(Merujuk pada Kitab "Nur As-Sunnah Wa Dzulumat Al-Bidah", terangnya sunnah dan gelapnya bid'ah, karya Dr. Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani).

Kajian Islam Rutin - Gohijrah
Rabu, 16 Rajab 1441 / 11 Maret 2020
Jl. Diponegoro No. 39, Surabaya

Oleh : Ustadz Umar Baladraf, M.Pdi ﺣَﻔِﻈَﻪُ ﺍﻟﻠﻪ

أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللهِ الّرحْمنِ الّرحِيْمِ
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

رَِبِّيْ زِدْنِي عِلْماً وَارْزُقْنِي فَهْمًا


※ Membahas perkara bid'ah adalah bagian dari manhaj salaf, yaitu dalam rangka untuk meluruskan dan memperingatkan kaum muslimin dari kesesatan yang bisa terjadi karenanya.

Sangat banyak dalil dalam al-Qur'an & as-Sunnah yang menjelaskan tentang tercelanya perkara bid'ah.


※ Pembagian Bid'ah

Bid'ah itu bermacam-macam dengan berbagai macam sudut pandang. Berikut ini adalah perinciannya secara ringkas dan mudah dipahami :

● Bid'ah Hakiki Dengan Bid'ah Idhafiyah

1. Bid'ah Hakiki

Yakni bid'ah yang tidak memiliki indikasi dalil syar'i, baik dari al-Qur'an, as-Sunnah, ijma' maupun bentuk pengambilan dalil yang diakui oleh para ulama.

Disebut bid'ah karena merupakan hal yang dibuat-buat dalam persoalan agama tanpa ada contoh sebelumnya.

Di antara contohnya adalah : mendekatkan diri kepada Allah ﷻ dengan menjalani hidup seperti kehidupan rahib/pendeta/biksu, yakni mengabdi secara totalitas dengan mengisolasi diri dari orang banyak menuju gunung-gunung (untuk bertapa), mencampakkan dunia beserta kenikmatannya demi untuk beribadah kepada Allah ﷻ. 

Orang-orang yang melakukan perbuatan itu berarti telah membuat-buat ibadah dari diri mereka sendiri, lalu mereka mengharuskannya untuk diamalkan oleh diri mereka (meyakini bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah sebuah bentuk ibadah/peribadatan kepada Allah ﷻ.

Contoh lain : mengharamkan makanan yang baik yang dihalalkan oleh Allah ﷻ, dalam rangka beribadah kepada Allah ﷻ; mengharamkan menikah atas dirinya sendiri, dengan keyakinan bahwa itu adalah suatu bentuk ibadah kepada Allah ﷻ.

(Perilaku Nabi Muhammad ﷺ ketika sebelum diangkat menjadi nabi, yaitu menyendiri di gua hiro', bukanlah suatu bentuk ibadah, karena hal tersebut Beliau niatkan untuk merenung, memikirkan dan prihatin atas kebobrokan kondisi umat quraisy saat itu, tanpa disertai niat bahwa itu sebagai peribadatan kepada Allah ﷻ).

2. Bid'ah Idhafiyah

Bid'ah idhafiyah adalah bid'ah yang memiliki dua sudut pandang atau dua tinjauan.

Sudut pandang pertama :
Yang memiliki sandaran dalil, maka dari sisi itu ia tidak disebut bid'ah.

Sudut pandang kedua :
Tidak memiliki sandaran hukum kecuali seperti yang dimiliki oleh bid'ah yang hakiki. Artinya, ditinjau dari satu sisi, ia adalah sunnah karena bersandar pada dalil, namun ditinjau dari sisi lain, ia adalah bid'ah, karena ia berlandaskan pada syubhat, bukan dalil, dan karena ia berlandaskan kepada sesuatu.

Perbedaannya antara keduanya dalam pengertiannya adalah bahwa pada asalnya ia memiliki dalil pegangan, namun pada sisi tata cara, kondisi pelaksanaannya, dan rincian-rinciannya, tidaklah memiliki dalil, padahal ia membutuhkan dalil; karena bid'ah semacam itu sering terjadi dalam ibadah, bukan kebiasaan semata.

Di antara contohnya : Dzikir sesudah sholat fardhu atau pada waktu kapan saja yang dilakukan secara bersamaan dengan satu suara, imam berdoa sementara makmum mengaminkannya.

Dzikir itu sebenarnya disyariatkan, namun ketika pelaksanakannya dengan tata cara yang seperti itu, dimana hal itu tidak ada dalilnya dalam syariat, maka hal itu merupakan bid'ah yang bertentangan dengan sunnah.

Contoh lain adalah, mengkhususkan pertengahan bulan sya'ban untuk berpuasa pada siang hari dan sholat sunnah pada malam harinya, atau pula sholat ar-Roghoib yang dilakukan pada malam jumat pertama dari bulan rajab.

Semua itu adalah bid'ah yang munkar dan termasuk bid'ah idhafiyah. Karena ibadah semacam sholat dan puasa pada asalnya adalah disyariatkan, akan tetapi muncul kebid'ahannya ketika dilakukan dengan pengkhususan dalam hal : waktu, tempat dan tata cara pelaksanaannya; karena yang demikian itu tidak ada dasarnya dari al-Qur'an dan as-Sunnah. Jadi ia disyariatkan bila dilihat dari dzatnya, namun bid'ah bila ditinjau dari sisi tata caranya.


إِنْ شَاءَ اللّهُ bersambung...


والله أعلمُ بالـصـواب
بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْْ

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

(Diringkas oleh : Isfanz Rozyn - Gohijrah)

KOMENTAR