(Merujuk pada Kitab Tauhid - Pemurnian Ibadah Kepada Allah, Syaikh Muhammad At-Tamimi)

 

Kajian Rutin Selasa Malam - Gohijrah

Oleh : Al Ustadz Ma'ruf Nursalam, Lc ﺣَﻔِﻈَﻪُ ﺍﻟﻠﻪ

 

Kajian Islam Rutin - Gohijrah

Selasa, 16 Rabiul Akhir 1442 H / 1 Desember 2020

Masjid Jami' Mekkah Surabaya

 

أعوذُ باللهِ السَّمِيعِ العَلِيمِ مِنَ الشيطانِ الرَّجِيمِ

بِسْمِ اللهِ الّرحْمنِ الّرحِيْمِ

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

رَِبِّيْ زِدْنِي عِلْماً وَارْزُقْنِي فَهْمًا

 

 

Bab 19. Penyebab Utama Kekafiran Adalah Berlebih-lebihan Dalam Mengagungkan Orang-orang Sholeh

 

 

※ Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

 

يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْـنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَـقَّ ۗ اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَلِمَتُهٗ ۚ اَ لْقٰٮهَاۤ اِلٰى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِّنْهُ ۖ فَاٰ مِنُوْا بِا للّٰهِ وَرُسُلِهٖ ۗ وَلَا تَقُوْلُوْا ثَلٰثَةٌ ۗ اِنْتَهُوْا خَيْرًا لَّـكُمْ ۗ اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ ۗ سُبْحٰنَهٗۤ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗ وَلَدٌ ۘ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ ۗ وَكَفٰى بِا للّٰهِ وَكِيْلًا

"Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh, Al-Masih 'Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka, berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, (Tuhan itu) tiga, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung." (QS. An-Nisa' 4: Ayat 171)

 

Inti dari tauhid adalah keikhlasan, pengakuan bahwasanya Allah adalah sebagai satu-satunya Tuhan dan sebagai satu-satunya sesembahan.

 

Manusia pertama yang diciptakan Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى adalah Adam, di masa itu, ketauhidan kepada Allah sangat kokoh di kalangan manusia, kecuali Iblis, yang menolak taat kepada perintah Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى. Iblis dikutuk oleh Allah karena walaupun dia mengakui Allah sebagai Tuhan, tetapi iblis tidak mau taat beribadah kepada Allah.

 

※ Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

 

قَا لَ مَا مَنَعَكَ اَ لَّا تَسْجُدَ اِذْ اَمَرْتُكَ ۗ قَا لَ اَنَاۡ خَيْرٌ مِّنْهُ ۚ خَلَقْتَنِيْ مِنْ نَّا رٍ وَّخَلَقْتَهٗ مِنْ طِيْنٍ

"(Allah) berfirman, Apakah yang menghalangimu (sehingga) kamu tidak bersujud (kepada Adam) ketika Aku menyuruhmu? (Iblis) menjawab, Aku lebih baik daripada dia. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah."

 

قَا لَ فَاهْبِطْ مِنْهَا فَمَا يَكُوْنُ لَـكَ اَنْ تَتَكَبَّرَ فِيْهَا فَا خْرُجْ اِنَّكَ مِنَ الصّٰغِرِيْنَ

"(Allah) berfirman, Maka, turunlah kamu darinya (surga); karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah! Sesungguhnya kamu termasuk makhluk yang hina."

 

قَا لَ اَنْظِرْنِيْۤ اِلٰى يَوْمِ يُبْعَثُوْنَ

"(Iblis) menjawab, Berilah aku penangguhan waktu, sampai hari mereka dibangkitkan."

 

قَا لَ اِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِيْنَ

"(Allah) berfirman, Benar, kamu termasuk yang diberi penangguhan waktu."

 

قَا لَ فَبِمَاۤ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَ قْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَا طَكَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ 

"(Iblis) menjawab, Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus," (QS. Al-A'raf 7: Ayat 12-16)

 

Ibnu Abbas رضي الله عنه meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa kesyirikan tidak pernah terjadi selama 10 abad pertama sejak Nabi Adam عليه السلام. Namun kemudian setelah itu pemahaman ilmu agama yang benar lambat laun semakin hilang di kalangan umat manusia.

 

Orang-orang sholeh yang ada di kala itu satu per satu meninggal dunia, dan kemudian para pengikutnya memulai suatu tradisi pengagungan kepada orang-orang sholeh yang telah meninggal tersebut.

 

Pengagungan tersebut diawali dengan membangunkan kuburannya, berkunjung ke kuburannya, beri'tikaf dan berdoa di kuburannya, mendirikan patung-patungnya kemudian melakukan pemujaan (penyembahan) terhadapnya dan melakukan 'ied pada waktu-waktu tertentu di sana serta mengajak masyarakat untuk melestarikannya.

 

Pendirian patung-patung tersebut awalnya adalah dengan niatan untuk menambah semangat dalam beribadah kepada Allah ketika mengingat mereka (orang-orang sholeh). Namun dengan penuh kesabaran, iblis akhirnya berhasil menghasut umat manusia hingga terjerumus kepada kesyirikan.

 

Beberapa nama orang-orang sholeh di jaman itu adalah Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq maupun Nasr.

 

Dalam surat An-Nisa ayat 171 di atas, Allah berfirman sembari melarang umat Yahudi dan Nasrani (ahli kitab) untuk berbuat ghuluw,

لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ

“Janganlah kamu bersikap ghuluw (melampaui batas/berlebih-lebihan) dalam agamamu (dalam bentuk apapun)."

 

Umat Yahudi ghuluw dan menganggap ‘Uzair adalah anak Allah (QS At-Taubah : 30). 

 

Umat Nasrani ghuluw terhadap Nabi ‘Isa dengan : Menganggap ‘Isa adalah Allah itu sendiri (QS Al-Maidah : 17); Menganggap ‘Isa adalah anak Allah (QS Maryam : 88-89); Menganggap ‘Isa adalah satu dari yang tiga (QS Al-Maidah : 73);

 

Kekafiran Yahudi dan Nashrani awalnya karena sikap ghuluw terhadap orang sholeh, sehingga mengantarkan mereka kepada kesyirikan. Dan kesyirikan adalah bertentangan dengan dengan ketauhidan.

 

※ Dari Anas رضي الله عنه ia berkata, “Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi ﷺ untuk bertanya tentang ibadah Beliau ﷺ. Lalu setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah Beliau ﷺ), mereka menganggap ibadah Beliau itu sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi ﷺ! Beliau ﷺ telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.” Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.” Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.”

 

Kemudian, Rasulullah ﷺ mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allâh! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepada-Nya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (Shahih Bukhari & Muslim)

 

※ Rasulullah ﷺ bersabda,

 

إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ الغُلُوُّ

“Jauhilah oleh kalian sikap berlebih-lebihan, karena sesungguhnya sikap berlebihan itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.” Dan dalam shahih Muslim, Ibnu Mas’ud berkata: bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُوْنَ- قَالَهَا ثَلاَثًا

“Binasalah orang-orang yang bersikap berlebih-lebihan.” (diulanginya ucapan itu tiga kali).

 

 

Bersambung إِنْ شَاءَ اللّهُ...

 

والله أعلمُ بالـصـواب

بَارَكَ اللَّهُ فِيْكُمْْ

 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

 

(Diringkas oleh : Isfanz Rozyn - Hilmy Gohijrah)

KOMENTAR