Aku diutus menjelang hari kiamat dengan pedang hingga hanya Allah yang diibadahi tanpa ada sekutu bagi-Nya, dan rizkiku ditempatkan di bawah bayang-bayang tombak. Kehinaan dan kerendahan dijadikan bagi orang yang menyelisihi perintahku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum berarti ia termasuk golongan mereka." (HR. Ahmad no. 4869).

 

إِنْ شَاءَ اللّهُ bersambung...


والله أعلمُ بالـصـواب
بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْْ

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

(Diringkas oleh : Isfanz Rozyn - Gohijrah)

KOMENTAR