(Merujuk ke Kitab 'Sepuluh Kaidah Penting Tentang Istiqomah' yang ditulis oleh Prof. D. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr)

أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

رَِبِّيْ زِدْنِي عِلْماً وَارْزُقْنِي فَهْمًا


※ Buku ini membahas berbagai hal yang berkaitan dengan istiqomah, dan pembahasan ini sangatlah penting dan memiliki kedudukan yang besar.

Oleh karenanya, kita semua harus selalu memperhatikannya dan memberikan porsi yang besar dan kesungguhan serta penjagaan.

Istiqomah merupakan kunci agar kita terhindar dari kemaksiatan di kala iman sedang turun (futur).


※ Kaidah Ketujuh

Bagi seorang muslim walaupun sudah dapat beristiqomah namun jangan sampai bersandar kepada amalannya.

Sebesar apapun dan sebaik apapun istiqomah yang ditelah
dimiliki oleh seorang muslim maka jangan sampai dia 
menyandarkan pada amalanya serta tertipu dengan ibadahnya, tidak pula dengan banyaknya dzikir yang keluar 
dari bibirnya, serta ketaatan-ketaatan yang lainnya. 

Dalam hal ini Imam Ibnu Qoyyim menegaskan, "Yang dituntut dari seorang hamba dalam masalah istiqomah adalah mendekatinya (walaupun tidak bisa) seratus persen untuk bertepatan dengan istiqomah dalam segala sisi, maka jika 
tidak mampu untuk istiqomah setidaknya dia bisa lebih mendekati istiqomah. Sehingga jika itu juga sudah tidak 
mampu lagi maka yang ada adalah tafrith (kurang) dan idho'ah (menyia-nyiakan), hal itu sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari haditsnya Aisyah semoga Allah meridhoinya dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Berusahalah agar (sesuai dengan) sunah, mendekatlah jika (tidak mampu mengerjakan seluruhnya) dan berilah kabar gembira (pada orang lain), sesungguhnya tidak ada seorangpun yang akan masuk surga dengan sebab amalannya". Maka di katakan 
kepada Rasulallah: "Tidak pula engkau wahai Rasulallah? Beliau menjawab, "Tidak pula saya, kecuali bahwa Allah telah mengampuni saya dengan ampunanNya dan rahmatNya". HR Bukhari no: 6467, Muslim no: 2818.

Dalam hadits yang mulia ini telah terkumpul dan tercakup di dalamnya kedudukan agama secara sempurna, di dalamnya ada perintah agar beristiqomah yaitu berusaha (untuk selalu sesuai dengan sunnah) dan berusaha agar amalannya baik itu niat maupun perkataan serta amalan perbuatannya tepat dan sesuai dengan sunnah, dan telah datang hadits yang shahih dari haditsnya Tsauban: "Istiqomahlah kalian dan janganlah menghitung-hitung (amalan kalian), dan beramallah sesungguhnya amalan yang paling baik yang kalian kerjakan adalah sholat".

Dalam hadits di atas dijelaskan bahwa mereka tidak akan sanggup untuk 
beristiqomah secara sempurna sehingga ketika keadaannya sudah demikian maka dianjurkan supaya mereka lebih 
mendekati dalam beristiqomah yaitu berusaha agar dia bisa beristiqomah sesuai dengan kadar kemampuannya. 

Seperti halnya orang yang sedang melempar sesuatu ke sebuah lubang (sasaran) jika dia tidak bisa memasukan tepat ke lubangnya maka lebih dekat dengan sasaran itu lebih baik baginya. 

Namun dengan ini semua Nabi mengabarkan
bahwa walaupun mereka sudah berusaha untuk selalu istiqomah dan ketika tidak sanggup mereka berusaha untuk lebih dekat dengan istiqomah namun semua itu tidak bisa menyelamatan mereka pada hari kiamat. Oleh karena itu jangan sampai ada seseorangpun yang bersandar dengan amalannya merasa bangga dengan amal perbuatannya, jangan berfikir bahwa dia akan selamat dengan sebab amalannya namun dia akan selamat dengan sebab rahmat Allah Tabaraka wa Ta'ala, ampunanNya dan keutamaanNya."


※ Kaidah Kedelapan

Buah dari istiqomah di dunia adalah bisa istiqomah ketika meniti shirot (jalan) pada hari kiamat nanti.

Siapa yang telah di beri hidayah (petunjuk) untuk meniti shirothol mustaqim (jalan yang lurus) yaitu jalannya Allah Azza wa jalla di dunia ini maka dia akan di beri hidayah di kampung akhirat nanti ketika sedang menyebrangi shirot yang di bawahnya adalah neraka jahanam. Maka pada hari kiamat seseorang akan berjalan melewati shiroth yang telah dibentangkan di atas neraka jahanam yang mana dia lebih tajam dari pada mata pedang dan lebih lembut dari pada rambut.

Setiap manusia diperintahkan untuk melewati shiroth (titian) ini, namun pada akhirnya setiap orang saling berbeda-beda di dalam cara melewatinya sesuai dengan kadar amal perbuatannya ketika masih di dunia, demikian pula sesuai dengan keistiqomahanya dalam menempuh 
shirothol mustaqim pada kehidupannya di dunia.

Imam Ibnu Qoyyim mengatakan, "Barangsiapa yang telah diberi hidayah (petunjuk) di dunia ini kepada shirothol 
mustaqim (jalan yang lurus) oleh Allah Azza wa jalla yang mana Allah Ta'ala telah mengutus para rasulNya dengannya dan menurunkan bersama mereka kitab-kitabNya, dengan sebab itu dia akan diberi hidayah ketika meniti shiroth yang akan mengantarkan kepada surgaNya 
dan negeri balasan. Namun ketetapan seorang hamba di atas shiroth (jalan yang lurus) ini yang mana dibentangkan 
oleh Allah Azza wa jalla di dunia akan menjadikan tetapnya dia ketika melewati shiroth yang berada di atas neraka 
jahanam di akhirat nanti sesuai dengan kadar amalannya, dan seberapa besar ia didalam (menempuh) pada jalan yang lurus ini (ketika didunia) maka begitu pula kadarnya ketika melewati shiroth di akhirat nanti sehingga di antara mereka ada yang melewatinya secepat kilat, di antara mereka ada yang melewatinya seperti kedipan mata, di antara mereka ada yang melewatinya secepat angin, ada 
yang seperti orang yang naik kendaraan, ada yang seperti orang yang berlari, ada yang seperti orang yang berjalan kaki, dan ada di antara mereka yang merangkak, ada yang tersambar oleh api neraka dan ada yang terjatuh kedalamnya, maka seorang hamba dalam melewati shiroth sesuai kadar ia di dalam menjalani shirotol mustaqim sebagai balasan yang setimpal, Allah Ta'ala berfirman:

وَمَنْ جَآءَ بِا لسَّيِّئَةِ فَكُبَّتْ وُجُوْهُهُمْ فِى النَّا رِ ۗ هَلْ تُجْزَوْنَ اِلَّا مَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
"Dan barang siapa membawa kejahatan, maka disungkurkanlah wajah mereka ke dalam neraka. Kamu tidak diberi balasan, melainkan (setimpal) dengan apa yang telah kamu kerjakan." (QS. An-Naml 27: Ayat 90)

Perhatikan serta berhati-hatilah terhadap syubhat (kerancuan) dan syahwat (hawa nafsu) yang akan memalingkan dari jalan yang lurus ini, maka sesungguhnya shiroth adalah (seperti) besi bengkok yang akan 
menjauhkan dari shiroth tersebut kemudian ia tersambar oleh api neraka, dan terhalangi untuk melewatinya, walaupun demikian Allah berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَا لِحًـا فَلِنَفْسِهٖ وَمَنْ اَسَآءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّا مٍ لِّلْعَبِيْدِ
"Barang siapa mengerjakan kebajikan maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa berbuat jahat maka (dosanya) menjadi tanggungan dirinya sendiri. Dan Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-(Nya)." (QS. Fussilat 41: Ayat 46)

Dalam kesempatan yang lain beliau menegaskan: "Barangsiapa yang dalam kehidupan di dunia ini telah tersambar fitnah syubhat serta syahwat (sehingga) 
berpaling dari jalan yang lurus, maka dia akan tersambar oleh jilatan api manakala melewati shiroth pada hari kiamat nanti seperti halnya dia tersambar oleh (fitnah) syubhat dan syahwat didunia, dan pada tempatnya ada pembahasan yang lain dalam kitab ini (al-Jawabul kaafii)".


Bersambung, إِنْ شَاءَ اللّهُ...

والله أعلمُ بالـصـواب

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

Kajian Islam Rutin Gohijrah
Gohijrah - Jl. Diponegoro No. 39 Surabaya
Oleh : Ustadz Gemma Ilhamy, MPdI
Selasa, 15 Rajab 1441 H / 10 Maret 2020

(Diringkas oleh : Isfanz Rozyn - Gohijrah)

KOMENTAR