أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

رَِبِّيْ زِدْنِي عِلْماً وَارْزُقْنِي فَهْمًا

 

 

※ Kita semua telah sama-sama mengetahui bahwa hari natal dan tahun baru (masehi) bukanlah bagian dari keyakinan dan hari raya dalam ajaran islam.

 

Umat islam dilarang untuk turut serta merayakannya dan bertasyabbuh atasnya.

 

● Tatkala Nabi ﷺ datang ke Madinah, Beliau mendapati penduduk Madinah merayakan dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah, maka Beliau bersabda : 

 

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ بِهِمَا فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ فَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ يَوْمَيْنِ خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

 

“Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya yang kalian bermain-main di dalamnya pada masa jahiliyah, dan Allah telah menggantikan keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian : “Hari raya kurban dan hari berbuka.”. [HR Imam Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i]

 

Tahun baru masehi asal muasalnya merupakan perayaan hari besar bagi umat majusi (nairuz, perayaan awal tahun baru masehi/syamsiyyah).

 

Sedangkan natal, merupakan perayaan hari besar bagi umat nasrani.

 

Bagi umat islam yang turut serta dalam perayaan kedua hari raya tersebut, maka ia termasuk mengada-adakan perkara baru dalam ajaran islam.

 

● Nabi ﷺ bersabda : 

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

 

“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum tersebut”. [HR. Ahmad, Abu Dawud, dan lainnya]

 

Bentuk bertasyabbuh dalam perkara yang dimaksudkan di atas, misalnya : menggunakan kostum sinterklas; meniup terompet, mengucapkan selamat kepada umat lain yang berhari raya, dll. Hukum kesemuanya adalah haram.

 

Justru umat islam diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ untuk menyelisihi perilaku tersebut. Dan inti dari penyelisihan tersebut adalah berkaitan dengan keyakinan dan ketaatan umat islam kepada Allah ﷻ.

 

● Nabi ﷺ, Beliau bersabda,

 

خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ

 

“Selisihilah kaum musyrikin, biarkanlah jenggot, pendekkanlah kumis” (Muttafaqun ‘alaih)

 

● Dari Ibnu Abbas رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda (terkait puasa asyura),

 

خَالِفُوا الْيَهُودَ وَصُومُوا يَوْمًا قَبْلَهُ وَ يَوْمًا بَعْدَهُ

 

“Selisihilah orang Yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya.” (HR. Ahmad)

 

Turut serta dalam perayaan hari besar selain hari besar umat islam, hakikatnya adalah bentuk kesetiaan dan persaksian atas kekufuran terhadap Allah ﷻ.

 

Keberadaan aparat pemerintah, seperti polisi, yang menjaga keamanan pelaksanaan perayaan hari raya umat lain, bukanlah bentuk tasyabbuh, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab menjaga keamanan secara umum.

 

Namun pelaku tasyabbuh, bukan serta merta dihukumi sebagai kafir, tetapi dia telah berbuat dosa besar.

 

 

※ Berkaitan dengan muamalah yang terjadi pada hari-hari menjelang perayaan hari raya natal dan tahun baru, hukum asal bermuamalah dengan orang kafir adalah mubah (diperbolehkan).

 

● Dari ‘Aisyah رضي الله عنها, Beliau berkata,

 

وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ بِثَ ثَالِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ x تُوُفِّيَ رَسُولُ اللهِ

 

“Rasulullah wafat, sedangkan baju perang beliau masih digadaikan kepada seorang Yahudi dengan nilai tiga puluh sha’ gandum." (HR. Bukhari, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah)

 

● Dari Aisyah رضي الله عنها, beliau berkata: 

 

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اشْتَرَى مِنْ يَهُودِيٍّ طَعَامًا إِلَى أَجَلٍ مَعْلُومٍ، وَارْتَهَنَ مِنْهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيدٍ

 

"Sungguh Nabi ﷺ membeli bahan makanan dari seorang Yahudi dengan hutang dan orang yahudi mengambil baju besi beliau sebagai gadai jaminannya." [HR. Al-Bukhari]

 

● Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman:

 

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّا مِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَآءَ بِا لْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰ نُ قَوْمٍ عَلٰۤى اَ لَّا تَعْدِلُوْا ۗ اِعْدِلُوْا ۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰى ۖ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 8)

 

● Dari A’isyah رضي الله عنها, Nabi ﷺ menuturkan,

 

مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

 

“Jibril selalu berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira, tetangga akan ditetapkan menjadi ahli warisnya.” (HR. Bukhari 6014 dan Muslim 2624)

 

Berkaitan dengan bermuamalah dengan orang kafir, ketika perayaan hari raya orang kafir, fatwa ulama adalah memperbolehkannya dengan dua syarat :

 

1. Tidak berjual beli barang (dan jasa) yang digunakan untuk bermaksiat kepada Allah. Misal : Tidak boleh menjual makanan & minuman yang jelas diketahui untuk kegiatan perayaan hari raya orang kafir.

 

2. Tidak boleh membeli sesuatu yang dipakai oleh umat muslim untuk bertasyabbuh. Misal : Menjual terompet, topi sinterklas, dll yang dipakai umat muslim bertasyabbuh ke dalam perayaan orang kafir.

 

Membeli dan menjual sesuatu yang di dalamnya muncul diskon ataupun hadiah, hukumnya adalah boleh. Termasuk menghadiri pasar dan berjual beli di situ, juga diperbolehkan, selama tidak berkaitan dengan peribadatan orang kafir tersebut.

 

والله أعلمُ بالـصـواب

 

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ ، أشْهَدُ أنْ لا إلهَ إِلاَّ أنتَ ، أسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إليكَ

 

 

Kajian Islam Rutin Gohijrah

Masjid Jami Mekkah - Surabaya

Oleh : Ustadz Andy Fahmi Halim, Lc, MH

Kamis, 25 Rabiul Akhir 1442 H / 10 Desember 2020

 

(Diringkas oleh : Isfanz Rozyn - Hilmy - Gohijrah)

KOMENTAR