(Merujuk pada Kitab "Nur As-Sunnah Wa Dzulumat Al-Bidah", terangnya sunnah dan gelapnya bid'ah, karya Dr. Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani).

Kajian Islam Rutin - Gohijrah
Rabu, 2 Rajab 1441 / 26 Februari 2020
Jl. Diponegoro No. 39, Surabaya

Oleh : Ustadz Umar Baladraf, M.Pdi ﺣَﻔِﻈَﻪُ ﺍﻟﻠﻪ

أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللهِ الّرحْمنِ الّرحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

رَِبِّيْ زِدْنِي عِلْماً وَارْزُقْنِي فَهْمًا

 

※ Membahas perkara bid'ah adalah bagian dari manhaj salaf, yaitu dalam rangka untuk meluruskan dan memperingatkan kaum muslimin dari kesesatan yang bisa terjadi karenanya.

Sangat banyak dalil dalam al-Qur'an & as-Sunnah yang menjelaskan tentang tercelanya perkara bid'ah.

 

※ Sebab-sebab munculnya bid'ah.

Benih-benih bid'ah muncul dipermukaan, disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut : (poin 1-7 telah dibahas pada pertemuan sebelumnya)

1. Ketidaktahuan (kebodohan),
2. Memperturutkan hawa nafsu,
3. Kegandrungan terhadap perkara syubhat,
4. Bersandar pada akal semata,
5. Taklid dan fanatisme,
6. Bergaul dengan orang-orang yang jahat dan duduk-duduk dengan mereka,
7. Sikap Diamnya Para Ulama Dan Kebiasaan Menyembunyikan Ilmu,
8. Meniru dan Mengekor Kepada Orang-orang Kafir

9. Bersandar Pada Hadits-hadits Lemah & Palsu

Itu termasuk di antara sebab yang menggiring kepada kebid'ahan dan tersebarnya bid'ah tersebut, karena banyak dari kalangan ahli bid'ah yang bersandar pada hadits-hadits lemahdan dhoif bahkan dusta atas nama Rasulullah ﷺ, serta hadits-hadits yang tidak diterima oleh para pakar hadits untuk dijadikan sandaran.

Mereka justru menolak hadits-hadits shahih yang menentang kebid'ahan yang mereka lakukan, sehingga mereka pun terjerembab ke dalam kebinasaan, kehancuran dan kerugian. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى.

Hadits yang lemah tidak bisa dijadikan sandaran, melainkan hanya sebagai penguat dan motivasi atas amalan-amalan yang telah memiliki sandaran dari hadits yang shahih.

Sebagai contoh, dalam perkara sholat roghoib di bulan rajab, dimana amalan ini disandarkan pada hadits palsu yang mengatasnamakan dari Rasulullah ﷺ.

Perlu diketahui bahwa tidak ada satu shalat pun yang dikhususkan pada bulan Rajab, juga tidak ada anjuran untuk melaksanakan shalat Roghoib pada bulan tersebut.

Shalat Roghoib atau biasa juga disebut dengan shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan di malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. Di siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Roghoib (hari kamis pertama  bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Jumlah raka’at shalat Roghoib adalah 12 raka’at. Di setiap raka’at dianjurkan membaca Al Fatihah sekali, surat Al Qadr 3 kali, surat Al Ikhlash 12 kali. Kemudian setelah pelaksanaan shalat tersebut dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak 70 kali.

Di antara keutamaan yang disebutkan pada hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaib adalah dosanya walaupun sebanyak buih di lautan akan diampuni dan bisa memberi syafa’at untuk 700 kerabatnya. Namun hadits yang menerangkan tata cara shalat Roghoib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu). Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam Al Mawdhu’aat (kitab hadits-hadits palsu).

An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab Al-Majmu, 3/548: “Shalat yang dikenal dengan shalat raghaib yaitu dua belas rakaat, dilaksanakan antara Maghrib dan Isya pada malam jum’at  pertama di bulan Rajab serta shalat malam pertengahan bulan Sya’ban seratus rakaat, kedua shalat itu merupakan bid’ah munkar dan jelek. Jangan terperdaya (meskipun) disebutkan di kitab  Quutul Qulub dan Ihya Ulumdudin.

An-Nawawi rahimahullah juga berkata di kitab Syarh Muslim: ”Celakalah orang yang membuat dan mengarang-ngarangnya, karena ia termasuk bid’ah munkar di antara bid’ah yang sesat dan bahwa di dalamnya banyak kemunkaran. Sekelompok para imam telah menulis beberapa tulisan berharga yang   menjelaskan kebobrokan dan penyelewengan orang yang shalat pada waktu itu serta perbuatan bid'ah lainnya disertai dengan dalil lebih dari cukup  yang menunjukkan kebatilan dan kesesatan perbuatan tersebut."

Ibnu Hajar Al-Haitsamy rahimahullah ditanya, “Apakah dibolehkan atau tidak shalat raghaib dilakukan secara berjama’ah?"

Beliau menjawab: “Adapun shalat raghaib, ia adalah shalat yang dikenal dilakukan pada malam pertengahan bulan Sya’ban. Ia jelas bid’ah yang jelas dan tercela, haditsnya palsu. Makruh melakukannya, baik sendirian maupun berjamaah.” (Al-Fatawa Al-Fiqhiyyah Al-Kubra, 1/216)

10. Sikap Berlebihan

Ini termasuk sebab terbesar dari tersebarnya dan bermunculannya berbagai bid'ah, bahkan juga sebagai penyebab kemusyrikan di kalangan umat manusia.

Semenjak ditinggalkan Nabi Adam عليه السلام, umat manusia hidup di atas tauhif selama sepuluh abad. Namun setelah itu, manusia mulai bergantung kepada orang-orang shalih dan mengkultuskan mereka hingga akhirnya orang-orang menyembah mereka, selain Allah ﷻ.

Maka Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى mengutus Nuh عليه السلام untuk mengajak mereka agar kembali kepada ajaran tauhid, kemudian datanglah para Rasul 'alaihimussalam secara bergantian.

Sikap berlebihan itu bisa terjadi pada pribadi-pribadi tertentu, seperti mengkultuskan para imam dan para wali, dan mengangkat mereka melebihi kedudukan mereka yang semestinya, dan pada akhirnya orang-orang pun menyembah mereka.

Sikap berlebihan hakikatnya adalah sikap melampaui batas dalam keyakinan dan amalan, yakni dengan cara berlebihan dalam memuji atau mengecam sesuatu melebihi apa yang semestinya, menambahkan atas apa yang telah disyariatkan oleh Allah, atau bersikap ekstrim dan memvonis kafir tanpa alasan yang benar.

Contoh sikap berlebihan, seperti dalam perkara memahami nama dan sifat Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, dimana batasan yang sebenarnya adalah cukup mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah tersebut, namun pelanggaran atas batasan ini adalah dengan meneliti, mentakwilkan, menafsirkan dengan pemahamannya sendiri-sendiri, atas nama dan sifat Allah. Misal : Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى sendiri yang menyatakan bahwa memiliki wajah. Maka sikap yang benar adalah cukup dengan mengimani saja hal tersebut, tanpa perlu diteruskan dengan sikap mempertanyakan seperti apa bentuk wajahnya Allah, lalu berpikir lebih jauh lagi, jika Allah memiliki wajah, maka tentu memiliki tubuh, dan seterusnya; atau dengan mentakwil bahwa yang dimaksud dengan wajah Allah adalah sesuatu yang bermakna lain.

Allah ﷻ berfirman:

يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْـنِكُمْ...
"Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, ..." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 171)

Rasulullah ﷺ bersabda, "Jauhilah sikap berlebihan dalam agama, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebihan dalam agama." (HR. An-Nasa'i  & Ahmad)

Jadi jelas, bahwa sikap berlebihan dalam agama itu merupakan penyebab terbesar terjadinya kemusyrikan, kebid'ahan dan sikap memperturutkan hawa nafsu.

Karena besarnya bahaya sikap berlebihan dalam agama itu, maka Nabi ﷺ memperingatkan umatnya untuk tidak mengkultuskan diri Beliau ﷺ sendiri.

Beliau ﷺ bersabda, "Janganlah kalian mengkultuskan diriku sebagaimana Orang-orang Nasrani mengkultuskan putra Maryam, karena sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba-Nya. Maka katakanlah, 'Hamba Allah dan Rasul-Nya'." (HR. Bukhari).

Allah ﷻ berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَ قْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
"Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat." (QS. Al-Isra' 17: Ayat 1)

» Pada surat al-Isra' ayat 1 di atas, dengan jelas Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى menyebutkan Nabi Muhammad ﷺ sebagai hamba-Nya.


إِنْ شَاءَ اللّهُ bersambung...


والله أعلمُ بالـصـواب
بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْْ

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

(Diringkas oleh : Isfanz Rozyn - Gohijrah)

KOMENTAR