● Halaqah III

Wasiat yang kedua dari Rasulullah ﷺ adalah untuk mendengar dan taat kepada penguasa (pemerintah).

وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْد

'Mendengar dan taat meskipun kalian dipimpin seorang budak'

Wasiat ini disampaikan Nabi ﷺ kepada para sahabat setelah mewasiatkan bertaqwa kepada Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى, menunjukkan betapa pentingnya perkara taat kepada penguasa (pemerintah). Inilah aqidah ahlu sunnah wal jamaah yang sebenarnya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 59)

Ulama menafsirkan ulil amri sebagai ulama atau juga umaro (pemerintah), dan gabungan dari keduanya yakni ulama dan umaro.

Kita sebagai umat islam (rakyat) diperintahkan untuk mendengarkan dan taat kepada pemerintah, atas perintah dan peraturan yang dikeluarkannya.

Suatu kebaikan yang besar apabila rakyat mau mendengarkan dan taat kepada pemerintahnya, tidak mungkin sebuah negara bisa berjalan teratur kecuali jika rakyatnya mau taat kepada pemerintahnya.

Ketaatan itu akan menghasilkan keamanan yang stabil, kemudian menggerakkan roda perekonomian, pendidikan, kesehatan, kerukunan beragama, peribadatan dan sebagainya.

Sebaliknya, jika rakyat tidak mau taat, maka yang akan terjadi adalah gangguan keamanan, kecurigaan, bentrokan, saling mendzolimi, susah untuk diatur, sehingga membawa dampak buruk terhadap semua aktifitas di negara tersebut, dampak buruknya berpengaruh terhadap urusan dunia dan agama setiap orang.

Dengan kata lain, ketaatan kepada pemerintah akan mendatangkan kebaikan bagi rakyatnya sendiri.

Taat kepada pemerintah sebenarnya termasuk bagian dari taqwa kepada Allah. Karena definisi taqwa adalah menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah, sedangkan taat kepada pemerintah disebutkan secara khusus setelahnya, untuk menunjukkan pentingnya perkara ini.

Pengkhususan tersebut semakin diperjelas dalam kalimat berikutnya, dimana Rasulullah ﷺ memerintahkan para sahabat agar taat walaupun pemerintahan dipimpin oleh seorang budak. Dimana syarat umum menjadi pemimpin adalah seorang yang merdeka. 

Seandainya pun terjadi, dimana seorang budak yang statusnya lebih rendah daripada seorang merdeka (budak adalah bagian dari harta seseorang, budak bisa diperjualbelikan dan dihadiahkan), qaddarallah menjadi pemimpin, maka kewajiban sebagai seorang muslim, tetap kita harus mentaatinya, dan mengesampingkan hawa nafsu kita.

Dengan begitu, artinya kita telah mendahulukan keridhoan Allah dengan mengesampingkan hawa nafsu, dan rela dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Allah.

Dengan begitu, akan ada maslahat yang besar bagi semua orang, karena jika rakyat memberontak, tentu akan terjadi kerusakan dan kerugian yang besar pula.

Permisalan penguasa dari budak habbasyah (etiopia, adalah tingkat budak yang paling rendah), di sini Rasulullah ﷺ ingin menekankan betapa pentingnya bagi rakyat untuk taat kepada pemerintah/penguasanya.

Rasulullah ﷺ bersabda, "Kewajiban seorang muslim adalah mendengar dan taat kepada penguasa, baik dalam keadaan mudah maupun susah, dalam keadaan semangat maupun terpaksa."

Rasulullah ﷺ juga bersabda dalam riwayat lain, "Kecuali apabila dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak boleh dia mendengar dan taat."

Hal ini menunjukkan bahwa perintah untuk mendengar dan taat kepada penguasa adalah terikat (dengan syariat & dalil), bukan ketaatan yang mutlak.

Sedangkan ketaatan yang mutlak adalah hanya ditujukan kepada Allah dan RasulNya.

Ketaatan yang terikat, kepada penguasa, harus bersesuaian dengan syariat & dalil, dan apabila bertentangan dengan keduanya, maka tidak boleh untuk diikuti.

Wallahu Ta'ala A'lam.

(Diringkas oleh : Isfanz - Gohijrah)

KOMENTAR