(Merujuk ke Kitab 'Sepuluh Kaidah Penting Tentang Istiqomah' yang ditulis oleh Prof. D. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr)

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

رَِبِّيْ زِدْنِي عِلْماً وَارْزُقْنِي فَهْمًا


※ Buku ini membahas berbagai hal yang berkaitan dengan istiqomah, dan pembahasan ini sangatlah penting dan memiliki kedudukan yang besar.

Oleh karenanya, kita semua harus selalu memperhatikannya dan memberikan porsi yang besar dan kesungguhan serta penjagaan.

Istiqomah merupakan kunci agar kita terhindar dari kemaksiatan di kala iman sedang turun (futur).


※ Kaidah Keenam

Tidak ada istiqomah kecuali hanya untuk Allah, bersama Allah dan berjalan di atas perintah Allah.

Adapun yang pertama maksudnya yaitu, hanya untuk Allah, maknanya adalah ikhlas karena mengharap wajah Allah dengan makna lain seorang hamba beristiqomah dan berpegang dengan kuat untuk selalu berjalan di atas jalan yang lurus (shirothol mustaqim). Ikhlas dengan istiqomahnya karena Allah Azza wa jalla mengharap pahala yang ada di sisiNya dan mengharap keridhoanNya, yang mana Allah Ta'ala telah berfirman:

وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ ۗ
"Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)." (QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 5)

Allah ﷻ juga berfirman:

...فَمَنْ كَا نَ يَرْجُوْا لِقَآءَ رَبِّهٖ فَلْيَـعْمَلْ عَمَلًا صَا لِحًـاوَّلَايُشْرِكْ بِعِبَا دَةِ رَبِّهٖۤ اَحَدًا
"...Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahf 18: Ayat 110)

Kedua: Bersama Allah, maknanya selalu meminta pertolongan dari Allah dalam mencari istiqomah, dalam beristiqomah dan agar bisa teguh di atas keistiqomahannya. 

Allah ﷻ berfirman:

وَلِلّٰهِ غَيْبُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَاِ لَيْهِ يُرْجَعُ الْاَ مْرُ كُلُّهٗ فَا عْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۗ وَمَا رَبُّكَ بِغَا فِلٍ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
"Dan milik Allah meliputi rahasia langit dan Bumi dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya. Dan Tuhanmu tidak akan lengah terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Hud 11: Ayat 123)

Allah ﷻ juga berfirman:

اِيَّا كَ نَعْبُدُ وَاِ يَّا كَ نَسْتَعِيْنُ ۗ
"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 5)

Di dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan, "Bersemangatlah untuk mendapat yang bermanfaat bagi dirimu dan minta pertolonganlah (untuk itu) kepada Allah". HR Muslim no: 2664.

Doa untuk meminta pertolongan kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى :

يا حي يا قيوم ،بك أستغيث فاصلح لي شأني كله ولا تكلني إلى نفسي طرفة عين

Artinya : Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang senantiasa mengurus hamba-Nya, kepada-Mu aku memohon perlindungan. Maka perbaikilah semua urusanku. Dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walaupun sekejab mata.

Ketiga: Dan berjalan di atas perintah Allah maknanya adalah hendaknya dalam beristiqomah dia menempuh manhaj (metode) yang benar, yaitu jalan yang lurus (shirothol mustaqim) yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala perintahkan kepada hambaNya, sebagaimana hal itu 
termaktub dalam firmanNya:

فَا سْتَقِمْ كَمَاۤ اُمِرْتَ وَمَنْ تَا بَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ
"Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertobat bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha Melihat terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Hud 11: Ayat 112)

Dan telah lewat atsar dari sebagian ulama salaf tentang penjelasan makna kalimat ini, seperti perkataannya Ibnu Abbas ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ ۚ
"Sesungguhnya orang-orang yang berkata, Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati." (QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 13)

Beliau mengatakan: "Mereka tetap istiqomah di dalam mengerjakan faraidh (kewajiban-kewajiban) yang Allah bebankan kepadanya. 

Sedang al-Hasan mengatakan: "Mereka tetap beristiqomah di atas perintah Allah, beramal ketaatan kepadaNya, serta 
menjauhi segala sesuatu yang dilarang olehNya". Sedangkan makna perintah Allah Ta'ala adalah syari'atNya yang dengannya Allah mengutus NabiNya yang mulia yaitu 
syari'at yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ.


Bersambung, إِنْ شَاءَ اللّهُ...

والله أعلمُ بالـصـواب

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

Kajian Islam Rutin Gohijrah
Gohijrah - Jl. Diponegoro No. 39 Surabaya
Oleh : Ustadz Gemma Ilhamy, MPdI
Selasa, 1 Rajab 1441 H (25 Februari 2020)

(Diringkas oleh : Isfanz Rozyn - Gohijrah)

KOMENTAR