Kajian Islam Rutin - Masjid Jami Makkah

Jl Bendul Merisi TMakkahengah no 52, Surabaya.

Kamis, 4 Rabiul Akhir 1442 H / 19 November 2020

Oleh : Al Ustadz Abdurrahman Yhongki ST حفظه الله تعالى

 

PENGERTIAN BID’AH

Bid’ah menurut bahasa adalah sesuatu yang baru yang tidak ada contoh sebelumnya. Bid’ah menurut istilah adalah perkara yang baru yang tidak dicontohkan Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. 

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman : 

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

 

 “Allah pencipta langit dan bumi” ( QS Al-Baqarah : Ayat 117]

 

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : 

 

وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.

 

“Sejelek-jelek perkara ialah perkara yang diada-adakan (dalam agama), dan setiap bid’ah itu sesat” ( HR Muslim no 867 ) 

 

Banyak orang yang terbalik mengartikan bid'ah, seperti pesawat, mobil dan hp adalah bid’ah. Padahal, itu bid'ah dalam urusan dunia, bukan urusan agama. Padahal urusan dunia, manusia lebih tahu, yaitu dengan kemajuan teknologi. 

 

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda :

 

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

 

“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.”  (HR. Muslim, no. 2363)

 

Padahal agama islam itu sudah sempurna, tidak boleh ditambahi maupun dikurangi. 

 

Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى Berfirman : 

 

 ۗ اَ لْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَـكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَ تْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَـكُمُ الْاِ سْلَا مَ دِيْنًا ۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَا نِفٍ لِّاِثْمٍ ۙ فَاِ نَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ‏

 

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi barang siapa terpaksa karena lapar bukan karena ingin berbuat dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Al-Maidah : Ayat 3)

 

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ berwasiat kepada umat manusia, agar selalu mengikuti sunnahnya dan sunnah pengikut Beliau. 

 

Kisah Masyhur Bolehnya Bid'ah Hasanah

Jika kita telah memahami makna bid’ah secara lughawi dan syar’i, maka ucapan Umar bin Khattab رضي الله عنه yang berbunyi: “sebaik-baik bid’ah adalah ini…”, sama sekali tidak bisa dijadikan dalil akan adanya bid’ah hasanah dalam agama, karena makna ucapan tersebut ialah bid’ah secara bahasa yang sifatnya nisbi (relatif).

Alasannya: Lihatlah konteks ucapan Umar selengkapnya berikut:

 

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ, وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ. فَقَالَ عُمَرُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرَانِي لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ, فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ. قَالَ: ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ, فَقَالَ عُمَرُ: نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هَذِهِ, وَالَّتِي تَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي تَقُومُونَ, يَعْنِي آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ

 

Dari Abdurrahman bin Abdil Qaary katanya; aku keluar bersama Umar bin Khatthab t di bulan Ramadhan menuju masjid (Nabawi). Sesampainya di sana, ternyata orang-orang sedang shalat secara terpencar; ada orang yang shalat sendirian dan ada pula yang menjadi imam bagi sejumlah orang. Maka Umar berkata: “Menurutku kalau mereka kukumpulkan pada satu imam akan lebih baik…” maka ia pun mengumpulkan mereka –dalam satu jama’ah– dengan diimami oleh Ubay bin Ka’ab. Kemudian aku keluar lagi bersamanya di malam yang lain, dan ketika itu orang-orang sedang shalat bersama imam mereka, maka Umar berkata: “Sebaik-baik bid’ah adalah ini, akan tetapi saat dimana mereka tidur lebih baik dari pada saat dimana mereka shalat”, maksudnya akhir malam lebih baik untuk shalat karena saat itu mereka shalatnya di awal malam. (H.R. Malik dalam Al Muwaththa’ bab: Ma jaa-a fi qiyami Ramadhan).

 

Kemudian sebagaimana kita ketahui, anjuran beliau untuk shalat tarawih berjama’ah itu bukanlah sesuatu yang sama sekali baru, namun Rasulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sendiri pernah melakukannya beberapa kali, kemudian beliau hentikan karena khawatir kalau shalat tarawih diwajibkan atas umatnya. Akan tetapi di masa Umar  berkuasa, tidak semua warga Madinah tahu akan hal ini, karena banyak di antara mereka yang tidak pernah berjumpa dengan Rasulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, apalagi shalat dibelakang beliau. Karenanya, bagi mereka ini merupakan hal baru (bid’ah lughawi). Jadi, jelaslah bahwa bid’ah yang dimaksudkan Umar di sini bukanlah bid’ah syar’i maupun lughawi secara mutlak, akan tetapi bid’ah lughawi nisbi (hal yang baru bagi sebagian kalangan).

 

Lebih dari itu, ingatlah bahwa Umar termasuk salah seorang Khulafa’ Ar Rasyidin yang perbuatannya dianggap sebagai sunnah oleh Rasulullah  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. 

 

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : 

 

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ 

 

Ku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, mendengar dan menaati pemimpin kalian meski ia seorang budak habsyi (kulit hitam). Karena siapa yang hidup sepeninggalku nanti, pasti akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib baginya berpegang teguh dengan Sunnah (ajaran)-ku dan Sunnahnya Khulafa’ur Rasyidin sepeninggalku. Peganglah sunnah tadi erat-erat dan gigitlah dengan taringmu. Dan waspadailah setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat. (H.R Abu Dawud no 4607 Ibnu Majah no 42 , Ahmad no 16521,16522 dan Ad Darimi no 95; ini adalah lafazh Abu Dawud dan dishahihkan oleh Al Albani, lihat: Shahih wa Dha’if Sunan Abi Dawud).

 

Apabila menghukumi bid'ah, maka ada 3 syarat nya : 

 

1. Sesuatu itu baru

2. Dalam perkara agama

3. Tidak berlandaskan dalil yang syar’i 

 

Misal, Narkoba. 

1. Adakah di zaman nabi? Tidak ada

2. Apakah ini termasuk perkara agama? Tidak, karena ini perkara dunia. 

3. Apakah ada dalil syar'i nya? Tidak ada. 

 

Berarti boleh dong untuk Narkoba? Kan nggak ada dalilnya. Ini adalah salah fatal. Bahwa dalil syar'i juga ada yang melalui qiyas. Diqiyaskan dengan zat yang sama pada zaman Nabi yaitu Khamr. 

 

*Macam-Macam Bid'ah*

 

1. Setiap Bid'ah adalah sesat. 

 

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda : 

 

 وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

 

 “Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat“. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].

 

2. Tidak semua Bid'ah itu sesat, karena Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah memerintahkan untuk sholat tarawih berjamaah. 

 

Sudah dijelaskan di atas, bahwa yang Umar bin Khattab maksud adalah menurut bahasa, bahwa dulu memang tidak ada di zaman nabi, tetapi sekarang ada, ini adalah baik. Karena Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memerintahkan untuk mengikuti sunnah umat setelah Beliau, yaitu Khulafaur Rasyidin. 

 

Sebagian orang menganggap bahwa bid’ah ada dua bid’ah yaitu hasanah ( baik ) dan bid’ah sayyi’ah ( Jelek ). Padahal Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ mengatakan bahwa bid'ah adalah sesat. Apakah kita lebih pintar dari Nabi? Apakah kita lebih mulia dari sahabat? Tidak wahai saudaraku. Kita diperintahkan untuk mengikuti Nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم dan menjauhi larangannya. 

 

أنْ شَاءَ اللّهُ bersambung...

 

 

والله أعلمُ بالـصـواب

بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْْ

 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

 

 

(Diringkas oleh : Hilmi - Gohijrah)

KOMENTAR